[REVISI]
Dendam dan Cinta?
Keduanya merupakan hal yang berbeda. Dua kekuatan yang bertolak belakang namun sama-sama menghancurkan. Mereka seperti dua arus yang berlawanan, namun membawa perubahan yang tidak terduga. Ketika keduanya hadir diwaktu ya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Melirik sekilas, gadis itu mengabaikan kedatangan seseorang disampingnya. Ia tetap mengarahkan pandangannya pada ponsel yang tengah menyala. Mengetik satu pesan disana, tanpa ada balasan apapun. Cukup lama terdiam disana, ia tak sekalipun berniat akan pergi.
" Gue anterin, mau pulangkan?" ujar orang itu, memandang Nazia yang belum merespon.
" Enggak perlu, gue bisa pulang sendiri. " Nazia berjalan pergi, menghindari Alfan yang tiba-tiba baik padanya.
Lelaki itu tersenyum samar, mengikuti langkah Nazia yang entah akan kemana. Keduanya terus berjalan dengan Alfan yang menunduk mengikuti langkah gadis itu. Jalanan yang cukup sepi, dan terpaan angin sore membuat mereka hanyut dalam keheningan. Tau dengan Alfan yang terus mengikutinya, Nazia menghentikan langkah kakinya mendadak. Sementara Alfan, ia tak sadar akan hal itu. Membuatnya menabrak punggung Nazia yang diam di depannya.
" Berhenti ikutin gue, " balas Nazia kembali melanjutkan jalannya yang penuh emosi.
Menghela napas kecil, Alfan mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu. " Kadang, bingung gue sama lo."
" Kenapa? " tanya Nazia, tidak sedikitpun menolehkan kepalanya.
" Debat sama gue aja lo nggak mau kalah. Giliran sama si ketan-ketan itu, lo kayak mendadak bego tau nggak sih? " ujar Alfan, ia hanya berucap dengan apa yang hatinya tanyakan.
" Sialan lo, lemper! "
Alfan tertawa lagi, kali ini tawanya lebih keras. Tidak jauh berbeda dengan Alfan, Nazia juga ikut tertawa. Mereka, seperti dua orang yang saling menghibur. Tawanya keras, tapi siapa yang tau keadaan mereka sebenarnya. Bahkan yang setiap harinya selalu berdebat, kini mereka justru tertawa karena sebuah hal kecil. Sedikit sulit untuk dijelaskan, tapi biarlah mereka menikmati itu.
Menghentikan tawanya Alfan kembali memusatkan tatapannya pada gadis disamping. " Gue anterin lo pulang, beli es cream dulu, gimana? "
Gadisnya tidak menjawab, ia justru menatap balik Alfan dengan penuh tanya. Sementara lelaki itu sendiri, dia kebingungan dengan ucapannya barusan. " Ya, anggap aja gue lagi baik mau traktir lo. "
" Boleh, asalkan jangan ajak gue debat untuk kali ini? " seru Nazia yang dibalas anggukan dari Alfan.
" Oke, lo tunggu sebentar disini, gue mau ambil motor dulu. " Setelah kalimat itu terlontar, Alfan berlari kecil kearah sekolah. Jaraknya tak terlalu jauh, ya walaupun kalau harus jalan lumayan melelahkan juga.
☆
Gelapnya malam sudah datang, menemani kedua insan yang masih dalam perjalanan. Mereka diam dalam hanyutan pemikiran masing-masing. Setelah tawaran Alfan tadi, mereka benar-benar membeli es cream. Alfan membawa gadis itu kesebuah toko es cream yang biasa dia kunjungi bersama Gerdan-