34. Chronograph

496 65 18
                                        

Siang ini, langit redup tanpa bayangan matahari. Burung—burung berteduh diam di bawah dedaunan pohon, udara terasa lembab, dan dingin menusuk.

Gumaman doa terdengar di bawah rintik hujan, isak tangis diam—diam menyapa. Aroma tanah basah yang selalu ia sukai, kini terasa lebih menyakitkan dari sayatan pisau.

Andai aku maafin Ayah, mungkin hal ini gak akan terjadi.

Gentar memandang gundukan tanah yang masih baru. Tak senyum, bahkan sorot matanya seakan tenggelam dalam pikiran.

Sebagian orang yang melayat telah pulang lantaran hujan turun semakin deras, kendati masih ada beberapa yang tinggal. Mengucapkan belasungkawa, tak luput tatapan iba yang tertuju untuk Gentar.

"Kasian ya. Belum sebulan sejak kakaknya meninggal, sekarang di susul ayahnya juga." seseorang berbisik dibelakang Gentar, tetangganya yang selalu menyapa setiap kali Gentar lewat didepan rumahnya.

Gentar sama sekali tak tahu apa yang terjadi. Namun ketika hendak ke dapur tadi pagi, ia menemukan Amato yang tergeletak tak sadarkan diri. Sempat di bawa ke rumah sakit, namun nasib baik tak berpihak padanya.

Dokter bilang overdosis obat.

"Kak, kamu bilang kita akan ketemu hari ini, kan? Tapi, bukan ini pertemuan yang aku harapkan."

Gentar menoleh, menatap pria yang tadi sempat mengenalkan diri jika namanya adalah Angin, pamannya Gentar.

Tak ada air mata yang menetes dari netra biru Angin. Namun, getar suaranya menjelaskan bahwa dirinya benar—benar kehilangan sosok kakak yang disayanginya.

Disamping Angin, berdiri Kuputeri juga Taufan. Merangkulnya, memberikan sebuah kehangatan. Sementara, Gentar merasa seperti berdiri sendiri kendati Mara berdiri tepat di sisi kirinya. Wanita itu memegang payung, melindungi Gentar dari hujan.

Meski tahu bahwa Mara adalah ibunya, tetapi rasa asing tetap mencengkeram dada, seakan menjelaskan bahwa selama dua belas tahun, sosok itu tak pernah merangkulnya.

"Aku mau pulang, Bu." setelah berdiam cukup lama, akhirnya Gentar angkat bicara. Suaranya pelan, persis seperti bisikan.

Mara mengalihkan perhatiannya, menatap Gentar dengan ragu. "Kamu yakin, Nak? Atau mau pulang ke rumah Ibu aja? Di sana ada Kak Gempa."

Gentar menggeleng, sekilas senyum samar nampak di bibirnya. "Aku mau sendiri dulu, mungkin nanti aku bakal ke sana, ke rumah Ibu."

Mara menarik napas panjang. "Kalau begitu Ibu ikut, ya? Mana mungkin Ibu ninggalin kamu sendiri sekarang, biar nanti Ibu suruh kakak kamu buat ditemani sama temen—temennya aja," ucapnya.

"Biar nanti Gempa ditemani Taufan aja, Kak," sahut Angin sambil menyentuh bahu anak bungsunya. "Adek mau, kan?"

Taufan mengangguk, lagi pun sudah sejak kemarin ia tidak bertemu Gempa, rasanya rindu sekali dengan sepupunya itu. Tanpa sengaja Taufan bertatapan dengan Gentar, namun segera terputus saat Gentar memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Kalau gitu aku pulang duluan. Makasih udah datang Om, Tante, dan Kak Taufan." Gentar memaksakan sebuah senyum, meski sulit sekali rasanya untuk saat ini. Setelah itu, Gentar melangkah pergi dengan Mara yang mengikuti dari samping sembari memayunginya.


𓏲ּ ֶָ

Sesampainya di rumah, Gentar langsung masuk ke kamarnya. Sementara, Mara katanya akan beres—beres rumah dulu. Gentar sempat heran saat Mara tahu setiap sudut rumah ini, namun akhirnya ia ingat bahwasanya dulu Mara pernah tinggal di rumah ini.

[✔] RANTAI LUKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang