HAPPY READING!
Memperhatikan Halilintar dari kejauhan bagaikan rutinitas Gempa saat ini. Setiap jam, setiap menit, matanya selalu terpaku pada sosok yang selalu membuatnya kagum setiap saat.
Di tengah hiruk-pikuk kelas yang menggema, rungunya hanya akan menangkap satu bunyi, yaitu suara dari si pemilik mata elang.
Jemarinya yang semula menari di atas kertas menggoreskan sebuah tinta dalam bentuk tulis, terhenti ketika seseorang menghampirinya. Segera ia tutup bukunya agar tak ada yang membaca.
"Nulis apa tuh? Kasih tau dong," Taufan tersenyum, ia berdiri di depan Gempa yang kini tengah memasukan bukunya ke kolong meja.
Gempa menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat ketika ia membalas senyuman manis dari Taufan, "cuma nulisin jumlah hutang Blaze ke kantin." ucapnya.
Mendengar kalimat Gempa membuat Blaze yang sedang main kartu bersama Duri mengernyit bingung. Pikirnya, kenapa tiba-tiba ia terlibat dalam pembicaraan dua orang yang tadi pagi terpeleset di kelas saat lantai masih baru di pel.
"Omong-omong bentar lagi sekolah libur kan?" Taufan menarik kursi milik Solar ke dekat meja Gempa agar ia bisa dekat di samping Gempa tanpa perlu repot-repot mengangkat kursi miliknya yang ada di ujung dunia.
Gempa yang mendengar pertanyaan itu hanya mengangguk sebagai balasan.
"Ada rencana pergi liburan?".
Kali ini Gempa menggelengkan kepalanya, "nggak, ada hal yang lebih penting di banding liburan." ucapnya.
"Apaan tuh?" tanya Taufan, ia jadi semakin kepo dibuatnya. Karena semakin di rahasiakan Taufan akan semakin penasaran, semakin ingin tahu dengan apa yang di sembunyikan orang-orang.
"Ada, sesuatu yang gak penting buat kamu denger." balas Gempa seadanya, mana mungkin Gempa mengatakan sejujurnya jika rencana liburannya semester ini adalah membaca manhwa yang sudah ia tabung selama lima bulan.
"Kirain kayak Halilintar," Taufan melirik Halilintar yang sedang wafer di pojokan, ia duduk di lantai bersama Ice juga Solar, mereka sama-sama memakan snack yang tadi di beli dari kantin seraya menonton anime berjudul Frieren Beyond Journey's End.
"Halilintar?".
Taufan mengangguk.
"Iya, Halilintar. Biasanya orang itu bakalan ngabisin waktunya sama novel selama liburan, kalau gak novel ya jadi duyung." ujar Taufan, matanya belum juga teralih dari Halilintar yang sampai saat ini masih berdiam di tempatnya.
Taufan memang tidak mengetahui latar belakang Halilintar, tak kenal siapa keluarganya, tak tahu seperti apa Halilintar sebenarnya. Namun, ia tahu beberapa kebiasaan Halilintar yang sering dilakukan ketika libur sekolah.
Entah karena alasan apa, tetapi selama hampir enam tahun mengenalnya, Halilintar tak pernah mengizinkan atau mengajak Taufan ke rumahnya. Membiarkan Taufan mengetahui siapa nama ayah dan ibunya pun, Halilintar tak pernah melakukannya.
"Hah? Duyung?" Gempa meminta penjelasan, apalagi sekarang pikirannya sedang mencoba membayangkan Halilintar yang memiliki ekor ikan.
Akan seperti apa ekor Halilintar jika dia menjadi makhluk mitos itu? Apa akan mirip ikan mujair?
Taufan tertawa kecil, lalu menggeleng pelan, "lupain aja, gak penting juga kan kalau misalkan Halilintar jadi duyung atau kitsune? Yang penting dia bernapas dan hidup.".
"Harusnya iya," balas Gempa cukup singkat, karena nyatanya semakin ia mendengarkan ucapan Taufan, otaknya malah semakin memintanya untuk membayangkan Halilintar menjadi ikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] RANTAI LUKA
FanfictionLuka tak harusnya ia miliki. Sebagai satu-satunya anak yang diperhatikan ayahnya, seharusnya Halilintar merasa bersyukur. Namun tidak dengan Halilintar. Di perlakukan sebaik itu justru membuatnya semakin membenci ayahnya, pria yang masih harus bel...
![[✔] RANTAI LUKA](https://img.wattpad.com/cover/370971493-64-k222134.jpg)