Dalam satu ruangan yang minim akan pencahayaan, terdengar suara perdebatan diantara kedua orang yang sepertinya sama sama keras kepala. Sendari tadi tidak ada yang mau mengalah dalam perdebatan tersebut.
"Aku gamau, Sejak awal yang aku suka itu egie bukan kamu. Kenapa kamu ga ngerti ngerti si?!." Terdengar lah tawa hambar dari lawan debatnya yang kini bersidekap sembari menyender pada kabin lemari.
"Kamu emang suka dia, tapi kamu milik aku sepenuhnya. Inget, di rahim kamu ada benih aku." Ucapan tersebut membuat orang kedua yang berada dalam ruangan itu pun mengumpat kasar dan berulang kali merapalkan kalimat makian.
"Fuck, i hate you."
"I love you too baby girl." Balas orang tersebut sembari menarik senyum liciknya
"And then, hentiin semua rencana yang kamu punya. kamu tau resikonya kan?, aku ga segan segan buat siksa kamu. Baby girl."
"Kenapa, kenapa harus aku hentiin?, aku harus rebut apa yang seharusnya jadi milik aku." Ucapnya dengan tatapannya yang penuh tekad
"Jadi kamu lebih memilih buat aku siksa ya, okey baby girl." Dengan segera orang tersebut menarik lawan debatnya ke arah ranjang, bahkan ia juga mengambil sebuah borgol lalu dipakai kan di lawan debat nya itu. Sedangkan kuncinya ia lemparkan ke atas lemari.
"Come on baby girl, kita bakalan kabulin permintaan mama kamu."
"Oh ya?, kamu pikir aku lemah?." Dengan sekuat tenaga ia pun menendang perut orang yang berdiri di hadapannya, dengan segera ia pun bangkit dari ranjangnya dan berusaha meraih kunci borgol yang berada di atas lemari.
Disela sela kesibukannya mencari kunci, sosok yang ia tendang kini kembali bangkit sembari memegangi perutnya. Dengan perlahan sosok itu mendekati nya dengan senyuman licik, merasa ancaman mendekat ia pun lantas keluar dari ruangan itu guna menyelamatkan diri dari kejaran singa yang kelaparan.
Sia sia ia berlari, kini ia tertangkap dan tangannya pun di cengkram. Tanpa di duga duga kini tangan nya justru di lepaskan dari jeratan borgol.
"Aku beri kamu waktu, lari lah sekuat mu. Tapi inget, kamu cuman punya waktu 5 menit sebelum aku kembali memburu kamu, dan waktunya dimulai dari sekarang." Tanpa membuang waktu, orang tersebut kini melarikan diri dengan panik bahkan arahnya pun tidak terarah akan pergi kemana.
"Hazel, kamu cuman milik aku." Senyum licik kini kembali terukir di bibirnya. Rahangnya yang tegas, Tubuhnya yang tinggi, bahunya yang lebar, dan tangannya yang berurat. Sosok yang sempurna itu benar benar sangat terobsesi dengan hazel.
Disisi lain kelas IPS sedang sepi dan hening karena hari ini guru matematika tidak bisa masuk dan hanya memberi tugas kepada anak kelas IPS. Maka dari itu karena jam pun masih menunjukkan pukul 09.05 mereka jadi memilih untuk tidur namun ada pula yang sibuk dengan dunianya masing masing.
Sedangkan egie kini ia sedang terduduk di atas meja dengan sebuah handphone yang berada di tangan nya, namun tidak lama istrinya sekaligus pacar disekolah nya itu memanggil dirinya.
"Egie aku ga ngerti." Egie yang merasa namanya disebut pun menoleh, ia menatap istrinya dengan senyuman yang lebar.
"Ga ngerti hum, sini aku kasih tau nomer satu abis itu aku jelasin terus sisanya kamu kerjain sendiri. Okeyy manis?."
"Okeeyy pacar bayii kuu." Dengan segera egie pun menarik kursi dan diletakan tepat di samping istrinya itu. Kini tangan kirinya ia letakan di pinggang istrinya itu sementara tangan lainnya ia letakan di atas meja. Jangan lupa bahu nya pun ia tempel dengan punggung mungil istrinya, posisi mereka benar benar menempel.
"Kamu tulis soalnya dulu yaa, yang nomer satu dulu aja."
"Udaahh." Egie pun mengangguk dan kini ia membimbing istrinya itu untuk menulis jawaban soal matematika.
"Tulis dulu diketahui a sama dengan 8 dan r sama dengan 2."
"Udah?." gadis disampingnya pun mengangguk, kemudian egie kembali membacakan jawabannya.
"Lanjut tulis ditanya sn10, terus kamu tulis jawabannya un sama dengan 8 dikali r pangkat n dikurang satu garis baru un sama dengan 8 dikali 2 pangkat 10 dikurangi satu lanjut dibawahnya un sama dengan 8 dikali 2 pangkat 9."
"Kamu jumlahin dulu 2 pangkat 9 nya." Dengar segera Lala mengetik angka angka di kalkulator nya.
"Emmm 512 bukan?." mendengar itu egie pun lantas tersenyum dan mengelus puncak kepala gadisnya itu.
"Iyaa sayangkuu, sekarang kamu tulis un sama dengan 8 dikali 512 baru dibawahnya kamu tulis u10 sama dengan 4.096." Egie dengan telaten membacakan jawaban dari soal matematika nya itu.
"Sekarang giliran aku jelasin yaaa, dengerin baik baik ya sayang."
"Jadi a itu suku pertama dari deret nya, di soalnya kamu bisa liat kan 8...16...32...64 dan yang lainnya, nah r itu rasio, rasio itu jumlah yang jadi perkalian nya buat suku suku selanjutnya, cara tau rasionya gimana?, caranya kamu bagi antara suku yang paling besar dan suku paling kecil dan kamu bebas pilih sukunya."
"Tapi tadi aku udah coba cari rasio, hasilnya beda tapi." Ucapan Lala itu pun membuat egie mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjukkan oleh istrinya itu.
"Nah kalo ini ada sedikit kurang tepat dalam hitungan nya, jadi cantikkuu kalo rasio ini di bagi yaa kalo cari beda baru dikurangin, selebihnya kamu udah tepat kok dalam pemilihan suku nya."
"Jadi aku salah pas dibaginya ya?." melihat wajahnya yang polos egie pun merasa gemas hingga ia pun memberikan kecupan di pipi istrinya itu.
"Ih egiee jangan kiss kiss, maluu." Ucap Lala yang kini pipinya sedikit memerah
"Kenapaa, kita dipojok kok. Gaada yang liat." Mendengar itu Lala pun lantas melihat ke sekelilingnya dan benar saja anak kelasnya hampir semuanya terlelap sedangkan yang lainnya sibuk dengan hp nya masing masing.
"Pada tidur, aku juga mau tidur." Lala pun lantas mengerucutkan bibirnya yang dimana hal itu membuat egie ingin sekali menerkamnya.
"Lanjut duluu, baru nanti tidur." Akhirnya egie kembali melanjutkan penjelasannya hingga Lala pun mengerti.
"Kerjain sampe no 4 ya, no 5 nya nanti aga sedikit beda karena harus di subtitusi dulu." Lala pun hanya mengangguk dan mulai mengerjakan soalnya.
Disisi lain, seorang gadis tengah bersembunyi dibalik sebuah mobil Rubicon yang terparkir di basement apartemen. Ia meringkuk dengan tatapannya yang cemas kesana kemari melihat luasnya lahan parkir tersebut.
"Sudah puas bermain petak umpet nya, gadis manis?." Suara tersebut membuat gadis itu terhenyak dan dengan perlahan berjalan mundur seiring dengan sosok bertubuh tinggi itu yang kian mendekat.
Baru saja gadis itu akan berlari namun tangannya di tarik,
"Terima takdir kamu, hidup kamu bakalan terus sama aku. Hazel."
"Engga, aku gamau. Lepasin aku." Dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri dari jeratan sosok tinggi itu, namun sayang kini ia justru diangkat bak karung beras. Ia pun kini merasa pusing karena posisinya itu, hingga lama kelamaan dirinya mulai lemas dan kehilangan tenaga nya.
Tidak lama dari itu, kini mereka berdua telah berada di dalam kamar sebuah apartemen dan tanpa perasaan sosok tinggi itu melemparkan hazel begitu saja ke atas ranjang.
"So?, kamu pilih kasar atau lembut?. Aku masih berbaik hati disini."
"Engga, aku gamau. AKU GAMAU." sosok itu pun mengangguk, ia pun segera melepaskan gesper yang melilit pinggang nya sendari tadi.
"Kamu memilih buat kasar ya, gapapa lagi pula kasar bisa bikin kamu nurut." Dengan kasar sosok itu pun menjambak rambut hitam panjang milik hazel, kemudian ia menciumi leher hazel dengan penuh hasrat.
Hazel menjerit merasakan lehernya digigit, ia menumpahkan air matanya. Seharusnya ia tidak menuruti pesan yang ia terima yang menyuruhnya untuk datang ke apartemen ini. Kini ia harus merelakan tubuhnya yang kembali dinodai, tapi itu sudah konsekuensinya yang sendari awal sudah mengganggu kehidupan keluarga sosok tinggi tersebut sehingga sekarang ia harus terikat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ga Sengaja Jodoh
Genç Kurgu"Aku ga bisa milih, karena aku cinta kalian berdua." "Alah dasar buaya Amazon." Futa, plis jangan salpak. Slow update.
