Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 28 ; Sesal

585 95 12
                                        

HAPPY READING

Gempa menyuapkan potongan besar donat yang sebelumnya ia beli, disampingnya juga ada Halilintar yang sejak tadi hanya diam sembari memperhatikan sekitarnya. Sesekali remaja itu akan bersenandung pelan, mengikuti apa kata otaknya.

Jalanan kota hari ini tampak macet, katanya ada kecelakaan di depan sana. Namun Gempa sama sekali tak tertarik untuk melihat, baginya momen bersama Halilintar lebih penting dari apa pun.

"Gempa, nanti datang ke rumah aku ya?" Halilintar menoleh ke arah adiknya, menampakkan senyum manis yang selama ini tak pernah dia tunjukkan.

"Ke rumah kamu?" tanya Gempa dengan alis mengernyit, pasalnya ia tak mungkin ke rumah saudaranya jika ada pria itu. "Tapi Ayah pasti nggak akan suka liat aku di sana."

Halilintar menggeleng pelan, ia alihkan kembali perhatiannya ke arah depan, entah apa yang sedang di lihatnya saat ini.

"Di sana cuma ada aku, Gem. Nggak ada siapa—siapa lagi," jelas Halilintar dengan senyum yang tak juga luntur dari bibirnya.

Menurut Gempa, Halilintar itu aneh, sangat aneh.

"Omong—omong aku harus pulang." Halilintar tiba—tiba berdiri dari duduknya. "Nanti kalau kamu kangen aku, datang ke rumah aku ya?"

Selepasnya, ia melangkah dari sana, hendak meninggalkan Gempa yang masih terduduk di bangku dekat trotoar.

"Tapi, Hali. Arah pulang bukan ke sana."

Halilintar menoleh, lantas mengangguk. "Memang, tapi sekarang aku pulang ke sana," ujarnya sembari menunjuk ke arah jalan yang begitu asing di mata Gempa, rasanya ia tak pernah melihat jalan itu sebelumnya.

Sebelum benar—benar pergi, Halilintar mengulas senyum manis. Melambaikan tangannya beberapa saat, hingga ia melangkah pergi meninggalkan Gempa yang senantiasa mematung ditempat.

Setetes demi setetes cairan bening luruh dari kedua iris hazelnya, membasahi kedua pipinya saat ia lihat punggung itu semakin menjauh.

Gempa ingin memanggil, namun suaranya tak keluar. Ia ingin berlari menggapai saudaranya, namun tangan—tangan itu muncul, menariknya menuju kegelapan di belakang.

Panik. Ia takut.

Tapi ...

"Kak Gempa? Kenapa gak bangun?"

Mendengar suara itu, Gempa membuka kedua kelopak matanya. Menyipitkan matanya beberapa saat ketika cahaya matahari langsung menerpa wajahnya.

Lantas perhatiannya teralih pada figur sang adik yang sedang duduk di sampingnya sembari mengusap kaki kanannya dengan lembut.

"Selamat pagi, Kak!" sapa Gentar dengan semangat, bahkan senyuman terlihat indah terlukis di wajahnya. "Gimana tidurnya? Nyaman?"

Gempa mengangguk pelan, meski dirinya masih mencoba memahami keadaan. Setelah subuh tadi, ia memang kembali tidur sebab tak tahu harus melakukan apa pun lagi. Namun saat ia terbangun ketika matahari sudah berada terlalu tinggi di permukaan, isi kepalanya justru tak bisa mengerti kenapa ada adiknya di sini.

"Kamu ke sini bareng siapa?" tanyanya saat ingat jika jarak antara rumahnya dengan kediaman ayahnya lumayan jauh.

"Aku tadinya jalan kaki, tapi ketemu Kak Blaze di jalan." Gentar mendekatkan dirinya pada Gempa saat kakaknya itu menunjukkan gestur agar ia mendekat.

Gentar memang kenal Blaze sejak lama, orang itu sering ia lihat bersama Halilintar di playground, meski ia baru tahu namanya saat pemakaman kakaknya beberapa hari lalu.

"Kalau kamu di sini, kakak kamu sama siapa? Bukannya dia sakit juga?" Gempa mengusap rambut acak—acakan adiknya.

Meski ia pikir awalnya Gentar akan merasa tak nyaman sebab mau bagaimanapun juga mereka baru saling kenal belum lama, namun ternyata perkiraannya itu salah, anak itu tetap diam diperlakukan begini. Kendati awalnya sempat menghindar, entah apa alasannya.

Gentar tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha menyembunyikan tumpukan air mata di pelupuk matanya. Setelah beberapa saat ia kembali menatap Gempa.

"Halilintar ... dia udah sembuh."


𓏲ּ ֶָ


Setelah menemani Gempa seharian, sorenya Gentar baru pulang ke rumah. Ke tempat yang baginya adalah kutukan,tempat yang mengingatkannya pada sang kakak.

Rumah terasa sepi. Tak ada pertanyaan bernada dingin mengenai sekolahnya, ada lagi telur ceplok di piring yang selalu menyambut harinya.

Semua itu kini tak akan pernah ia dapatkan lagi.

Ia lihat ayahnya duduk di sofa, menggenggam sebuah foto. Gentar memilih abai dengan terus menjejakkan kakinya menuju kamar, satu—satunya tempat yang bisa memberinya ketenangan di rumah ini.

Tetapi begitu hendak memasuki kamar, langkahnya terhenti saat tak sengaja ia lihat pintu kamar kakaknya terbuka. Tanpa sadar kakinya melangkah ke sana, membuka pintu sedikit lebih lebar hingga bisa ia lihat keadaan di tempat itu.

"Ha ... Halilintar," panggilnya, berharap akan mendapat jawaban meski semua itu mustahil.

Tungkainya ia bawa semakin dalam ke kamar, menapaki setiap inci dari ruangan yang selalu kakaknya tempati ketika ayah menyalahkannya dalam setiap tindakan.

"Kamu dengar aku, kan sekarang?" Gentar memilih duduk di kursi, tangannya menyentuh meja belajar yang sedikit berdebu. "Katanya orang yang udah meninggal masih ada di rumahnya sampai hari ke 40."

Gentar menahan napas, matanya kembali memanas setiap kali ingat bahwa sosok itu tak akan pernah lagi ia lihat.

"Aku pingin minta maaf walau ... aku tahu udah terlambat banget." desahan napas kasar terdengar di ruangan sunyi itu, tak ada suara apa pun selain ketukan jari Gentar di meja karena gelisah.

"Aku harusnya gak benci kamu sampai segitunya. Bahkan sampai bertahun—tahun hanya karena kamu benci Ayah," bisiknya sembari memandang buku catatan di meja belajar.

"Dulu aku gak mengerti Hali. Gak mengerti kenapa kamu benci Ayah, kenapa kamu menjauhi Ayah. Tapi setelah kamu cerita soal Kak Gempa dan Ibu hari itu, aku mulai paham kenapa kamu gak pernah suka saat aku terus—menerus membela Ayah yang menyayangi kamu."

Gentar tersenyum pedih, hingga tetesan cairan bening luruh dari kedua matanya, membasahi buku di atas meja. "Ternyata ... selama ini yang salah adalah aku, bukan kamu."


𓏲ּ ֶָ


"Memang ... apa salahnya ketemu adik sendiri?" ucapan putranya beberapa waktu lalu kembali terngiang dalam ingatannya, berputar—putar selayaknya tarian yang tak kunjung sirna.

Hingga ia berpikir, apa selama ini ia salah dalam cara mendidik anak—anaknya?

Ia ingat saat hari di mana dirinya menampar Halilintar. Dapat ia tangkap kekecewaan dari matanya saat itu, tetapi Amato memilih abai pada perasaan putranya.

Bahkan di saat—saat di terakhirnya, Amato menjauh tanpa sempat meminta maaf.

Kini hanya tersisa sesal yang menggumpal tanpa dapat disembuhkan oleh kata—kata. Seandainya Tuhan memberinya sebuah permintaan yang akan dikabulkan, maka Amato ingin anaknya kembali, ingin Halilintar bersamanya.

"Tapi itu mustahil, Ayah. Aku nggak di sana, nggak akan pernah ada di sana."

Amato menoleh saat sebuah bisikan terdengar jelas di telinganya. Namun di sana kosong, hanya terdapat sebuah angin yang membuka lebar pintu rumah serta meniup tinggi tirai hingga keadaan di luar jendela nampak jelas.

"Nak, itu kamu?" tanyanya kendati jelas tak akan pernah ada jawaban dari pertanyaannya. "Ayah ... maafkan Ayah."

TO BE CONTINUE


Karena aku sedang writer block, jadi 1k word saja ya. Hehe, semoga memuaskan.

[✔] RANTAI LUKACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang