Bastian berkali-kali mengecek handphone yang berada dalam genggamannya, sebuah pesan atau panggilan telepon sangat ia harapkan dari seorang perempuan yang membuat perasaannya menjadi tidak karuan sejak kemarin, di mana mereka terakhir kali bertemu. Banyak sekali pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya dan ingin sekali ia tanyakan langsung pada Amora, namun saat mengingat raut wajah Amora yang begitu menunjukkan kesedihannya membuat Bastian harus menahan rasa ingin tahunya.
Ceklek
Pintu markas yang terbuka serta ketiga temannya yang menghampiri dirinya, tak membuat dirinya melepaskan pandangan dari handphone yang sedari tadi berada di dalam genggamannya. Sungguh, ia benar-benar menunggu seorang perempuan itu menghubunginya, sekalipun perempuan itu mengatakan bahwa dirinya-lah penyebab dari kesedihan yang perempuan itu alami.
"Gimana, aman? Nggak ada luka serius dari kecelakaan kemarin?" tanya Aghas seraya mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah Bastian.
"Aman, makanya kemarin gue minta nggak perlu dijenguk dan nggak bilang ke siapapun" jawab Bastian seraya menatap tajam ke arah sang empu yang memberi tahu kejadian kemarin kepada Amora.
Putra yang merasa memberi tahu hanya menggaruk lehernya yang tak gatal sama sekali seraya mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam Bastian yang berada di depannya.
"Syukur kalau lo nggak ada luka serius, tapi gue perhatiin luka-lukanya kebanyakan di area wajah lo, Bas? Helm lo kelepas waktu kecelakaan kemarin?" pertanyaan yang dilontarkan oleh Issa membuat Aghas dan Putra ikut memperhatikan luka-luka yang berada di wajah Bastian, sedangkan Bastian yang merasa terpojokkan langsung berusaha menutupi kebohongannya itu agar tidak diketahui oleh teman-temannya.
"Helm gue kelepas pas jatuh dan wajah gue duluan yang nyentuh aspal" Bastian berusaha meyakinkan teman-temannya itu, padahal sudah sangat jelas bahwa luka-luka di wajahnya itu tidak seperti luka kecelakaan namun seperti luka pukulan.
Melihat ketiga temannya seakan terhanyut dalam pikiran masing-masing atas jawaban yang dirinya berikan, Bastian pun langsung memikirkan suatu hal yang dapat mengalihkan kebohongannya itu.
"Kabarin anggota Graventas buat ketemu di tempat biasa malem ini" titah Bastian setelah bersusah payah mencari suatu hal yang dapat mengalihkan pembahasan sebelumnya.
"Malem ini? Lo yakin dengan kondisi lo yang masih kaya gitu, Bas?" tanya Putra, kembali memastikan bahwa ucapan Bastian adalah hal yang benar-benar ia inginkan.
"Lo ngeraguin gue?" Sebelah sudut bibir Bastian terangkat, laki-laki itu bangun dari duduknya lalu mendekat ke arah Putra.
"Gue nggak ada maksud kaya gitu, gue cuma kha–" Ucapan Putra terpotong kala merasakan sakit yang menjalar pada kaki sebelah kirinya, sepatu yang melindungi kakinya tak mampu menahan rasa sakit atas injakan kaki yang dilakukan oleh Bastian saat ini.
"Lakuin aja kaya yang biasa lo lakuin dan nggak perlu ngeraguin gue kaya gitu." ucap Bastian penuh dengan penekanan seraya memberikan tatapan tajam pada Putra.
"Gue akan kabarin anggota Graventas" kalimat yang keluar dari bibir Putra mampu membuat Bastian berhenti dengan apa yang dilakukannya dan menjauhkan kakinya dari atas kaki Putra.
Bastian merapikan seragam yang Putra kenakan lalu menepuk pundaknya pelan sebelum benar-benar pergi meninggalkan ketiga temannya itu. "Bagus"
♾️♾️♾️
TUGH
Bola kecil bewarna putih melambung cukup jauh, tak lama setelah bola tersebut terdampar di lapangan yang berwarna hijau itu, bola selanjutnya kembali melambung dengan sempurna.
KAMU SEDANG MEMBACA
VENOMOUS
Подростковая литература[ Cover Design by @jeasy_art ] Renggala Bastian Bratadikara, seorang laki-laki yang sangat berpengaruh pada salah satu sekolah bergengsi di ibu kota Jakarta, Zervard High School. Bastian memanfaatkan posisi dirinya yang berada di kasta pertama untuk...
