Chapter 2 ; Sang bintang?

1.4K 153 5
                                        

Mata tajamnya mengawasi lawan, mencari celah. Lawannya, sedikit lebih pendek namun gesit, berdiri dengan lutut sedikit menekuk, keringat mengalir di wajahnya, tangan terbuka lebar, siap menghadang setiap gerakan.

Mereka bergerak cepat, beradu strategi dan kecepatan di atas lapangan yang dipenuhi garis—garis pudar. Dentuman bola yang memantul dan decitan sepatu yang bersinggungan dengan permukaan lantai menjadi satu—satunya suara yang terdengar, mengisi keheningan. Setiap gerakan mereka penuh dengan intensitas gerakan crossover yang cepat, lompatan tinggi untuk mencapai ring, dan blokade tangan yang tajam menghentikan laju bola.

Di ujung lapangan, ring basket tampak seperti target yang tak kenal kompromi. Bola melesat, terpantul, dan kadang melingkar di bibir keranjang sebelum jatuh atau masuk, menghasilkan gemericik halus dari jaring yang menggantung di atas tiang besi. Meskipun hanya mereka berdua di sana, lapangan itu terasa seperti arena besar, di mana harga diri mereka dipertaruhkan untuk menentukan siapa yang paling hebat dalam olahraga ini.

"Huu! Hali cupu!" itu sorakan Taufan, cowok yang memiliki warna mata menyerupai permata blue shappire, ia sejak tadi menonton sambil memakan snack.

Blaze menyeka keringat dari wajahnya dengan handuk kecil, "aku yang menang kali ini," ucapnya sambil tersenyum lebar, menepuk bahu Halilintar.

Halilintar menghela napas panjang, masih mencoba mencerna kekalahannya meski dalam hati ia tidak menerima kekalahan ini, "tapi bukan karena kamu lebih jago,".

Blaze mengangkat alis, "kalau bukan karena aku lebih jago, terus kenapa?".

Halilintar memutar matanya, menoleh ke arah tribun penonton di mana Taufan sedang duduk sendirian sambil mengaduk es campur di tangannya. Halilintar bisa mendengar suara es yang berdenting pelan di dalam mangkuk itu, seolah—olah memanggilnya untuk datang.

"Itu karena ...".

Blaze mengikuti pandangan Halilintar ke arah Taufan, "karena es campur?".

Halilintar tersenyum kecut, tak suka ketika melihat Blaze yang sedang menahan tawa untuk tidak menertawakan Halilintar secara terang—terangan.

"Yuk, pulang." ajak Halilintar ketika melihat matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Sekolah juga mulai sepi, murid—murid yang mengikuti ekstrakurikuler sudah pulang satu persatu menuju rumah mencari perlindungan dari gelap malam yang akan datang.

Kendati Halilintar sebenarnya tidak mau pulang, ia tidak ingin bertemu dengan pria kriminal yang membuatnya terjauh dari jangkauan sang ibu, bahkan hingga sebelas tahun berlalu sejak hari itu ia masih belum kunjung bisa melihat rupa ibunya lagi.

Taufan berlari dari tribun menghampiri kedua temannya yang baru saja bersaing di olahraga yang tidak mereka kuasai. Namun, sebagai anggota di eskul basket Taufan akui jika kemapuan mereka lumayan juga. Omong—omong es campur dan snacknya sudah habis.

"By the way, Hali," Taufan angkat suara sambil menyilangkan tangan di depan dada, "aku denger minggu depan ada kompetisi renang antar sekolah, ya? Kamu ikut, kan?”

Halilintar menatap Taufan dengan sebelah alis terangkat, "kompetisi renang? Hmm, iya. Ngapain nanya?".

Taufan tersenyum, matanya berkilat penuh keyakinan, "ya jelas aku nanya. Kamu kan bintangnya eskul renang. Kayaknya lomba itu bakal kurang seru kalau kamu nggak ikut. Kemampuan berenang kamu kayak halilintar, cepat dan memukau.".

Blaze yang berdiri di samping Halilintar, menyela sambil tertawa kecil, "Halilintar? Kan emang namanya kocak!".

Taufan berdecak kesal karena tampaknya Blaze tak mengerti apa maksudnya, "gak gitu kadal gurun! Kamu liat sendiri kan waktu kompetisi renang tahun lalu pas kita masih SMP? Aku yakin Halilintar bakal bawa pulang medali lagi tahun ini.".

[✔] RANTAI LUKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang