Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 27 ; Panggil aku kakak

864 106 27
                                        

HAPPY READING!

Tak pernah terbesit dalam benaknya bahwa hari itu akan mengukir sebuah kenangan pahit yang mustahil untuk dihapus dengan mudah.

Masih ia ingat jelas bagaimana kecelakaan itu terjadi, ketika tubuhnya membentur aspal dengan keras, ketika darah terlukis di tubuh kakaknya.

Ia tak akan menyangkal bahwa luka yang diderita kakaknya lebih parah dibanding dirinya. Bahkan saat ini, kala dokter telah mengatakan ia boleh pulang, telinganya sama sekali belum mendengar kabar mengenai kakaknya.

Bahkan sang ibu yang menemaninya sejak beberapa saat lalu tampak bungkam, tak ada sepatah kata pun yang wanita itu ucapkan tentang Halilintar.

"Bu, aku nggak apa-apa. Jadi bolehkan aku ketemu Kakak?" tanyanya dengan penuh harap, setidaknya kali ini Mata harus menjawab dengan jelas pertanyaannya.

Mara mengulas senyum tipis, tangan kanannya terangkan untuk mengusap surai cokelat putranya. "Nanti ya, setelah kamu sembuh. Kakak juga nggak akan mau liat kamu masih kayak gini."

Gempa membuang napas kasar, benar-benar bosan dengan satu kalimat yang terus-terusan di dengan selama berada di rumah sakit.

"Yang sakit kaki aku, aku nggak apa-apa. Kakak juga nggak akan komen apa pun. Ibu, kan tahu Kakak orangnya gimana," tuturnya dengan nada kesal, pasalnya sudah terlampau muak dengan kalimat itu. Bahkan dokter pun mengatakan kata yang sama seperti Mara, begitu pula dengan Kuputeri dan Taufan yang menjenguknya tempo lalu.

Gempa sendiri baru tahu bahwasanya Taufan dan Beliung adalah anak dari Kuputeri. Selama ini jika ia ke rumah Kuputeri, ia tak pernah melihat keberadaan Taufan mau pun Beliung.


"Seandainya sesuatu terjadi sama Kakak, itu semua salah aku." Gempa memandang brace di lutut kanannya yang kata dokter harus ia kenakan selama beberapa waktu kedepan. "Andaikan setelah beli hadiah buat Gentar kita langsung pulang dan gak mampir ke sana kemari dulu, ini semua mungkin gak akan terjadi."


𓏲ּ ֶָ

Gentar memilih duduk di bibir ranjang milik kakaknya. Kasurnya dingin khas tempat yang telah lama tak disinggahi. Ia pandang sekitar, namun rasanya kosong.

Tatapannya teralih pada kotak di pangkuannya, benda yang ia dapat dari seseorang di rumah sakit hari itu. Katanya kotak ini terjatuh tak begitu jauh dari lokasi di mana kakaknya kecelakaan.

Ia menarik napas panjang sebelum membuka kotak itu perlahan. Meletakkan penutupnya di samping, ia lantas mengambil sebuah kertas yang ia yakini sebagai kartu ucapan.

Selamat ulang tahun Gentar, aku harap tahun ini menjadi awal dari kehidupan kamu yang lebih bahagia lagi.

Singkat, bahkan terkesan tak banyak kata yang disebutkan. Namun entah hanya dirinya yang terlalu lemah atau bagaimana, lelehan air mata lantas luruh membasahi kedua pipinya.

Ingatannya kembali ditarik paksa pada empat hari lalu, beberapa saat setelah kecelakaan terjadi. Di mana tubuh kakaknya dipenuhi oleh peralatan medis yang Gentar sendiri tidak tahu namanya apa.

Remaja itu tersenyum walau samar, kontras dengan luka—luka di tubuhnya. "Sekali aja ... panggil aku kakak, Gentar ..." ucapnya hari itu dengan terbata—bata.

[✔] RANTAI LUKACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang