Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 13 ; Mengejar bintang

688 112 5
                                        

HAPPY READING!

Hari ini Gempa pulang lebih awal lantaran sekolah dibubarkan lebih cepat dibanding hari—hari biasanya, tetapi Gempa tidak langsung pulang ke rumah melainkan melipir sebentar ke sungai untuk mencari oksigen yang lebih bersih dari yang biasa ia hirup.

Menurut Gempa daerah disini memang cocok untuk memenangkan pikiran yang sedang ribut—ributnya, karena selain masih jarangnya kendaraan yang lewat, tempatnya juga masih asri, terbukti dari air sungai yang jernih ini.

Untuk Gempa yang sebelumnya tinggal di daerah perkotaan padat penduduk, menemukan tempat sehijau ini tentu saja adalah sebuah anugerah.

Sebelumnya Gempa memang tinggal di sebuah perkotaan, tempat yang jauh dari kata sunyinya suara kendaraan. Tetapi beberapa bulan lalu Mara sempat berpikir untuk kembali ke kampung halamannya, dan akhirnya mereka resmi pindah ketika Gempa di keluarkan dari sekolahnya.

Sebenarnya alasan utamanya karena Mara ingin menyekolahkan Gempa di SMA Elementer, sekolah yang cukup terkenal hingga luar kota karena sudah puluhan tahun dibangun. Mara ingin memperbaiki keperibadian anaknya yang lama kelamaan semakin mirip dengan ayahnya, dan Mara berharap dengan menyekolahkan Gempa di sekolah yang dikenal banyak melahirkan murid—murid berprestasi dan berperikemanusiaan itu bisa mengubah sifat kasar anaknya.

SMA Elementer memang bukan sekolah yang berada di perkotaan besar, tetapi disana banyak siswa—siswi yang berasal dari luar kota, tentu saja karena terdapat asrama juga disana.

"Orang baru, Kak?".

Gempa yang terlalu larut dalam lamunannya sedikit terkejut ketika mendengar suara seseorang disampingnya, pasalnya sejak tadi Gempa sendirian, bahkan sekedar orang lewat pun tidak ada.

"Orang lama." Gempa menjawab dengan suara pelan karena takut jika orang yang sedang duduk di sepeda itu bukanlah manusia lantaran setahu Gempa, terkadang sungai juga bisa dikaitkan dengan hal mistis.

Gentar mendelik, sedikit kesal dengan jawaban orang disampingnya ini. Tahu akan dijawab begitu seharusnya Gentar tidak usah bertanya tadi.

Namun saat ini ada satu hal yang tidak bisa Gentar sangkal, yaitu wajah Gempa, mirip sekali dengan Halilintar tetapi versi kalemnya. Halilintar juga memiliki sifat yang tenang, namun sepertinya orang ini lebih tenang lagi dari Halilintar yang terkadang jika marah seringkali terlihat seperti beruang kesurupan.

Gentar memang tidak pernah melihat Halilintar benar—benar marah, tetapi kata kakak kelasnya yang tahun lalu pernah satu sekolah dengan Halilintar, orang itu bilang jika Halilintar seperti beruang kesurupan ketika sedang marah. Tetapi Gentar juga tidak tahu pasti, memangnya beruang bisa kesurupan? Jika ketempelan parasit sih bisa saja.

"Aku Gentar, semoga gak asing ya setelah ini." ucap Gentar dengan senyuman yang mengiringi binar di netra kembarnya.

Gentar memang selalu bersemangat ketika bertemu dengan orang yang baru ia temui, tentu saja untuk menambah teman baru. Bahkan preman yang baru saja dia temui pun mungkin akan Gentar ajak berkenalan untuk dijadikan teman.

"Gentar?" Gempa memastikan lantaran takut salah dengar.

Bukan sekali dua kali Gempa mendengar nama itu, selain karena Gentar adalah nama adiknya, nama itu juga sering disebut—sebut di tongkrongannya dulu dengan dideskripsikan sebagai bocah bar—bar yang tidak kenal takut, bahkan katanya bocah SMP bernama Gentar itu juga memiliki nyali yang tidak kaleng—kaleng, seakan siap untuk adu bazoka dengan anak SMA kapan saja.

[✔] RANTAI LUKACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang