Langit sore begitu memanjakan mata bagi siapa saja yang melihatnya, namun berbeda dengan Amora yang terlihat tidak mempedulikan sekitarnya, hanya terfokus dengan tujuannya untuk menemui Bastian yang berada di rumah sakit. Amora tidak diberikan izin untuk menemui Bastian saat masih jam pelajaran tadi, jadi ia baru menemui Bastian setelah pulang sekolah.
Langkah demi langkah membawa Amora memasuki rumah sakit, rasa khawatir itu masih saja menyelimuti dirinya, padahal di samping itu dirinya sudah berusaha dengan susah payah untuk membuang perasaan itu jauh-jauh. Tak lama langkah Amora terhenti kembali kala melihat sosok laki-laki yang akan ditemuinya itu tengah berjalan dari arah yang berlawanan.
Seragam sekolah masih terpasang pada tubuh Bastian, namun seragamnya terlihat sangat berantakan dan kotor, selain itu terdapat beberapa perban yang menempel pada wajahnya disertai banyaknya lebam yang tidak bisa disembunyikan dan terlihat begitu jelas. Untuk pertama kalinya Amora merasakan hatinya di dalam sana begitu aneh, rasa sakit tiba-tiba ia rasakan kala melihat kondisi Bastian yang begitu mengenaskan, padahal Amora menyadari hal itu tidak boleh ia rasakan, terlebih pada Bastian.
"Amora?"
Amora tersadar dari lamunannya kala suara yang sangat dikenalinya itu menyebut namanya, dirinya benar-benar tenggelam dengan pikiran serta perasaannya hingga tak sadar Bastian sudah berada di hadapannya saat ini.
"Apa yang lo lakuin di sini?" Bastian kembali angkat bicara.
"Lo bilang sama gue kalau lo dateng telat bukan kecelakaan, Bastian" ucap Amora dengan suara yang sedikit begetar.
"Lo tau dari mana gue ...." Bastian menggantungkan ucapannya seraya mencari tahu bagaimana bisa Amora mengetahuinya dan bisa berada di sini, padahal ia sudah meminta pada teman-temannya untuk tidak memberi tahu Amora. "Temen gue kasih tau, lo?" sambungnya.
"Apa itu penting, Bastian? Apa salah kalau gue tau dengan apa yang terjadi sama lo? Apa gue nggak boleh tau dengan apa yang terjadi sama lo sekarang ini, hah?" menyadari Bastian seakan menutupi dengan apa yang terjadi sebenarnya membuat amarah Amora mulai naik.
"Gue nggak ada maksud kaya gitu. Gue juga tadi terpaksa ngasih tau temen-temen gue kalau bukan mereka yang tanya gue duluan. Gue juga nggak kenapa-kenapa, nggak ada luka serius cuma luka-luka kecil makanya gue sengaja nggak kasih tau siapapun termasuk lo" jelas Bastian seraya menunjukkan bahwa dirinya memang tidak memiliki luka yang serius. "Kalaupun gue kasih tau lo, nggak mungkin lo khawatir, kan?"
Amora terdiam, benar apa yang diucapkan oleh Bastian, di mana seharusnya Amora memang tidak perlu mengkhawatirkan Bastian, terlebih selama ini yang orang lain nilai bahwa dirinya membenci Bastian, jadi seharusnya perasaan khawatir itu tidak muncul. "Oke kalau nggak ada yang serius, gue mau pulang" ucap Amora seakan membenarkan apa yang Bastian tanyakan tadi di mana dirinya memang tidak khawatir.
Sebelah alis Bastian terangkat, ia tidak mengerti dengan tingkah perempuan di hadapannya saat ini. Sebelumnya Amora terlihat seperti khawatir, namun kini Amora terlihat seakaan tidak khawatir lagi padanya. Melihat Amora hendak membalikkan tubuh, Bastian pun menahan tangan Amora dengan tangan kekar miliknya. "Lo nggak mungkin jauh-jauh ke sini tanpa tujuan, kan? Motor gue rusak, bisa lo anter gue pulang?"
Mendapati Amora yang terdiam dan tidak ada respon, membuat Bastian mengaitkan sebelah tali tasnya pada pundak Amora, serta memberikan obat yang telah didapatinya tadi pada Amora. Tentu hal yang dilakukan oleh Bastian membuat kedua mata Amora membulat sempurna, sedangkan sang empu yang melakukannya melenggang pergi dengan sebelah bibir yang terangkat.
♾️♾️♾️
Mobil yang Amora dan Bastian tumpangi terhenti di rumah milik Bastian, Amora memang sengaja berangkat sekolah tadi menggunakan mobil karena melihat kondisi langit yang sedikit mendung namun nyatanya itu hanya mendung semata dan tidak turun hujan. Tak lama, melihat Bastian yang turun lebih dulu membuat Amora juga ikut turun dari mobil.
KAMU SEDANG MEMBACA
VENOMOUS
Teen Fiction[ Cover Design by @jeasy_art ] Renggala Bastian Bratadikara, seorang laki-laki yang sangat berpengaruh pada salah satu sekolah bergengsi di ibu kota Jakarta, Zervard High School. Bastian memanfaatkan posisi dirinya yang berada di kasta pertama untuk...
