FORGIVE ME
.
.
.
.
HAPPY READING
Rumah yang biasanya menampakkan keindahan dengan ketenangan yang ada di dalamnya, kini tidak pernah dirasakan lagi setelah dua tahun lamanya. Orang tersayang yang selalu menjadi rumah dan pendengar yang baik, kini telah pergi ke surga sana.
Jovan meraung meminta ampunan dari pria dewasa yang kini tengah memukuli punggungnya menggunakan sabuk. Jovan merasakan sakit yang luar biasa ketika sabuk terus itu terus-menerus mendarat di punggung. Rasanya ingin sekali meminta kepada Tuhan agar mengambil nyawanya detik ini juga.
Ketenangan yang dulu Jovan rasakan ketika ada sang ibu, kini telah sirna bagai ditelan bumi. Jovan tak pernah lagi merasakan ketenangan dan bahagia. Seorang pria bertubuh jangkung yang tak lain adalah sang ayah kini tak lagi memberi kebahagiaan setelah ibunya pergi.
Jovan lelah dengan semua. Menutup seluruh kesedihan dan rasa sakit di depan semua orang membuat ia merasa begitu lelah dan menyakitkan. Rasanya, Jovan ingin sekali melawan dan mengobrak-abrik rumahnya detik itu juga. Namun, jika saja ia melakukan itu maka ia akan mendapat hukuman yang lebih menyakitkan.
"Stop Ayah! Ini sakit!" pekik Jovan sembari bersujud tepat di hadapan kaki sang ayah.
Jovan sebenarnya benci sekali jika harus melakukan ini. Tapi jika tidak, maka ia akan terus mendapatkan pukulan yang bertubi-tubi. Hanya salah ketika pulang tadi saja, Jovan sudah mendapatkan siksaan yang seperti ini.
Jovan rasanya ingin sekali pergi dari rumah yang sudah tak ia temukan lagi ketenangannya. Harusnya di umurnya yang sekarang ini, Jovan bisa mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan yang lebih, tetapi lihatlah sekarang. Ia memiliki ayah yang seolah sudah hilang peran. Jarang berada di rumah, namun sekalinya pulang, Jovan selalu mendapatkan pukulan.
"Ayah, Jovan capek! Stop buat pukul Jovan! Ini sakit!" Jovan memegang kaki sang ayah dengan cukup kuat.
Dafid selaku ayah dari Jovan pun menatap tajam putranya. Tatapannya seolah meminta agar Jovan diam detik itu juga. "Kamu bisa diam?! Dasar anak pembangkang! Kerjaan kamu hanya main saja! Sudah tau kalau Ayah hanya punya kamu untuk meneruskan perusahaan! Tapi kamu justru bermalas-malasan seperti ini! Mau jadi anak kayak apa kamu?!"
Jovan mengepalkan kedua tangannya kuat. Ia merasa tidak kuat lagi jika harus menahan seluruh emosi yang dirasa. Ia mendongak menatap wajah ayahnya dengan tajam.
"Ayah selalu memikirkan perusahaan tanpa mau memikirkan anakmu ini yang butuh kasih sayangmu juga! Buka mata Ayah! Ayah selalu pukul Jovan kalau pulang, padahal Jovan juga mau lihat sikap baik Ayah kayak dulu lagi!"
Dafid tersenyum remeh ketika mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Jovan barusan. "Anak seumuran kamu tuh emang hobi banget merasa paling tersakiti, ya?! Nggak usah banyak bicara kalau di depan Ayah! Ayah cuma mau kamu jadi anak yang pintar!"
"Percuma Jovan pinter! Itu semua hanya untuk kebahagiaan Ayah doang! Jovan nggak akan pernah merasa bahagia kalau Ayah terus-menerus kayak gini! Jovan capek!" Jovan melenggang pergi dari hadapan ayahnya dengan emosi yang menggebu.
Di depan rumah, Jovan dengan cepat memakai helm sebelum sang ayah muncul di hadapannya lagi. Jovan begitu muak mendengar alasan demi alasan yang selalu tentang perusahaan. Ayahnya itu tak pernah memikirkan bagaimana rasanya jika sosok ayah justru tak pernah sayang pada anak satu-satunya. Jovan begitu malas mendengar celotehan sang ayah. Maka dari itu ia lebih memilih untuk pergi saja dari rumahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forgive Me
Teen FictionPerihal gadis yang menjadi bahan untuk meluapkan emosi. Gadis yang menahan emosinya sendiri. Gadis yang selalu bingung harus berpulang ke mana. Ketenangan seolah tak pernah berpihak pada gadis itu. Masalah keluarga, teman, dan masalah yang lainnnya...
