HAPPY READING
Gentar menelan makanan di mulutnya dengan susah payah, sesekali matanya akan melirik sang ayah yang makan dengan tenang di depannya. Tetapi meski begitu atmosfer disekitar tetap terasa berat, membuatnya ragu untuk menyuapkan sup ayam di piringnya.
Ruang makan hening, hanya terdengar denting sendok di beberapa saat sebelum sunyi kembali mengambil alih. Gentar ingin segera menyelesaikan makannya, ingin segera pergi ke sekolah, ingin segera terbebas dari situasi ini.
Seandainya ada Halilintar, mungkin Gentar akan merasa lebih tenang. Namun pagi ini kakaknya itu pergi ke sekolah pagi sekali, bahkan sampai lagi—lagi melupakan sarapan.
Tepat di suapan terakhir, Gentar langsung membawa piring serta gelas bekas ke wastafel, tak lupa untuk mencucinya terlebih dulu. Selepasnya Gentar langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil tasnya yang masih tertinggal di sana.
Tak ada kata perpisahan sebelum pergi, atau kalimat saling menyemangati sebelum memulai hari. Gentar lantas pergi keluar rumah, memilih berangkat sekolah sebelum ayahnya kembali mencari—cari kesalahannya.
•
𓏲ּ ֶָ
•
Halilintar memilih duduk disamping Ice saat ia lihat remaja itu memakan roti di kelas, tak lupa dengan cup berisi es cokelat di atas meja. Halilintar tidak mengerti, tetapi Ice berbeda dari orang pada umumnya. Lagi pun manusia mana lagi yang meminum es di pagi buta begini.
Keduanya saat ini berada di kelas, tetapi ruang kelas masih sepi lantaran hari memang masih begitu pagi. Bahkan penjaga sekolah pun sampai terheran—heran saat melihat Ice dan Halilintar tadi.
Selama di kelas keduanya hanya saling mendiami sebab tak tahu harus berkata apa, sampai Taufan datang bersama dengan Blaze. Satunya langsung mendudukkan dirinya di bangku, sementara satunya menarik Ice keluar kelas untuk ikut futsal bersamanya.
"Gak berenang?"
"Dingin."
"Ikan kok kedinginan," kelakar Taufan. Ia berdiri dari bangkunya, lantas menghampiri Halilintar yang masih terduduk bangkunya.
"Keluar yuk! Nyusul yang lain, Solar sama Gempa juga lagi di luar," ajak Taufan sambil menarik tangan Halilintar sampai temannya itu berdiri.
Keduanya pun berjalan keluar kelas, menyusuri koridor yang mulai dipenuhi dengan murid—murid. Sepanjang jalan menuju lapang, Taufan tak henti melontarkan candaan, kendati akhirnya malah Halilintar abaikan begitu saja.
Disisi lapang, Halilintar sudah melihat Gempa yang sedang mengobrol dengan Duri, pun di sana ada Solar yang sedang menjadi pusat perhatian para gadis sebab meyugar rambutnya ke belakang, menampakkan dahi yang selama ini selalu bersembunyi dibalik rambut.
"Kadang ya ... aku juga berharap punya kakak atau adik gitu. Tapi mau gimana lagi, udah ditakdirkan jadi anak tunggal," timpal Duri yang diakhiri dengan kekehan ringan, segera setelahnya Duri berlari ke tengah lapangan, menghampiri Ice dan Blaze, juga beberapa orang lainnya.
Gempa menunduk, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum. "Aku punya adik, punya kakak. Meski rasanya kayak anak tunggal," gumamnya dalam hati, sedikit miris dengan hidupnya yang jauh dari kata beruntung.
Ia menoleh kala menyadari kehadiran seseorang. Membalas dengan senyum ketika Taufan tersenyum manis ke arahnya. Orang itu memang selalu begitu, sampai Gempa juga sering mendengar orang—orang bergosip tentang si murah senyum Taufan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] RANTAI LUKA
FanficLuka tak harusnya ia miliki. Sebagai satu-satunya anak yang diperhatikan ayahnya, seharusnya Halilintar merasa bersyukur. Namun tidak dengan Halilintar. Di perlakukan sebaik itu justru membuatnya semakin membenci ayahnya, pria yang masih harus bel...
![[✔] RANTAI LUKA](https://img.wattpad.com/cover/370971493-64-k222134.jpg)