HAPPY READING
Halilintar berdiri didepan cermin, memandang dirinya sendiri yang sudah rapi dengan seragam sekolah, kendati baju tak pernah ia masukan kedalam celana. Tapi menurutnya segini sudah rapi, pun hari ini tidak akan upacara yang membuatnya tampil sebagus mungkin.
Namun sebaik mungkin penampilannya, pikirannya tak pernah teralih dari apa yang terjadi sebulan lalu saat ia bertemu dengan Frostfire. Ia menyentuh punggungnya, mengusapnya pelan dan berharap semua akan baik—baik saja.
"It's okay, lagian udah gak sakit. Gak ada yang perlu kamu khawatirin, Halilintar," monolognya sembari tersenyum tipis.
Sesudah itu tatapannya teralih pada tas di atas kasur, namun belum sempat ia menghampiri, pintu kamar sudah lebih dulu menampakkan figur ayahnya.
Halilintar terkesiap, tetapi tetap menunjukkan ekspresi wajah datar kendati jantungnya terasa dugem di dalam sana. Tidak biasanya Amato memasuki kamarnya begini, pria itu paling sering masuk ke kamar Gentar hanya untuk memarahi adiknya.
"Ayah?" Halilintar menghampirinya, mengurungkan niat awalnya untuk mengambil tas. "Ada apa?"
"Kamu bilang apa ke anak itu tadi malam?" tatapan mengintimidasinya membuat Halilintar terdiam, anak itu mengingat—ngingat apa yang ia bicarakan dengan Gentar tadi malam.
"Seharusnya kamu nggak bilang semua itu."
•
𓏲ּ ֶָ
•
Gempa menarik napas panjang, matanya terpejam dengan bibir tersenyum manis kala segarnya udara pagi mengisi paru—parunya. Setelah beberapa hari hanya bisa ia lakukan dengan berbaring, akhirnya ia bisa berdiri tegak sembari memandang indahnya langit pagi ini.
Kendati belum sepenuhnya sembuh, namun sejak tadi malam demamnya mulai turun, bahkan ia yang awalnya malas makan pun tadi pagi tiba—tiba merasa lapar. Rasanya seperti sebuah prestasi setelah sekian lama berjuang keras.
Tak lama ia mengalihkan pandangannya dari langit, ke arah Glacier yang duduk di kasurnya. Temannya itu menginap tadi malam, tentu bersama Frostfire juga yang tak bisa jauh dari Glacier.
Frostfire sedang bersama Mara di dapur, katanya ingin belajar masak sebab dirinya tak bisa mempelajarinya dari sang ibu yang amat sibuk dengan pekerjaan.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku semalam," ujar Glacier, menagih jawabannya yang tak ia peroleh sebelumnya sebab Gempa keburu tidur.
"Pertanyaan yang aku sakit apa?" Gempa menghampiri, kemudian duduk di kasur yang jaraknya tak begitu jauh dari Glacier. "DBD kata dokter, terus katanya trombositnya juga rendah. Makanya pas kemarin mimisan mulu, tapi ya ... aku juga gak tahu, soalnya kan katanya."
Saat hari ketiga Gempa demam, Mara memang membawanya kembali ke dokter untuk mengecek kondisinya sebab suhu tubuhnya naik turun terus, bahkan makin sering mimisan. Kendati awalnya Gempa tak mau lantaran takut jika sampai di rawat, tetapi akhirnya ia bisa bernapas lega sebab dokter bilang dengue—nya ringan, sehingga bisa sembuh dengan dirawat di rumah saja.
"DBD? Kenapa bisa?"
Gempa mengendikkan bahunya. "Kurang tahu, pas itu nggak terlalu dengerin penjelasan dokter juga."
"Terus sekarang gimana?" Glacier menutup mulutnya dengan tangan saat menguap.
Gempa merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga sebatas dada untuk melindungi diri dari dingin. "Ya nggak gimana—gimana, tinggal nunggu sembuh aja, itu pun kalau sembuh."
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] RANTAI LUKA
FanfictionLuka tak harusnya ia miliki. Sebagai satu-satunya anak yang diperhatikan ayahnya, seharusnya Halilintar merasa bersyukur. Namun tidak dengan Halilintar. Di perlakukan sebaik itu justru membuatnya semakin membenci ayahnya, pria yang masih harus bel...
![[✔] RANTAI LUKA](https://img.wattpad.com/cover/370971493-64-k222134.jpg)