32. Rindu

380 62 1
                                        

"Aku sama Halilintar sepupuan?" ekspresi bingung nampak jelas di wajah Taufan ketika ia pandang Kuputeri yang duduk disampingnya sembari mengusap lembut surai cokelatnya.

"Jadi itu sebabnya dia selalu baik ke aku selama ini? Bukan cuma karena kita teman, tapi karena kita masih sodara?" lanjutnya bertanya.

Kuputeri mengangguk. Bibirnya sedikit tersenyum kendati luka menganga di hatinya mana mungkin dapat terobati dalam hitungan detik. Masih terekam jelas dalam ingatannya kala polisi datang ke rumahnya, mencari Beliung yang saat itu tengah bertengkar dengan Taufan di kamar.

Masih ia ingat saat anaknya mengakui kesalahannya hingga berakhir mendapatkan hukuman penjara.

"Halilintar itu sudah Mama asuh sejak dia masih bayi, sampai akhirnya Mama mengandung kamu." Kuputeri menyandarkan kepala ke dinding di samping kanannya, sementara Taufan ikut bersandar ke pelukan sang ibu. "Dia nggak rewel, palingan nangis sesekali. Senyumnya manis banget, setiap suara yang dia keluarin selalu candu buat Mama."

Taufan memandang Kuputeri beberapa saat sebelum fokusnya teralih pada kupu—kupu yang terbang di halaman rumah, seakan menari di sekitar bunga yang tertanam cantik tanpa lecet sedikit pun.

Keduanya duduk di teras rumah, menikmati embusan udara pagi seraya berharap

"Ma, kalau Kak Beliung sama Halilintar tahu mereka sepupuan. Kenapa cuma aku yang gak tahu?" tanyanya dengan pandangan lurus ke depan, sementara tubuhnya masih dipeluk Kuputeri.

Kuputeri menunduk, ia mengecup lembut pucuk kepala Taufan lantas beralih mengusap pipi putranya. "Mama nggak mau kamu terluka setelah mengetahui kebenarannya," bisiknya.

"Tapi aku malah semakin terluka kalau terus—menerus kalian bohongi."

"Maaf ya, sayang."

Tak ada lagi kalimat yang Taufan sampaikan selain helaan napas berat dalam artian dia lelah. Tak pernah ia menyangka bahwa orang yang ia pikir hanya sahabat adalah sepupunya sendiri, bahkan tak pernah terbesit dalam benaknya bahwa Beliung akan menghabisi Halilintar hanya karena cemburu.

Ia tak pernah tahu jika orang yang telah menyakiti ayahnya adalah kakak dari pria itu sendiri, ayah dari seseorang yang sudah ia anggap lebih dari sekadar teman.

Halilintar itu sudah seperti kakak baginya, meski sikapnya terkadang terlihat tak peduli pada apa pun.


𓏲ּ ֶָ

Ternyata banyak hal yang tidak ia ketahui selama ini, terutama setiap kata yang disembunyikan dengan maksud melindunginya.

Kalau nyatanya aku sama Halilintar emang sepupuan. Itu artinya Gempa juga sepupu aku, kan?

Tatapannya lantas tertuju pada seseorang yang sejak tadi duduk di ayunan, di playground yang selalu mereka datangi untuk menghabiskan hari bersama ketika pulang sekolah.

Blaze berdiri didepan ring, sesekali men—dribble bola basket sampai akhirnya berhenti dengan kepala menoleh ke samping. Biasanya Halilintar ada di sana, berebut dengan Blaze untuk mendapatkan skor paling tinggi.

Sedangkan Taufan selalu memperhatikan mereka dari jauh sambil tertawa setiap kali kata tak sengaja keluar dari mulut temannya. Apalagi Blaze, orang itu suka sekali berkata random.

Tapi sekarang, kenapa hening sekali?

Taufan menarik napas panjang, kakinya ia gerakan menghampiri Gempa yang tengah duduk di ayunan tanpa sepatah kata pun, dirinya hanya memandang paving block dengan mulut bungkam.

[✔] RANTAI LUKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang