Chapter 29 ; Maaf

488 82 10
                                        

HAPPY READING

"Ayah." panggilan itu terdengar dari seorang remaja yang baru saja melangkahkan kakinya dari luar rumah, membawa sebuah medali di tangan kanannya. "Ayah harus stop melampiaskan amarah Ayah sama Gentar mulai saat ini."

"Kenapa kamu bilang begitu?" Amato meletakkan ponsel yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya, hingga sekarang atensinya terkunci pada Halilintar yang berdiri dekat meja.

"Karena kalau nanti gak ada aku lagi di sini, gak akan ada yang melindungi dia dari amarah Ayah."

Amato menarik napas panjang. Ia jarang sekali berbicara dengan Halilintar, tetapi sekalinya ada kesempatan harus membicarakan hal seperti ini.

"Kamu gak akan pergi kemana pun, nggak akan Ayah biarkan kamu meninggalkan rumah ini," sanggah Amato sembari berdiri dari duduknya, menghampiri putra sulungnya yang masih berdiri di tempat serupa.

"Bagaimana jika Tuhan yang mengambil aku dari Ayah?" Halilintar mengangkat sebelah alisnya, memandang sang ayah yang lebih tinggi darinya.

"Kenapa kamu bicara begitu?"

"Firasat, aku rasa?" Halilintar mengalihkan pandangannya ke arah lain, tampak berpikir sebelum kembali menatap Amato. "Maka dari itu aku minta agar Ayah berhenti main tangan pada Gentar, juga ... Gempa itu adikku. Dia anak Ayah."

Halilintar mengatakan itu tepat setelah anak itu pulang lomba, ketika Gempa sakit tanpa memberitahu Halilintar.

Lalu sekarang Amato berdiri didepan sebuah rumah minimalis, bercat putih yang menambah kesan elegan. Sejenak ia merasa ragu, akankah dirinya harus benar—benar mengetuk pintu dan masuk, atau hanya berdiri di sana tanpa kata.

Namun panik segera menyergap saat pintu yang sejak tadi tertutup kini terbuka perlahan, menampakkan seorang remaja yang begitu mirip dengan Halilintar, tetapi dia terduduk di kursi roda dengan kaki kiri terpasang brace.

Itu Gempa, anak yang selama ini tak pernah Amato anggap kehadirannya.

Gempa terkesiap, hampir saja menutup kembali pintu jika tidak ingat dengan sopan santun.

"Ibumu dimana?" tanya Amato tanpa berbasa—basi.

Gempa mundur perlahan agar tak menghalangi pintu masuk, cukup sulit sebab ia masih belum terbiasa dengan kursi roda.

"Ibu dibelakang," jawab Gempa setelah beberapa saat, meski sebenarnya ia ragu untuk menjawab. Walau tak begitu yakin, tetapi ia rasa orang ini adalah pria itu, ayahnya.

"Panggil dia ke sini," titah Amato, suaranya dingin.

"I—iya, se—sebentar." Gempa gelagapan, tidak tahu bagaimana harus bersikap, sebab di ingatannya Amato bukanlah pria yang baik.

Perlahan Gempa memutar kursi rodanya, membawanya menuju dapur untuk memanggil Mara yang saat ini sedang berada di halaman belakang rumah.

Amato menatap sekeliling. Setiap penjuru rumah ini dipenuhi oleh bunga yang Amato tidak tahu apa saja jenisnya. Mengingatkannya pada saat Mara masih menjadi istrinya, kala itu rumahnya pun dipenuhi bunga seperti ini.

Jika bukan karena keegoisannya, mungkin semua tak akan berakhir begini.

Tak berselang lama tampak dari dalam rumah, seorang wanita menghampiri dengan tangan kanan memegang sebuah buku. Di belakangnya Gempa memperhatikan, tak terpikir sedikitpun dalam benaknya untuk menghampiri.

"Untuk apa kamu ke sini? Menghancurkan hidupku lagi?" tanya Mara tanpa pikir panjang. Ekspresinya memang biasa saja, tetapi tatapannya seperti menyimpan kilatan amarah yang telah lama dipendam.

[✔] RANTAI LUKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang