Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 26 ; Perbaiki selagi bisa

646 98 9
                                        

HAPPY READING!

Amato menatap telapak tangannya, rasa bersalah memang tak pantas datang. Namun setelah beberapa saat, ia menyesal telah melakukannya.

Pandangannya kembali teralih pada ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya, tepat disamping cangkir kopi yang dirinya buat sendiri. Panggilan suara masih tersambung di sana, belum ia matikan sejak beberapa saat lalu.

"Sikap anakmu saat ini adalah hasil dari didikan kamu selama ini." suara temannya terdengar, tampaknya jengkel dengan apa yang telah ia lakukan selama ini. "Coba pikirkan baik-baik. Andaikan Mara memang pergi dengan anak itu, selama sikapmu masih baik pada mereka berdua. Halilintar tidak akan seperti ini."

Amato menarik napas panjang, tak tahu harus berkata apa. Sialnya ucapan temannya itu memang benar, letak kesalahannya memang ada pada dirinya.

"Tapi, kamu tahu sendiri bagaimana anak-anakku. Mereka susah diatur, apalagi Gentar."

"Ubah sikap kamu, Amato. Perbaiki semuanya selagi bisa."

Panggilan terputus tak lama setelahnya, meninggalkan Amato dengan hening. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya teralih pada langit-langit putih di atas sana.

"Memperbaiki? Bagaimana cara memperbaikinya?"


𓏲ּ ֶָ

Sejak hari itu, Halilintar benar—benar menghindari Amato. Tatapan benci selalu terlihat jelas dari kedua iris ruby—nya. Bahkan saat sang ayah memanggil, Halilintar seolah tuli pada suara itu.

Halilintar jelas kecewa, terlebih lagi alasan Amato memarahinya tempo lalu hanya karena ia bertemu dengan adiknya. Memang, di mana letak kesalahan seorang kakak yang ingin menjenguk adiknya yang sakit?

Kendatipun Gempa bukan anak Amato, tetapi remaja itu tetaplah adik Halilintar.

"Ibu suka donat, tapi suka pancake juga. Jadi aku harus beli yang mana?" Gempa memandang Halilintar yang berdiri di samping kanannya sembari memakan es krim yang sebelumnya dibeli, punya Gempa sudah habis.

"Kenapa gak beli keduanya?"

"Nah itu dia masalahnya. Uang aku nggak akan cukup—" ucapan Gempa terhenti, bersamaan dengan matanya yang membulat sempurna ketika melihat beberapa lembar uang Halilintar letakkan di telapak tangannya.

Gempa berkedip dua kali, memastikan bahwa ini bukan ilusi, lantas menatap kembali kakaknya yang sama sekali tak berekspektasi. "Kamu nyuri di mana? Perasaan laki—laki itu juga bukan miliarder."

"Aku bisa ngasilin uang sendiri," balas Halilintar singkat. Tatapannya terkunci pada pertigaan di depan sana, tempat yang membuatnya selalu teringat pada kejadian menyedihkan di masa lalu.

"Dari renang?"

Halilintar mengangguk.

"Bukannya kamu cuma dapet medali atau Piala gitu pas lomba? Uangnya dari mana?"

"Dikasih guru."

Gempa manggut—manggut. Setelah mengucapkan terima kasih, kakinya lantas bergerak menuju kedai yang menjual berbagai macam roti. Di sana ada donat juga, Mara biasanya langganan membeli di sana.

"Kamu bilang mau beli hadiah buat Gentar? Emang kapan ulang tahunnya?" tanya Gempa, ingat jika tadi Halilintar mengajaknya untuk menemani membeli hadiah, katanya Gempa juga harus tahu apa yang dia beli.

[✔] RANTAI LUKACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang