Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 12 ; I have two side

726 114 9
                                        

PERINGATAN! CHAPTER INI AGAK ANEH DAN GAK NYAMBUNG MENURUTKU

HAPPY READING!

"Gak ada nasi? Mana kenyang," Gentar tampak kesal begitu Halilintar meletakkan piring berisi roti lapis ke hadapannya.

Halilintar tidak bersuara, dia hanya menatap Gentar sekilas lalu duduk di samping Gentar di sebuah karpet yang berada di ruang tamu. Seakan menghiraukan keberadaan Gentar di sana, Halilintar memakan sarapannya dengan tenang tanpa terganggu oleh suara-suara di dunia.

Gentar yang semula memperhatikan Halilintar, sekarang arah atensinya beralih pada piringnya yang dimana terletak roti berisi telur didalamnya. Bukannya tidak mau memakan, tetapi Gentar hanya tidak yakin dengan rasanya lantaran yang memasak adalah Halilintar.

Pagi ini Amato memang tidak ada di rumah sejak tadi malam, maka dari itu Halilintar yang rasa masakannya selalu hambar terpaksa menyiapkan sarapan agar setidaknya Gentar tidak kelaparan. Tetapi Gentar malah ragu untuk memakannya atau tidak, mengingat dulu Halilintar pernah membuatkannya goreng telur tapi malah tidak ada rasanya. Namun jika tidak dimakan, maka artinya ia sama sekali tidak menghargai usaha kakaknya.

"Makan, jangan nyusahin." Halilintar merutuki dirinya sendiri didalam hati, marah pada mulutnya yang tidak pernah berbicara sesuai dengan apa yang ada dihatinya, padahal tadi niatnya bukan mau mengatakan kalimat itu.

"Kalau gak niat bikinin sarapan, kenapa dilakuin? Aku bisa beli makanan di kantin nanti, jadi kamu gak perlu repot-repot lagi bikin kayak ginian." ujar Gentar sembari memakan roti tersebut, dan rasanya ternyata tidak seburuk yang ia kira lantaran telurnya masih memiliki sedikit rasa asin.

Halilintar tidak langsung membalas karena yang dia lakukan adalah menatap wajah Gentar sampai adiknya itu merasa risih, bukan tanpa alasan dia melakukannya lantaran tadi sekilas Halilintar sempat melihat lebam di wajah Gentar.

"Muka kamu kenapa?" tanya Halilintar yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dari topik sebelumnya yang tidak sengaja tercipta.

"Ini?" Gentar menunjuk pipinya yang terasa sakit, kurang lebih Gentar tahu penyebabnya karena apa dan siapa, namun tidak mungkin Gentar berkata jujur pada Halilintar.

Halilintar mengangguk sebagai bentuk jawaban.

"Tawuran." Gentar menjawab dengan enteng seolah tanpa beban.

"Bagus, lanjutin." memang bukan sekali dua kali Halilintar mendengar kabar jika Gentar ikut tawuran, apalagi sejak SD adiknya itu suka sekali membuat masalah, baik luar maupun dalam sekolah.

Gentar memang masih duduk di kelas satu SMP, namun kelakuannya benar-benar tidak mencerminkan jika dia baru memasuki SMP beberapa bulan lalu.

Gentar menghela napas lega karena sepertinya Halilintar percaya dengan kebohongannya.

"Tapi jujur gak? Atau aku harus tanya temenmu itu buat mastiin kebenarannya?".

Ternyata tidak semudah itu membuat Halilintar percaya padanya.

"Bener kok, abis tawuran kemarin." Gentar meminum susu yang sudah Halilintar siapkan tadi. Kakaknya itu memang perhatian, tetapi perhatiannya dua abad sekali.

Halilintar menarik napas panjang, berusaha keras untuk tidak memarahi adiknya, "jangan membudayakan tawuran, kamu hidup bukan buat perang tapi menjadi pribadi yang lebih baik.".

Gentar mengangkat bahunya acuh meskipun sejujurnya cukup takjub dengan ucapan Halilintar yang terdengar lebih panjang dan lembut, seakan pemuda di depannya ini bukanlah kakaknya.

[✔] RANTAI LUKACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang