33. Unethical

323 56 2
                                        

Banyak typonya nih.

HAPPY READING!

Selepas meninggalkan Amato di meja makan, Gentar memasuki kamarnya, menutup pintu tanpa lupa mengunci. Sama sekali tak membiarkan siapa pun masuk.

Tubuhnya merosot ke bawah. Bersandar pada pintu dengan lutut ditekuk. Tatapan lelah nampak jelas dari iris kembarnya, menyatu dengan sunyinya malam ini.

Biasanya jika sedang begini, setidaknya akan terdengar suara Halilintar yang mengatakan jika sikap Gentar yang selalu membela Ayah itu salah, dan akhirnya mereka terlibat adu mulut.

Tapi, sekarang tidak ada Halilintar.

Bahunya bergetar pelan, di iringi isak pelan   penanda runtuhnya dinding yang selama ini ia tahan agar tak roboh.

"Aku bingung Hali ..." suaranya pecah begitu nama itu disebut. "A—aku senang seandainya ... seandainya Ayah bener—bener berubah ..." ucapannya terpotong oleh isakan.

"Tapi ... apa gunanya kalau enggak ada ka—kamu di sini ..." Gentar menggigit bibir bawahnya, menahan sesak kala hatinya terasa ditikam bertubi—tubi.

Ia membenci Halilintar selama bertahun—tahun lamanya, tatapan tak suka selalu ia layangkan setiap kali berjumpa, bahkan kalimat menyakitkan tak pernah luput dari omongannya.

Kebencian Halilintar pada Amato bukanlah satu—satunya penyebab Gentar tak menyukai Halilintar, melainkan karena dikapal tak adil Amato.

Mengapa Halilintar yang selalu bersikap agak kurang ajar itu tak pernah Amato sentuh dengan tangan kasarnya, tetapi Gentar yang selalu membela Amato dihadapan semua orang malah mendapatkan perlakuan berbeda.

"Aku bingung, Hal ..." ulangnya lirih. Suaranya pelan, nyaris tak terdengar.

Ia menunduk, membiarkan tetesan air mata membasahi lantai.


𓏲ּ ֶָ

Selepas Gentar pergi meninggalkannya tadi, Amato duduk di sofa ruang keluarga. Meski kata 'ruang keluarga' itu mungkin tak akan pernah cocok untuk mendeskripsikan tempat ini.

Sesal.

Satu kata yang terus berputar di kepalanya, menembus dalam, menusuk hatinya.

Gentar menolaknya, bahkan dengan terang—terangan mengatakannya. Gempa mana mungkin memaafkannya setelah pengabaian selama belasan tahun. Angin, ia tak tahu bagaimana cara meminta maaf pada adiknya setelah kebencian yang terus tertanam selama ini.

Amato menunduk, mengusap wajahnya kasar dengan desahan napas yang terdengar berat.

"Kenapa aku melakukan semua itu sebelumnya?" gumamnya. Ingatannya melayang ke beberapa tahun lalu, ketika ia melakukan hal sebodoh itu pada Angin, adik kandungnya sendiri.

Sampai beberapa hari lalu, ia masih dibutakan oleh amarah, apalagi saat tahu penyebab kecelakaan anak—anaknya adalah karena Beliung yang merupakan keponakannya sendiri.

Amato tak bisa memendam kata—katanya sendiri. Seandainya tak sedang dirundung duka, kejadian dimana ia menyakiti Angin seperti orang gila mungkin akan terjadi lagi.

Tatapannya teralih pada benda pipih persegi di atas meja, berdampingan dengan sebungkus rokok yang tersisa tiga batang. Helaan napas panjang terdengar di gelapnya ruang keluarga. Lalu, ia ambil ponselnya.

[✔] RANTAI LUKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang