HAPPY READY!
Mereka melangkah beriringan di jalan setapak yang dilapisi dedaunan basah sisa embun, jalanan itu baru saja di aspal satu bulan lalu. Udara sejuk pun turut menyapa kulit mereka, membawa serta aroma tanah basah dan daun—daun yang baru saja dijamah cahaya mentari.
Di sisi—sisi jalan, pohon—pohon menjulang tinggi, cabang—cabangnya membentang seperti tangan—tangan yang melindungi mereka dari sengatan matahari. Daun—daunnya berbisik lirih ketika angin lembut menyentuhnya, seakan bercerita pada jiwa—jiwa yang menikmati keindahannya.
Di sisi kanan jalan, sebuah sungai mengalir dengan tenang. Airnya bening, seakan kaca yang memantulkan birunya langit dan hijau dedaunan di atasnya. Dari tepi jalan, mereka bisa melihat ikan—ikan kecil berenang riang, terlihat bahagia, tanpa beban dan tanpa luka. Sesekali, burung—burung kecil melintas di atas kepala mereka, melantunkan nada—nada harmonis di tengah gemericik air sungai.
"Mataku pipis, Kak.".
"Keluar sulfur gak?".
"Batu akik," balas Gentar, ia menghapus kasar air matanya karena tidak mau di anggap cengeng oleh Gempa.
Gentar tak menangis tanpa alasan. Bukan karena melihat tiga sosok keluarga bahagia, tetapi ketika melihat sosok penjual sayuran. Tidak tahu kenapa, namun setiap kali melihat pedagang yang seorang bapak—bapak, Gentar selalu tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Entah itu ia akan teringat pada kakeknya atau malah si tukang pukul itu.
Di hari pertama libur sekolah ini Gentar memang mengajak Gempa untuk ketemuan, tidak jauh, hanya berjalan—jalan di sekitaran sungai tempat dimana mereka pertama kali bertemu, sembari menunggu truk yang akan membawa mereka ke isekai datang.
Palingan nanti Gentar akan mengajak Gempa keliling dunia menggunakan motor sambil makan es krim. Itupun Gempa yang membonceng, Gentar kan tidak di izinkan mengendarai motor apalagi memilikinya.
Hari masih pagi, bahkan udara masih terasa lebih segar di banding biasanya, sejuk dan dingin. Gempa merasa jika ia sedang berada di negeri dongeng sekarang, jauh dari hiruk—pikuk kota. Tempat yang cocok untuk mengasingkan diri demi menyembuhkan sesuatu yang tak akan dapat disembuhkan dengan mudah.
Tadinya Gempa ingin jalan—jalan ketika sore agar ia bisa melihat keindahan alam yang tersorot matahari sore. Lagi pun, suasana saat itu tak kalah tenang ketika pagi datang. Tetapi Gentar bilang jika jalan—-jalan ketika sore takutnya malah hujan, mengingat belakangan ini hujan memang lebih sering datang.
"Jadi kepikiran buat beli es krim, mau gak Kak?" tanya Gentar ketika netranya menangkap bangunan berupa warung di depan sana, biasanya Gentar membeli pulsa di sana karena tempatnya lumayan jauh dari rumah jadi tidak akan ketahuan oleh Amato.
"Masih pagi, mending beli yang lain aja." ujar Gempa mencoba memberi saran makanan lain yang harus di beli. Gempa jadi teringat kembali ucapan Mara beberapa tahun lalu ketika Gempa masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
"Makan es terus bisa bikin kamu bodoh," ucap Mara kala itu sambil memarahi Gempa yang sedang memakai es krim ketika anak itu sedang sakit flu dan batuk.
Gentar mendengus pelan ketika mendengar ucapan Gempa, Gentar yang tidak pernah di larang untuk makan apapun sejak kecil ini agak kesal ketika di larang begitu. Bahkan jika mau, mungkin aki mobil saja Gentar minum.
"Kak Gempa kira aku bakalan nurut?" Gentar menatap Gempa seraya menarik turunkan alisnya.
"Menurut kamu?".
"Nggak akan tuh," kata Gentar sambil tersenyum, memamerkan deretan gigi rapihnya.
Gentar berjalan mendahuluinya dengan langkah penuh energi menuju warung yang ukurannya masih terlihat kecil karena sebenarnya jaraknya masih jauh, sementara Gempa mengikutinya dari belakang dengan langkah yang lebih santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] RANTAI LUKA
FanfictionLuka tak harusnya ia miliki. Sebagai satu-satunya anak yang diperhatikan ayahnya, seharusnya Halilintar merasa bersyukur. Namun tidak dengan Halilintar. Di perlakukan sebaik itu justru membuatnya semakin membenci ayahnya, pria yang masih harus bel...
![[✔] RANTAI LUKA](https://img.wattpad.com/cover/370971493-64-k222134.jpg)