Hai.
Mungkin chapter kali ini akan panjang.
Untuk yang sebelumnya udah baca, silakan baca akhiran nya aja ya. Dan untuk yang belum, bacanya dari awal.
Sekian.
☁🦪
Tak seperti di hari minggu biasanya, di mana Halilintar akan memilih jogging bersama Gentar. Kini anak pertama dari tiga bersaudara itu justru sedang bersama Gempa. Keduanya menyusuri trotoar yang tak lagi sepi.
Bising kendaraan terdengar dimana—mana. Padahal ini akhir pekan, tetapi orang—orang tetap berlalu lalang mengejar waktu. Beberapa menggunakan kendaraan dan lainnya berjalan kaki, persis seperti apa yang tengah Halilintar dan Gempa lakukan.
Tempat ini cukup jauh dari tempat mereka tinggal. Tak ada kicauan burung, segarnya udara saat pagi, bahkan pepohonan berdaun rindang yang biasa menjulang tinggi di sepanjang jalan. Hanya kendaraan dan orang—orang yang dapat mereka lihat juga dengar.
"Kamu beneran tahu toko baju di sini?"
Halilintar menoleh, kemudian ia mengangguk. Kendati tidak meyakinkan sebab Halilintar memang jarang keluar rumah, tetapi bukan berarti ia tak tahu tempat—tempat di kota ini, lantaran ia punya Gentar sang informan pribadinya yang akan memberitahunya mengenai dunia luar.
"Kamu gak nanya kenapa aku pengen di anter ke toko baju?" Gempa kembali melontarkan pertanyaan, lantaran jika begitu maka keduanya akan sama—sama terjebak dalam hening.
"Buat beli baju, kan? Ngapain aku tanya lagi," celetuk Halilintar.
Gempa menarik napas panjang. Bukan itu yang ia ingin dengar dari Halilintar. Tetapi ya sudahlah, terserah Halilintar akan menjawab bagaimana.
"Hal," panggilnya pada sang kakak.
"Ya?"
"Kamu benci aku?"
Halilintar menoleh. "Ya."
Gempa menatap kakaknya lurus, hatinya mencelos ketika mendengar jawaban itu. Ia tak langsung membalas, melainkan menunduk setelahnya.
"Oke." hanya satu kata, namun mengisyaratkan luka yang dalam.
"Lebih tepatnya aku kecewa ketika Ibu pergi cuma bawa kamu," ujar Halilintar yang membuat Gempa kembali mengangkat wajahnya, memandang Halilintar yang kini sedang menatap seorang anak perempuan sedang berjalan di trotoar bersama ibunya.
Gempa mengernyit bingung.
Halilintar menghembuskan napas panjang, netra ruby miliknya memandang trotoar yang kini sedang ia pijaki. "Gak pa'pa aku gak di bawa, tapi seenggaknya bawa Gentar juga. Dia masih kecil. Ayah gak selembut itu sama Gentar."
"Maaf," cicit Gempa dengan kepala tertunduk. Ia menghentikan langkahnya, spontan membuat langkah Halilintar pun ikut terhenti.
Halilintar menoleh, menatap adiknya dengan perasaan yang sulit di jelaskan.
"Semua ini karena aku. Seharusnya aku gak pernah lahir, seharusnya aku gak pernah ada." matanya berkaca—kaca. Tangannya terkepal, menahan sesak yang mulai menyelimuti dada.
Halilintar menyentuh bahu Gempa membuat Gempa tersentak. Remaja berusia lima belas tahun itu memandang kakaknya yang kini menatapnya dengan sorot mata tajam. "Gempa!"
"Ini bukan salah kamu! Gak ada anak yang minta dilahirkan, termasuk kamu! Kamu gak bersalah. Yang salah itu Ayah, laki—laki bodoh itu!" tegas Halilintar, benar—benar tak suka ketika Gempa menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] RANTAI LUKA
FanfictionLuka tak harusnya ia miliki. Sebagai satu-satunya anak yang diperhatikan ayahnya, seharusnya Halilintar merasa bersyukur. Namun tidak dengan Halilintar. Di perlakukan sebaik itu justru membuatnya semakin membenci ayahnya, pria yang masih harus bel...
![[✔] RANTAI LUKA](https://img.wattpad.com/cover/370971493-64-k222134.jpg)