Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 18 ; Latar Belakang

582 98 19
                                        

Kangen ga sama tiga bersaudara yang belum akur juga?

By the way, sorry banget karena cerita ini lama ga update. Soalnya aku merasa kalau Rantai Luka itu cerita yang kurang di minati, makanya sampe berbulan bulan ga ada kabar gini.

Sorry guys, sorry.

HAPPY READING

Gentar menatap Halilintar, alisnya berkerut ketika melihat ekspresi wajah kakaknya yang sama sekali tidak terlihat senyumnya, padahal akhir-akhir ini Halilintar sudah lebih lembut pada Gentar, kendati malah Gentar yang bersikap kurang ajar padanya.

Namun, pagi ini orang itu malah diam saja, suaranya pun tidak terdengar.

Gentar ingat, kemarin kakaknya itu mendapat nilai terbaik lagi di sekolah, tetapi ayah mereka malah menghiraukan, seperti biasa. Apa karena itu suasana Halilintar buruk?

"Ayah itu kenapa, ya? Dia selalu terlihat gak peduli sama nilai-nilai sekolah kamu ketika di depan kamu, tapi setelah kamu gak ada di sekitarnya, Ayah langsung ngebandingin kepintaran kamu itu sama otak kopong aku ini," ujarnya.

"Karena orang itu bego," sahut Halilintar.

Gentar mendelik. Sebenarnya kakaknya ini kenapa, ayah sendiri malah dikatai tak baik seperti itu.

Ia dan Halilintar sekarang sedang berada di minimarket, sehabis jogging tadi mereka tak langsung pulang tetapi mampir dulu, membeli camilan untuk teman bermalas-malasan di hari minggu ini. Kini mereka duduk di bangku di depan minimarket sembari memakan beberapa makanan instan yang mereka beli.

"Sebenarnya jogging juga gak guna kalau kita masih makan makanan gak sehat gini," celetuk Gentar.

"Berisik. Makan aja. Kamu juga yang bilang kalau bosen makan sama telur terus."

"Tapi kan-" Gentar menghentikan ucapannya ketika melihat tatapan tajam Halilintar mengarah padanya. Ia takut sekali jika kakaknya itu akan tiba-tiba melahapnya seperti binatang buas.

Gentar menghela napas, susah sekali bicara baik-baik dengan Halilintar. Walau terkadang menurut Gentar jika Halilintar itu sok peduli padanya, ia tetap menghormatinya kok.

Ya, terkadang.

Selebihnya Gentar tak menyukai Halilintar karena Halilintar membenci ayahnya.


𓏲ּ ֶָ

"Saat itu Ibu bertemu dengan Halilintar, tapi dia nggak mengenali Ibu." Mara meletakkan selimut merah muda bermotif bunga ke atas kasur milik Gempa, menggantikan selimut kesayangan sang anak yang sedang di cuci.

Gempa tak rela sebenarnya, tetapi ia tak berani menentang seseorang yang di kenal sebagai ras terkuat di bumi.

"Lalu, Bu? Setelah itu gimana?" Gempa menoleh, ia yang sebelumnya berkutat dengan buku-bukunya di meja belajar, mengalihkan perhatiannya pada sang ibu yang baru saja mengganti sprei, sarung bantal, dan selimut di kamarnya menjadi merah muda.

Mara menghela napas. Tungkainya melangkah, membawanya menuju jendela kamar yang terbuka. Sengaja Mara buka sebelumnya agar udara segar memasuki kamar putranya.

"Dia hanya mengantarkan Ibu pulang lalu kembali," ucapnya sendu.

Malam itu ia tak bohong bahwa dirinya senang ketika bertemu dengan putra sulungnya setelah sekian lama, namun sayangnya putranya justru tak mengenalinya.

[✔] RANTAI LUKACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang