Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 23 ; Boleh cerita?

681 108 17
                                        

HAPPY READING!

Gentar melangkah cepat menuju rumah saat harum nasi goreng melayang di udara. Ia hampir tersandung lantaran berlari, tetapi ia abai dan terus menjejakkan kakinya semakin masuk ke rumah.

Begitu sampai dapur, ia melihat Halilintar di sana. Duduk di kursi, di depannya terdapat dua piring nasi goreng dengan ponsel menyala, menampakkan vidio kartun berjudul Oscar's Oasis.

Gentar baru tahu jika kakaknya masih suka menonton film itu juga.

"Tadi gak sekolah?" tanya Gentar, padahal jelas jika seragam sekolah masih melekat di tubuh Halilintar.

Halilintar menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan makannya. "Pulang cepet."

Gentar manggut—manggut, lantas ia memilih duduk di samping Halilintar. Tanpa banyak kata, Halilintar menggeser piring satunya lagi ke hadapan Gentar, mempersilahkan adiknya untuk makan.

Sudut bibir Gentar terangkat saat puluhan kupu—kupu seakan menggelitik perutnya, rasanya tak pernah sekalipun Gentar berpikir bahwa ia akan mendapatkan perlakuan agak manis dari kakaknya.

Biasanya lelaki itu acuh tak acuh padanya, seringkali memberikan harapan palsu.

Halilintar mematikan layar ponselnya, menyimpannya di samping piring. Tatapannya sejenak teralihkan pada Gentar yang makan lahap di sampingnya.

Aneh rasanya, padahal dulu Halilintar menjauhi Gentar mati—matian, namun mengapa sekarang malah begini?


𓏲ּ ֶָ

Seharian Gempa hanya bisa berbaring di tempat tidur, seperti orang yang sakit keras, padahal ia hanya demam.

Meski tahu jika dirinya hanya demam karena katanya sekarang memang sedang musim, tetapi Gempa tetap berpikir bahwa hidupnya sudah tak lama lagi.

Sebelumnya Mara memang sudah membawa Gempa ke dokter lantaran cemas, namun dokter berkata bahwa Gempa akan segera sembuh, jangan terlalu khawatir.

Gempa akhirnya bangkit dari ranjang, sedikit terhuyung sebab pusing yang mendera. Dengan langkah gontai, ia melangkah menuju dapur, menghampiri ibunya yang tengah memasak di sana.

Hari ini Mara memang tidak pergi kerja sebab ia tak mungkin meninggalkan anaknya yang sedang sakit. Apalagi Gempa itu akan lebih manja saat sakit, khususnya saat demam.

"Ibu bikin apa?" tanya Gempa sembari memeluk Mara dari belakang. Menyandarkan dagunya di bahu sang ibu, mata sayunya menatap ke arah panci berisi sup.

Mara mengusap tangan Gempa yang memeluknya, sebuah senyum terlukis di bibirnya kendati putranya tak bisa melihat itu. "Sup ayam, buat kamu. Tadi kamu bilang pingin yang hangat—hangat."

Gempa terkekeh pelan, lantas melepaskan pelukan itu dan beralih mendudukkan dirinya di kursi dekat meja makan. Berlama—lama berdiri membuat perutnya mual, terlebih kepalanya pun semakin pusing.

"Tapi Ibu nggak perlu repot—repot lho, apa pun pasti aku makan kok," sahutnya kemudian.

"Bohong banget, tadi aja di kasih bubur ayam kamu nggak mau. Padahal enak," timpal Mara sambil melirik anaknya, sedangkan yang di tatap justru tersenyum.

[✔] RANTAI LUKACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang