HAPPY READING!
Gempa duduk di ayunan di playground yang tak terlalu ramai, ia memandang Taufan yang sedang berdiri di dekatnya.
"Aku penasaran soal Halilintar," Gempa memulai sambil tetap menatap lurus ke depan tepat dimana terdapat Blaze dan Halilintar yang sedang pamer kehebatan mereka dalam main basket pada beberapa anak kecil yang kini terkagum—kagum pada mereka.
"Penasaran mengenai apa? Barangkali aku bisa bantu kalau kamu nanya," Taufan membuang botol plastik bekas air mineral ke tempat yang seharusnya, hingga dia kembali ke sisi Gempa dan duduk di ayunan yang satunya lagi.
Sejak kepindahan Gempa tiga hari lalu Taufan memang cukup akrab dengan Gempa, hal itu Taufan lakukan karena ingin membantu Gempa untuk jadi lebih dekat dengan Halilintar lantaran mau dilihat dari sudut pandang manapun, Gempa sepertinya sangat ingin berkenalan dengan Halilintar.
"Halilintar, harusnya dia sekarang udah kelas sebelas kan?" akhirnya keluar juga pertanyaan yang sudah ia pendam selama beberapa hari.
Taufan menghentikan ayunannya yang mengayun pelan, sejenak ia menatap Gempa lalu kembali mengayunkan ayunan dengan tempo cepat, "aku juga sempet heran waktu pertama kali tahu, terlebih lagi Halilintar emang kelebihan kalsium yang bikin beberapa orang gak akan percaya kalau saat itu usianya baru sepuluh tahunan," jawab Taufan.
"Tapi katanya, Halilintar dulu sempet sakit parah yang lama banget, jadi dia harus ngulang kelas." Taufan melanjutkan ucapannya.
Gempa mengerutkan kening, ia merasa semakin penasaran, "sakit parah? Yang kayak gimana?".
"Entahlah, aku gak tau detailnya," Taufan semakin cepat mengayunkan ayunan, membuatnya seakan terbang di udara, "soalnya aku juga murid pindahan saat itu. Aku baru kenal Halilintar waktu dia ngulang kelas 4. Jadi aku gak tau banyak tentang masa lalu dia sebelum itu, dan Halilintar orangnya tertutup jadi susah buat mengorek informasi soal dia.".
Gempa mengangguk pelan, matanya memandang kosong ke arah depan, "jadi ... dia ngulang gara—gara sakit, ya. Tapi kenapa gak pernah cerita ke kamu?".
Taufan menggeleng pelan, "Halilintar emang pendiam, dia nggak suka ngomongin masalah pribadi. Selama enam tahun kenal Halilintar, aku bahkan gak pernah tau kalau dia punya sodara atu nggak, aku juga gak pernah tau seperti apa orang tuanya.".
Tanpa sadar Taufan jadi terlalu banyak bicara, entah mengapa namun rasanya Taufan nyaman ketika mengobrol dengan Gempa, sama halnya ketika sedang mengobrol dengan Halilintar kendati Halilintar jarang menanggapinya dengan ucapan. Gampangnya, Halilintar itu pendengar.
Gempa menarik napas dalam, merasa sedikit bersalah karena selama ini tidak mengetahui setiap kisah milik Halilintar, seandainya ia tidak pergi, sepertinya mereka tidak akan jadi seasing ini.
"Tapi ..." Taufan menghentikan laju ayunannya dan menatap Gempa dengan intens, "darimana kamu tau kalau saat ini Halilintar harusnya udah kelas sebelas?".
Tiba—tiba Taufan curiga, jangan bilang Gempa adalah orang yang telah lama menguntit Halilintar tanpa sepengetahuan Halilintar sendiri. Jika memang betul, maka saat ini pun akan Taufan hanguskan Gempa di depan Halilintar.
Gempa terdiam sejenak, ia takut jika jawabannya nanti malah akan membawanya pada petaka, terlebih lagi sepertinya Halilintar tidak ingin orang tahu mengenai latar belakang mereka.
"Aku teman masa kecil dia ... kayaknya," ucap Gempa namun terdapat keraguan dalam kalimatnya yang membuat Taufan semakin menatapnya intens lantaran kecurigaannya semakin besar.
"Kamu yakin?" Taufan memastikan, ia turun dari ayunannya dan kini berdiri didepan Gempa.
Gempa mengangguk, "memang benul kok," ucapnya terdengar polos, tak sedikitpun curiga dengan apa yang akan Taufan lakukan selanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] RANTAI LUKA
FanficLuka tak harusnya ia miliki. Sebagai satu-satunya anak yang diperhatikan ayahnya, seharusnya Halilintar merasa bersyukur. Namun tidak dengan Halilintar. Di perlakukan sebaik itu justru membuatnya semakin membenci ayahnya, pria yang masih harus bel...
![[✔] RANTAI LUKA](https://img.wattpad.com/cover/370971493-64-k222134.jpg)