Pengen nangis banget rasanya. Bagian yang ada tuh cuma 1k word doang, cuma yang sempet aku copy paste karena sebelumnya aku nulis di aplikasi lain sebab gak ada kuota. Sisanya raib.
Asli nyesek banget, padahal itu bagian serunya.
Aaaaaa mood ku tolong.
Maaf ya bila kurang maksimal, soalnya anu ini. Aku mau bilang kalau, "aku lebih bahagia hidup tanpa cowok."
HAPPY READING
Setelah hari kemarin, Gempa baru mengetahui fakta bahwa kecelakaan yang dialaminya adalah karena adanya unsur kesengajaan. Pelaku masih belum ditemukan hingga saat ini, dan pihak yang berwajib tengah melakukan pencarian. Lantaran mau bagaimanapun kasus ini termasuk dalam rencana pembunuhan.
Tetapi Gempa juga tidak tahu, semua orang selalu membohonginya akhir—akhir ini.
Gempa memejamkan matanya sejenak, memandang dua kotak di pangkuannya yang beberapa saat lalu diberikan oleh adiknya.
Diluar kamar, samar ia mendengar suara Gentar yang tengah mengobrol dengan ibunya. Obrolannya ringan, tepat mengarah ke kalimat—kalimat yang dulu tak pernah terucap.
Gempa tidak tahu seperti apa reaksi pertama Gentar saat tahu bahwa Mara adalah ibunya, namun Gentar pernah bilang bahwa dirinya sudah tahu mengenai Mara dan Gempa dari Halilintar.
Helaan napas panjang terdengar tepat sebelum Gempa membuka kotak pertama, ukurannya lebih besar dengan pita merah muda di atasnya. Gentar bilang itu darinya, hadiah pertama untuk Gempa di hari ulang tahunnya yang ke lima belas tahun.
"Terserah sih pitanya mau warna apa, yang penting itu isinya," ucap Gentar beberapa saat lalu.
Senyuman lantas terbit di bibirnya kala melihat sepasang sepatu yang selama ini ia impikan namun tak sempat dibelinya sebab tak berani bilang pada ibunya. Di dalam kotak juga terdapat sebuah kartu ucapan.
Kalau melihat kebelakang terus, kamu bisa botak. Begitu isinya.
Ia letakkan sepatu itu di samping tubuhnya, lalu mengambil kotak satunya lagi yang tidak Gentar bilang dari siapa pemberinya. "Kakak bakalan tahu kalau udah buka hadiahnya," kata Gentar tadi.
Begitu penutupnya terbuka, air mata yang sejak tadi di tahannya, jatuh tanpa suara. Bahunya berguncang pelan, mengikuti irama tangis yang disembunyikannya dari siapa pun.
Sebuah jam tangan tampak di kotak itu. Namun alih—alih mengambil jam tangan, Gempa justru lebih tertarik pada udah foto yang terselip bersama dengan sebuah kertas.
Ia menggigit bibirnya, menahan isak yang hampir meledak ketika netranya memandang foto di mana di sana terdapat dirinya dengan Halilintar. Kala itu Gempa ingat jelas ketika gambarnya di ambil. Halilintar dengan ogah—ogahan berdiri di sampingnya sebelum akhirnya Taufan memotret mereka berdua dengan latar belakang laut.
Gempa tak pernah tahu bahwa itu akan menjadi foto terakhir juga pertama mereka.
Lantas perhatiannya teralih pada sebuah kertas yang dilipat rapi dengan beberapa stiker tema luar angkasa di bagian—bagian tertentu.
Selamat ulang tahun Gempa, aku harap kamu akan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah ini.
Sorry, aku nyuruh Gentar ngasih ini ke kamu, karena ya ... aku gak bisa bayangin gimana reaksi kamu saat liat aku kasih hadiah ke kamu. Jujur, aku malu.
Aku harap kamu suka dengan apa yang aku beri. Kalaupun kamu gak suka, jangan dibuang, cukup disimpen aja.
Untuk itu aku punya satu permintaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] RANTAI LUKA
Fiksi PenggemarLuka tak harusnya ia miliki. Sebagai satu-satunya anak yang diperhatikan ayahnya, seharusnya Halilintar merasa bersyukur. Namun tidak dengan Halilintar. Di perlakukan sebaik itu justru membuatnya semakin membenci ayahnya, pria yang masih harus bel...
![[✔] RANTAI LUKA](https://img.wattpad.com/cover/370971493-64-k222134.jpg)