KANGEN SAMA CERITA INI?
MAAF LAMA GA UPDATE CERITA, SOALNYA AKU JUGA GA TAU KARENA APA
OMONG OMONG BUAT YANG BINGUNG KENAPA JUDULNYA TIBA-TIBA GANTI, ITU KARENA CERITANYA SAMA SEKALI GA COCOK KALAU BERJUDUL "REVENGE"
HAPPY READING!
Taufan berdiri di tengah lapangan dengan wajah berseri—seri, ia mengenakan jersey birunya yang sudah basah oleh keringat. Di sampingnya ada Duri yang sejak tadi tersenyum di tengah penderitaan orang lain.
Pertandingan basket baru saja selesai, dan timnya berhasil unggul tipis dengan skor 58—56. Sorak—sorai teman—temannya yang berkumpul di pinggir lapangan semakin membuat Taufan merasa berada di puncak dunia.
Taufan jadi tidak sabar memamerkan kemenangan ini pada Mama dan Papa nanti, mereka pasti senang atas keberhasilannya.
"Tembakan tiga poin kamu tadi keren banget lho! Aku yakin penonton dari sekolah songong SMA Pulau Rintis itu sampe terkagum—kagum ngeliat kehebatan The Sky dari SMA Elementer ini," ucap Duri, seraya merangkul bahu Taufan.
Omong—omong, The Sky adalah nama julukan untuk Taufan yang Duri buat sendiri. Dengan begitu, Duri berharap Taufan bisa melangkah lebih tinggi lagi dan melampaui bintang—bintang yang kini bersinar dengan terang.
Taufan tertawa kecil, kemudian menghapus keringat dari dahinya, "bukan cuma aku, tapi kamu juga. Tim kita udah kerja keras, aku yakin pelatih juga seneng kalau seandainya beliau liat kita tadi.".
Seandainya pelatih memang datang, pria kepala tiga itu pasti senang karena kemenangan murid—muridnya, apalagi ia pasti akan lebih senang jika melihat secara langsung. Namun, karena kemarin jatuh sakit, makanya pria itu tidak datang hari ini.
Mereka mulai berjalan keluar lapang basket, berniat menghampiri teman—teman yang lain, Blaze juga kelihatannya sudah selesai tanding futsalnya.
Namun, ketika mereka mencapai tepi lapangan futsal yang bersebelahan dengan lapangan basket, sebuah bola sepak tiba—tiba melayang ke arah mereka dengan cepat. Taufan bahkan belum sempat bereaksi ketika bola itu menghantam sisi kepalanya dengan keras.
Taufan terhuyung ke belakang, ia kehilangan keseimbangan. Kepalanya terasa berdenyut hebat, dan pandangannya mulai kabur.
Duri langsung menangkap tubuh Taufan sebelum ia jatuh sepenuhnya ke tanah, "Fan! Kamu nggak apa—apa?!" tanya Duri panik melihat darah yang mulai mengalir dari hidung Taufan.
Taufan mengangkat tangannya ke hidung, mendapati darah segar mengotori tangannya.
"Hah?" Taufan menyipitkan matanya, berharap dengan begitu penglihatannya kembali jelas. Jelas sekali ia kebingungan, padahal jarang—jarang Taufan mimisan.
Duri memandang sekeliling, mencari tahu dari mana bola itu berasal, sampai ia melihat seorang murid dari SMA Pulau Rintis berdiri dengan santai di dekat lapangan futsal, terlihat tersenyum ke arahnya.
Bocah itu jelas—jelas sengaja menendang bola ke arah Taufan.
"Hei! Cari masalah, ya?!" teriak Duri dengan nada marah. Tapi memang pada dasarnya Duri ini bukan si tempramen Blaze, Frostfire yang merupakan pelaku sama sekali tidak takut.
"Iseng doang, emang gak boleh?" jawabnya tanpa rasa bersalah.
Suara langkah kaki mendekat terdengar tiba—tiba, Duri beserta Frostfire refleks menoleh, takut—takut jika yang datang adalah guru. Namun nyatanya yang menghampiri lebih menyeramkan dari guru, siapa lagi jika bukan Beliung, si cowok paling protektif jika soal Taufan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] RANTAI LUKA
FanfictionLuka tak harusnya ia miliki. Sebagai satu-satunya anak yang diperhatikan ayahnya, seharusnya Halilintar merasa bersyukur. Namun tidak dengan Halilintar. Di perlakukan sebaik itu justru membuatnya semakin membenci ayahnya, pria yang masih harus bel...
![[✔] RANTAI LUKA](https://img.wattpad.com/cover/370971493-64-k222134.jpg)