HAPPY READING
Kilatan petir sesekali menerangi langit yang gelap karena awan hitam. Taufan bergidik ngeri saat melihat dahan pohon patah terbawa angin. Ia menggosokkan tangannya, lantas memasukkan ke dalam saku jaket.
Hujan turun deras sejak satu jam lalu, membuatnya terjebak di sekolah tanpa dapat beranjak kemana pun. Beliung sudah pulang lebih dulu sebab remaja itu tak ikut eskul.
Tatapan Taufan teralih pada Halilintar yang berdiri disampingnya. Orang itu mengadahkan tangannya di udara, menampung air hujan lalu membasuh wajahnya hingga rasa dingin menembus pori-pori.
"Tadi pagi pipi kamu merah sebelah, kalau boleh tahu kenapa?" tanya Taufan sedikit mengeraskan suaranya sebab gemuruh hujan membuat semua seakan tuli, hanya dapat mendengar hembusan angin serta suara hujan saja.
Tadi Taufan sempat ingin bertanya, namun tak jadi lantaran kelas keburu dimulai. Bahkan saat istirahat tadi, ia tak memiliki kesempatan sebab menghabiskan seluruh waktunya di lapang basket. Ia dengar sebentar lagi akan ada turnamen.
"Digigit nyamuk gede," sahut Halilintar tanpa mengalihkan pandangannya dari hujan.
Taufan menyipitkan matanya saat melihat Duri berlarian di lapangan bersama dengan Blaze. Seolah tak memiliki rasa takut, dua orang itu menendang bola di bawah guyuran hujan yang turun tanpa jeda, bahkan abai pada gelegar petir yang mengisi suara disetiap detiknya bumi berputar.
"Kamu kalau kehujanan bakalan sakit gak?" Halilintar melirik Taufan, meminta jawaban secepatnya.
Taufan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Nggak sih ... kayaknya?" balasnya kurang yakin, sebab saat ini saja ia sedang flu. Bisa-bisa ia tak bisa bernapas karena hidung tersumbat. "Emangnya mau apa?"
"Tadinya ngajak kamu pulang, tapi hujan-"
"Gas!" seru Taufan cepat, tampak bersemangat saat Halilintar mengajaknya pulang dengan hujan-hujanan.
Pasalnya berada dibawah air hujan memang semenyenangkan itu.
•
𓏲ּ ֶָ
•
Setelah mengantarkan Taufan ke rumahnya, Halilintar tak langsung pulang. Namun mampir dulu ke toko buah yang ia temui, juga ia menyempatkan diri untuk membeli makanan lain.
Hujan mulai reda, hal itu membuat tubuhnya yang basah kuyup sedikit demi sedikit mulai mengering. Selepas memarkirkan kendaraannya di halaman rumah, kakinya bergerak menuju pintu rumah yang ia sendiri tak tahu mengapa datang ke sana.
Ia mengetuk pintu beberapa kali, sesekali meringis karena dinginnya hembusan angin seakan menusuk seluruh tulangnya. Hingga di menit setelahnya pintu terbuka, memperlihatkan seorang pemuda yang sedang memakan tomat.
"Halilintar?" raut terkejut tak dapat disembunyikan lagi dari wajah Gempa, terlebih setelah melihat baju basah kakaknya seperti sehabis terkena air yang begitu banyak.
Halilintar mengeratkan genggamannya pada plastik berisi buah-buahan. Jantungnya berdegup cepat seperti gendang yang ditabuh tanpa jeda. Tak tahu harus berbicara apa, lidahnya kelu, sama sekali tak berdaya.
"Aku ..." Halilintar menarik napas panjang lantas membuangnya perlahan, berharap dengan begitu ia bisa tenang.
Padahal hanya berbicara empat mata dengan Gempa, namun kenapa rasanya seperti sedang berhadapan dengan penguasa suatu negara.
"Gempa, ada siapa?" suara feminin terdengar memecah canggung. Halilintar menoleh ke dalam, begitu pula dengan Gempa. Sampai terlihat seorang wanita menghampiri, seseorang yang telah lama jauh dari Halilintar.
"Ibu." ingin sekali Halilintar mengatakannya, namun panggilan itu seakan berhenti di kerongkongan.
"Kamu-"
"Aku cuma mau nganterin ini." Halilintar memberikan plastik tadi pada Mara dengan terburu-buru. Lantas tangannya tanpa sadar mengusap rambut Gempa singkat.
"Lekas sembuh, Gempa," ucapnya, lalu ia melangkah pergi dari sana, menembus hujan yang kembali turun dengan deras.
Halilintar tak mengerti dengan dirinya sendiri. Padahal tadi ia sangat ingin bertemu Gempa, bahkan sampai rela hujan-hujanan. Tetapi begitu melihat adiknya, keberanian tadi seakan menguap hilang seperti kepulan asap tipis.
Gempa yang berdiri diambang pintu mematung, tangannya menyentuh kepalanya yang baru saja diusap Halilintar. Ada rasa tak percaya dihatinya, namun tadi kakaknya benar-benar melakukannya.
Bahkan sampai motor Halilintar tak lagi terlihat di pekarangan rumah, Gempa masih tak berbicara apa-apa.
Mara tersenyum manis. Ia melihat plastik yang Halilintar berikan padanya, di sana tak hanya buah tetapi ada makanan lainnya juga.
"Kakak kamu itu, sebenernya sayang lho sama kamu," celetuk Mara sambil melangkah ke dalam rumah, menuju dapur untuk menyimpan bingkisan dari Halilintar.
Gempa menoleh, kemudian mengikuti sang ibu ke dalam.
"Cuma ketutupan gengsi aja, sama kayak ayahnya," Mara melanjutkan ucapan sesaat setelahnya.
Gempa memilih duduk di sofa dengan pandangan ke arah jendela, berharap Halilintar akan muncul lagi di halaman rumah.
•
𓏲ּ ֶָ
•
Gentar yang hendak keluar dari kamarnya, membeku saat melihat figur sang ayah didepannya. Menatapnya tanpa terselip sedikit pun kasih sayang.
"Dimana kakak kamu?" tanya Amato.
"Kakak?" Gentar mengernyit, merasa asing dengan kata itu. "Halilintar belum pulang, katanya tadi mau kemana itu ... aku lupa."
Mendengar jawaban Gentar, Amato mendengus. Ia lantas pergi dari depan kamar putra bungsunya, membuat Gentar menghela napas lega kemudian.
Sampai tak lama, Gentar mendengar suara motor berhenti di halaman rumah. Dengan langkah tergesa ia meninggalkan kamar tak lupa menutup pintu lebih dulu.
Namun begitu sampai ruang tamu, Amato ternyata sudah berada di sana lebih dulu. Berdiri di ruang tamu dengan tatapan tajam terarah pada Halilintar yang baru saja membuka pintu rumah.
"Kamu dari mana?"
"Abis ketemu Gempa-"
Plak!
Gentar memejamkan matanya saat tamparan keras itu mendarat di pipi Halilintar. Ia mematung di tempat, seakan tak sanggup melihat apa yang terjadi didepannya.
Gentar tahu persis rasa sakit itu. Tetapi melihat Halilintar yang selama ini tak pernah disentuh, membuat dadanya terasa perih. Jaraknya memang tak begitu dekat, namun jelas terlihat tubuh Halilintar gemetar, tatapannya yang mendadak kosong, napas terdengar, hingga langkah mundur yang menunjukkan ketidakpercayaan.
"Selama ini Ayah diam aja karena kamu anak Ayah. Tapi sekarang Ayah gak bisa tinggal diam, Halilintar. Kamu benar-benar anak kurang ajar!"
Halilintar menunduk, tetesan air mata ia biarkan luruh mengenai lantai. "Memang ... apa salahnya ketemu adik sendiri?"
TO BE CONTINUE
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] RANTAI LUKA
Fiksi PenggemarLuka tak harusnya ia miliki. Sebagai satu-satunya anak yang diperhatikan ayahnya, seharusnya Halilintar merasa bersyukur. Namun tidak dengan Halilintar. Di perlakukan sebaik itu justru membuatnya semakin membenci ayahnya, pria yang masih harus bel...
![[✔] RANTAI LUKA](https://img.wattpad.com/cover/370971493-64-k222134.jpg)