SEMOGA MASIH ADA YANG SUKA SAMA CERITA INI.
KARENA JUJUR AJA, AKU NGERASA KALAU CERITA INI NGEBOSENIN MAKANYA LAMA NGGA UPDATE UPDATE🙁
HAPPY READING
Langit sore adalah salah satu objek yang baginya adalah keajaiban dunia, sama seperti Mara yang bagaikan oasis di tengah gurun pasir. Bukan hanya sekedar fatamorgana belaka.
Gempa duduk di atas ranjangnya, di depannya terdapat beberapa novel yang baru ia baca setengah dari setiap buku. Di lantai kamar terlihat berbagai warna cat tumpah yang masih belum di bersihkan, di biarkan begitu saja hingga mengering.
Ia bukan tipe orang pemalas yang tak pernah memiliki keinginan untuk membersihkan kamar, namun khususnya untuk saat ini, Gempa sedang tak ingin melakukan itu semua.
"Kalau ada Gentar di sini, mungkin rumah gak akan terlalu sepi." Gempa merebahkan tubuhnya, mengatur posisinya hingga dalam posisi miring sehingga kini tatapannya tertuju pada jendela yang memperlihatkan indah senja ketika matahari semakin terbenam.
Seharian ini Gempa menghabiskan waktunya bersama Gentar, namun ia masih tetap merindukan adiknya. Bahkan sudah beberapa hari ini Gempa lebih sering bersama Gentar di banding yang lainnya.
Gempa tersenyum tipis, "meskipun mustahil, tapi aku tetap akan berharap kalau suatu hari ini Kak Lintar mau berubah dan kembali melihat ke arahku, dan kita berbahagia bersama." ucapnya.
Sejak tadi Gempa tak benar-benar sendirian, tetapi ada Taufan yang menemaninya. Entah sejak kapan dirinya dan Taufan jadi sedekat ini, padahal sebelumnya tak begitu.
"Sampai detik ini aku masih belum tau apa hubungan kamu sama Halilintar. Di liat dari manapun kalian punya wajah yang serupa, sulit kalau seandainya ada yang bilang kalau kalian cuma orang asing yang kebetulan ketemu." Taufan yang sedari tadi duduk di lantai sembari bermain game di ponsel pintarnya pun akhirnya berbicara, menanyakan rasa ingin tahu yang tak dapat di bendung lagi untuk menjadi rahasia diri sendiri.
"Dia ..." Gempa menggantung kalimatnya, bimbang antara harus mengatakan hal ini dengan jujur atau mungkin tidak. Taufan menatapnya dengan penasaran, menghiraukan ponselnya yang sejak tadi menjadi fokusnya, "kita sodaraan.".
"Dan Halilintar kakak kamu?".
Pertanyaan itu lantas mendapatkan anggukan dari Gempa.
"Ketebak ya?" Gempa terkekeh pelan ketika menyadari pertanyaan bodohnya. Memangnya orang mana lagi yang tidak akan menyadari letak kemiripan antara ia dan kakaknya, bahkan Duri pun begitu ketika pertama bertemu.
Taufan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, hingga senyuman terukir di wajah manisnya, "ya, gimana ya? Mau di liat dari sisi manapun, kalian emang beneran mirip. Kayak kembar gitu?".
"Gak juga, dia lahir setahun lebih dulu." Gempa menghela napas panjang, tatapannya tertuju pada foto dimeja, foto terakhir yang ia ambil dengan Halilintar 12 tahun lalu.
"Seandainya kita lahir barengan, Ibu sama Ayah mungkin gak akan pisah." lanjutnya, netranya tampak sendu, bahkan Taufan pun menyadarinya.
Sebenarnya sejauh mana Halilintar sudah menyimpan rahasia pada Taufan. Padahal sudah bertahun-tahun mereka berteman, tetapi sekalipun orang itu tak pernah menceritakan tentangnya pada Taufan. Jika bukan karena Gempa, mungkin Taufan tak akan tahu jika Halilintar dan Gempa merupakan saudara.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] RANTAI LUKA
FanfictionLuka tak harusnya ia miliki. Sebagai satu-satunya anak yang diperhatikan ayahnya, seharusnya Halilintar merasa bersyukur. Namun tidak dengan Halilintar. Di perlakukan sebaik itu justru membuatnya semakin membenci ayahnya, pria yang masih harus bel...
![[✔] RANTAI LUKA](https://img.wattpad.com/cover/370971493-64-k222134.jpg)