Typo bertebaran, bulan depan di perbaiki.
HAPPY READING
Dua minggu berlalu semenjak ia ke kedai kopi bersama Taufan dan Halilintar. Percakapan antara Halilintar dan Taufan hari itu masih menciptakan tanda tanya untuknya. Sebagai manusia yang memiliki jiwa penasaran tinggi, tentu Gempa ingin tahu alasan Halilintar menyembunyikan latar belakangnya.
Gempa juga ingin tahu alasan apa yang menyebabkan Halilintar mengulang kelas, meski Taufan sempat berkata bahwa Halilintar saat itu sakit, tetapi Halilintar sakit apa? Tidak ada yang memberitahunya.
Jika boleh, Gempa ingin sekali masuk ke dalam kehidupan kakaknya. Bukan hanya melihat dari kejauhan, tetapi benar—benar ada di dalamnya.
Gempa menarik napas panjang. Pulang sekolah hari ini terasa sepi. Biasanya ia akan pulang barengan dengan Taufan lantaran jalan ke rumah mereka searah, tetapi hari ini Taufan pergi entah kemana bersama Halilintar.
Ya, tak apa. Lagi pun Gempa bukanlah siapa—siapa, ia juga tak memiliki alasan untuk terus berada bersama Taufan ataupun Halilintar.
Langkahnya gontai.
Ia merindukan Glacier dan Frostfire. Kira—kira bagaimana kabar temannya itu sekarang?
Gempa kembali menghela napas. Ia sungguh tak ingin pulang. Mara, ibunya itu mungkin masih di tempat kerjanya. Sementara ayah? Ia bahkan tak ingat lagi bagaimana rupa pria itu.
Langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria asing tengah berdiri di samping motornya. Pria itu terlihat cukup ... tampan? Garis rahang tegas, sorot mata tajam, penampilannya terlihat berwibawa.
Mengingatkan Gempa pada seseorang.
Gempa berjalan menghampirinya. Kendati ragu, tetapi Gempa mana bisa abai pada lingkungan sekitarnya.
Ia bukan Halilintar yang akan membantu saja harus berpikir ratusan kali.
Mungkin ia bisa membantu. Kendati belum tentu dapat memperbaikinya, Gempa pikir setidaknya ia bisa menemani.
"Pak, motornya mogok ya?" sapa Gempa, berusaha sebisanya agar terlihat ramah.
Pria itu menoleh ke arahnya. Namun bukannya terlihat senang atau heran ketika diberi bantuan, tatapannya justru tampak ... campur aduk. Seolah baru saja melihat sesuatu yang mengejutkannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Gempa menawarkan diri untuk membantu.
"Jangan ikut campur, sialan!" bentak pria itu. Tajam sekali, seolah Gempa baru saja melakukan kesalahan.
Gempa menelan ludah. Jantungnya seakan ingin melompat dari rongga dadanya. Ia terbiasa dengan orang cuek, seperti Ice contohnya, tetapi bukan berarti hatinya akan siap ketika di bentak orang asing yang bahkan tak ia kenal tanpa alasan.
Gempa mengulas senyum tipis, mencoba untuk tetap bersikap baik. Ia tak ingin kembali di cap buruk di lingkungan barunya, seperti bagaimana orang—orang di lingkungan lamanya menatapnya.
"Saya tahu bengkel dekat sini, Pak. Kalau mau, saya bisa bantu dorong motornya—" kalimatnya terpotong ketika sebuah dorongan kasar mendarat di bahunya. Tidak sekuat orang dewasa yang marah besar, tetapi dapat membuatnya limbung lantaran tersandung ujung trotoar.
Bruk!
"Ugh!" desisnya ketika bokongnya berciuman langsung dengan trotoar.
Tak sakit, namun dadanya terasa sesak. Bukan karena terjatuh setelah di dorong, melainkan tatapan dingin pria itu. Tak hanya marah, tetapi juga seolah memiliki dendam padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] RANTAI LUKA
FanfictionLuka tak harusnya ia miliki. Sebagai satu-satunya anak yang diperhatikan ayahnya, seharusnya Halilintar merasa bersyukur. Namun tidak dengan Halilintar. Di perlakukan sebaik itu justru membuatnya semakin membenci ayahnya, pria yang masih harus bel...
![[✔] RANTAI LUKA](https://img.wattpad.com/cover/370971493-64-k222134.jpg)