27

158 24 8
                                        


Seungwan mulai siuman. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit putih ruang rawat yang terasa asing.

Ia menoleh pelan, mencari sesuatu di atas nakas, tapi tidak ada.

Tak lama, pintu terbuka. Seulgi masuk dengan senyum lega.

“Oh, Nona Son. Kamu sudah sadar.”

“Dokter Kang…” suara Seungwan lemah. “Sudah berapa lama aku di sini?”

“Tidak lama. Hanya beberapa jam,” jawab Seulgi sambil mengecek infusnya. “Bagaimana perasaanmu?”

“Aku merasa… cukup baik.”

“Bagus. Tolong jangan memaksakan diri dulu. Dan jangan terlalu banyak berpikir, ya.”

Seungwan mengangguk pelan. Kemudian ia tersenyum samar.

“Dokter Kang… kamu ingat saat aku dan Joohyun pernah menakutimu? Waktu kami mengantarmu pulang?”

Seulgi sempat kaget, matanya membelalak kecil. “Oh? Kamu ingat itu?”

“Aku baru saja mengingatnya,” Seungwan tertawa pelan. “Dokter Kang, boleh aku pulang sekarang? Aku harus bertemu Joohyun. Aku ingin memberitahunya... aku sudah ingat semuanya.”

Seulgi menatapnya diam-diam. Ada kekhawatiran dalam tatapannya.

“Kamu bisa pulang setelah infusmu habis. Tapi... mungkin Joohyun belum bisa menemuimu sekarang. Dia masih sangat sibuk.”

Seungwan melirik ke infus yang masih setengah penuh. Ia menggigit bibir.

“Apakah Joohyun tahu aku di sini?”

Seulgi tersenyum kecil dan mengangguk. “Dia sempat datang sebentar, lalu pergi lagi. Ada urusan.”

“Urusan apa?” suara Seungwan menegang. “Apa penting sekali sampai dia meninggalkanku?”

Seulgi terlihat gelisah. Jemarinya bergerak tak tenang di sisi celana dokternya.

“Kamu istirahat sebentar, ya. Nanti aku yang antarkan pulang.”

Seungwan tak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit, matanya menerawang.

***

💠

Di kantornya, Seulgi berkali-kali mencoba menelpon Joohyun. Tak ada jawaban.

Akhirnya, diangkat.

“Syukurlah kamu angkat. Kamu di mana?”

“Seulgi? Ini aku, Suho.”

Seulgi tertegun. Ia memastikan lagi nama yang tertera di layar: Joohyun.

“Oh… Suho? Kenapa kamu yang angkat?”

“Dia sedang di kamar kecil. Ada pesan?”

“Bilang saja aku butuh bicara. Suruh dia hubungi aku.”

Sambungan terputus. Seulgi terdiam, menatap layar yang kini gelap.

***

💠

Sore itu, Seulgi menepati janji. Ia mengantar Seungwan pulang.

“Aku ingin ke kantor sebentar. Ponselku ketinggalan di sana,” kata Seungwan.

“Kau tidak langsung pulang saja?”

“Aku ingin menelpon Joohyun.”

Seulgi menoleh ke luar jendela. Helaan napas panjang meluncur dari bibirnya.

Ia masih mencoba memahami—kenapa Joohyun kembali pada Suho. Ia tahu betul, Joohyun pernah hancur karena pria itu. Tapi kehancurannya tak sebanding dengan saat ia kehilangan Wendy.

Who are youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang