HAPPY READING
Beliung, nama itu selalu berputar di kepalanya seperti alunan musik yang di dengar berulang setiap hari. Gempa mengenalnya, bahkan jauh hari sebelum ia pindah ke tempat ini.
Tapi kenapa harus nama itu yang menjadi dalang kematian kakaknya.
Gempa ingat saat pertama kali bertemu Beliung untuk pertama kalinya. Kala itu Gempa tersesat di pasar sendirian, tanpa disangka Beliung yang menghampirinya pertama kali untuk membawanya kembali ke ibunya.
Ternyata Beliung mengenal Mara, bahkan terlihat sangat akrab.
Lalu kini Gempa memandang wajah Beliung yang dulu selalu tampak bersinar dengan senyum manis yang senantiasa terpatri di bibirnya. Namun, kini hanya kekosongan yang tampak.
Rambutnya acak—acakan seperti tak terurus, kantung matanya menghitam seolah tidak tidur selama seminggu, bibirnya pecah—pecah, matanya tak lagi menampakkan binar yang dulu selalu dilihat dunia
"Sebesar apa kesalahan Halilintar sama kamu bisa berbuat senekat itu?" tanya Gempa, sama sekali gak ada ekspresi di wajahnya. Ia benar—benar kecewa pada sosok yang dulu pernah ia percayai.
Beliung menunduk, menatap meja yang seakan menjadi sekat antara mereka berdua. "Aku nyesel, Gempa ..." bisiknya tanpa berani memandang langsung wajah Gempa.
"Kamu menyesal bukan karena udah bunuh kakak aku, kan? Tapi karena kamu ketahuan dan akhirnya di penjara?" kedua tangan Gempa mengepal erat di atas paha, rahangnya mengeras, namun tak dapat ia melampiaskan amarahnya saat ini, apalagi dengan kondisi kakinya yang masih jauh dari kata sembuh.
Beliung semakin menunduk, tatapannya kosong seperti orang yang telah kehilangan harapannya.
"Aku ... benci setiap lihat Taufan lebih deket sama Halilintar, dibanding aku—"
"Tapi bukan berarti kamu harus bunuh dia," potong Gempa.
"Maaf," gumam Beliung tanpa sedikit pun menatap Gempa.
"Jangan minta maaf ke aku. Saat ini ada orang yang lebih kehilangan Halilintar dibanding aku." lekas mengatakan kalimat itu Gempa berdiri dari kursi tempatnya duduk, dibantu oleh kruk agar ia bisa berjalan walau dengan tertatih.
Meninggalkan Beliung yang kembali di bawa ke sel tahanan oleh petugas.
•
𓏲ּ ֶָ
•
"Kalau aku pikir—pikir, mungkin nggak akan pernah ada nama Gentar lagi di dunia ini seandainya gak ada dia." Gentar menarik napas panjang. Rambutnya bergerak pelan kala angin lembut menerbangkan liar, bersamaan dengan ayunan yang di dorong oleh Sopan, temannya.
"Tapi aku selalu denial, berpikir bahwa dia gak pernah mengharapkan kehadiran aku karena sikap acuh tak acuhnya." suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Padahal kalau gak ada dia, mungkin perlakuan Ayah bakalan lebih buruk dari sekarang."
Sopan mengangguk, kendati mana mungkin Gentar bisa melihatnya. Sejak tadi ia hanya diam mendengarkan segala uneg—uneg Gentar tanpa sekalipun menyela, karena ia tahu bahwasanya Gentar hanya ingin didengarkan untuk sekarang.
"Setiap pagi dia selalu nyiapin sarapan meski yang dimasak gitu—gitu aja. Saat aku belum bener—bener tidur ..." Gentar menggigit bibir bawah, seolah menahan tangis. "Gak jarang aku lihat dia masuk ke kamar, mastiin aku tidur dalam posisi ternyaman."
Ia menarik napas dalam—dalam, menahan sesak di dada. "Bahkan kalau aku ketiduran pas lagi belajar, dia yang mindahin aku ke kamar. Tubuhnya emang gak sebesar orang—orang seusianya, tapi dia lebih kuat dari aku yang cuma bisa mancing masalah ini."
Sopan beranjak dari tempatnya, lantas duduk di ayunan sebelah kanan Gentar. Matanya memandang langit redup tanpa bayangan matahari, tak lama tatapannya kembali terkunci pada Gentar yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya.
"Cara bicara kamu lebih dewasa dibanding usia kamu, Gen."
Gentar tertawa mendengar itu, tawa palsu yang terdengar hampa. "Mungkin karena aku harus melihat kematian kakak aku sendiri tanpa bisa ngelakuin apa pun," lirihnya.
Sopan menganggukan kepalanya dengan tatapan jatuh pada ranting—ranting kecil yang menjatuhkan tetes terakhir dari sisa hujan.
Selama mengenal Gentar, Sopan tahu bagaimana hubungan Gentar dengan Halilintar. Kendati keduanya tinggal di atap yang sama, namun jarak yang membentang seakan lebih luas dari lima samudra di dunia.
Tetapi dari semua itu, Sopan selalu melihat kepedulian dari mata Halilintar untuk Gentar meski tanpa berbicara. Hanya saja Gentar sudah terlanjur tak menyukai Halilintar tanpa mencari tahu penyebab Halilintar membenci Amato.
Sopan tahu bagaimana keluarga Gentar, mungkin sebabnya karena mereka sudah mengenal sejak masih kecil.
"Kak Halilintar pasti ngerti kok." Sopan mengeluarkan permen dari saku hoodie—nya, mengulurkan tangannya kemudian untuk memberikan permen itu pada Gentar. "Sekarang kamu ikhlas ya? Kakak kamu juga gak akan mau kalau kamu terus—terusan begini."
Gentar menatap Sopan beberapa saat, tak lupa untuk menerima permen darinya juga. "Apa boleh?" tanyanya.
Sopan kembali mengangguk. "Kepergian seseorang bukan patokan kalau hidup kamu juga berhenti di sini. Dunia masih berputar, Gen. Masih banyak orang yang pingin lihat kamu bahagia," balasnya.
"Sekarang malah kamu yang bicara kayak orang dewasa." Gentar terkekeh pelan meski retak dalam dadanya mustahil untuk terobati.
"Tapi, Pan. Andaikan aku deketin dia lebih awal, mungkin rasa menyesalnya nggak akan sebesar ini," ujarnya beberapa saat kemudian.
•
𓏲ּ ֶָ
•
"Kenapa Ayah sebenci itu sama Om? Dia adik Ayah, kan? Belum tentu dia salah, justru cara berpikir Ayah yang salah." Halilintar duduk di teras rumah sembari memandangi Amato yang tengah mencuci motornya sampai kinclong nanti.
Gerakan tangan Amato saat menggosok lembut bagian kotor pada jok motornya lantas terhenti saat mendengar suara anaknya. Ia menoleh, menatap Halilintar yang duduk dengan es krim rasa cokelat di tangan kanannya.
Padahal baru tadi malam anak itu mengetuk pintu kamarnya untuk menanyakan obat penurun panas. Bahkan Amato juga masih ingat saat Halilintar bolak—balik ke kamar mandi karena muntah tadi pagi.
"Kenapa kamu ngomong gitu? Ayah gak pernah ajarin kamu ngomong gak sopan sama yang lebih tua," tegur Amato, merasa tak suka pada cara bicara Halilintar tadi.
Halilintar memutar bola matanya malas. Sebelum membalas ucapan ayahnya, ia terlebih dulu membuat stik es krim ke sembarang arah. Biarlah ayahnya marah, lagi pula besok juga Halilintar yang akan menyapu halaman hingga bersih.
"Ayah emang gak pernah ngajarin, tapi aku mengatakan fakta." Halilintar melipat tangan di dada. "Pikiran Ayah itu terlalu dangkal. Apa gak pernah terbesit di otak bodoh Ayah buat lakuin tes DNA sama Gempa?"
"Halilintar!" Amato membentak, kendati Halilintar terlihat tak peduli sama sekali.
"Jangan sampe Ayah baru menyadari kehadiran Gempa sebagai anak Ayah saat aku mati." Halilintar menarik napas panjang, kembali berdiri setelahnya untuk mengecek keadaan Gentar.
Adik bungsunya itu juga sakit setelah di kurung semalaman di kamar mandi oleh Amato. Jika saja tadi pagi Halilintar tidak merasa mual, mungkin Gentar masih berada di kamar mandi hingga sekarang.
Amato mengacak rambutnya kasar. Tatapannya terus terarah pada diary book milik anaknya.
Seandainya bisa, aku pingin liat Ayah peluk Gempa sama Gentar selayaknya seorang ayah ke anaknya.
Aku juga pingin Ayah baikan sama Om Angin.
Coretan tinta itu adalah halaman terakhir dari diary book yang tak sanggup Amato baca seluruhnya.
TO BE CONTINUE
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] RANTAI LUKA
FanfictionLuka tak harusnya ia miliki. Sebagai satu-satunya anak yang diperhatikan ayahnya, seharusnya Halilintar merasa bersyukur. Namun tidak dengan Halilintar. Di perlakukan sebaik itu justru membuatnya semakin membenci ayahnya, pria yang masih harus bel...
![[✔] RANTAI LUKA](https://img.wattpad.com/cover/370971493-64-k222134.jpg)