“Ada jarak yang tidak bisa dijembatani—bukan karena terlalu jauh, tapi karena terlalu lama dibiarkan.”
Dua Tahun Kemudian
Dua tahun telah berlalu.
Waktu tidak pernah benar-benar menyembuhkan luka, tapi ia pandai menyamarkannya—menambal perlahan dengan rutinitas, jarak, dan kesibukan yang tak pernah habis.
Meski mereka kini tak lagi di kota yang sama, di bawah langit yang sama, mereka menjalani kehidupan masing-masing dalam diam yang tak terucap.
Tak ada yang benar-benar ingin dibicarakan tentang hari itu. Tentang undangan yang diterima dengan tangan gemetar. Tentang langkah berat yang meninggalkan seseorang yang terisak di lantai. Tentang pandangan yang tak sempat diakhiri, dan keputusan yang diambil terlalu cepat.
Kini, segalanya tampak berbeda.
Wendy… sudah jauh lebih kuat. Atau setidaknya begitu yang ia katakan pada dunia.
Joohyun… masih menyimpan segunung perasaan di balik senyum yang tak pernah berubah.
Namun waktu, sehebat apa pun ia menyembunyikan, tak mampu membohongi apa yang belum selesai.
Dan pada akhirnya, apa yang belum selesai, akan selalu mencari jalan untuk kembali.
.
.
.
Kembali...
Setelah peristiwa di aula itu, Wendy terbangun di ruang gawat darurat sebuah klinik tak jauh dari gedung pernikahan. Kepala berat, mata bengkak. Di samping ranjang, Chanyeol duduk menatapnya penuh kekhawatiran.
Seulgi berdiri tak jauh, wajahnya lelah namun tetap siaga.
“Joohyun...” kata pertama yang terucap dari bibir Wendy, samar seperti bisikan.
Chanyeol menggenggam tangannya erat.
“Dia baik-baik saja,” ucapnya lembut. “Tapi sekarang, kamu yang harus kami pikirkan.”
Wendy memalingkan wajah ke jendela. Langit sore mulai berubah menjadi kelabu.
“Antar aku ke bandara,” katanya lemah.
Seulgi maju, “Wan, kamu baru saja—”
“Aku tak punya alasan lagi untuk tinggal,” potongnya.
Chanyeol menunduk, ada luka yang sama di matanya. Ia menatap Wendy dalam-dalam.
“Kalau memang kamu harus pergi... bisakah kamu tinggal sedikit lebih lama untukku?”
Wendy menoleh, dahi mengernyit pelan.
“Maksudmu?”
“Aku butuh semua data KJM Grup yang kamu kumpulkan,” kata Chanyeol serius. “Kita hampir dapat celah hukum untuk membuka semuanya. Kamu sudah kerja keras, kamu tahu ini penting.”
Wendy terdiam. Matanya berkaca, tapi bukan karena Joohyun kali ini, melainkan karena kecewa pada dunia yang terus memaksanya maju meski hatinya hancur.
“Tolong... selesaikan apa yang sudah kamu mulai,” pinta Chanyeol, suaranya menurun. “Setidaknya, biarkan penderitaanmu tak sia-sia.”
Wendy menarik napas panjang, lalu mengangguk kecil.
“Aku akan kirim semua filenya malam ini.”
Dan benar. Malam itu, sebelum terbang kembali ke Kanada, Wendy duduk sendirian di kamar hotel, menghapus jejak terakhir perasaannya dalam bentuk folder, dokumen, dan bukti, lalu mengirimkannya ke Chanyeol.
💙
**"
Sunyi yang Sibuk
Saat kaki Wendy menyentuh aspal bandara Toronto, dunia serasa kehilangan warna. Udara musim semi yang segar, senyum petugas imigrasi yang ramah. Matanya menatap jauh, namun hatinya masih tertinggal ribuan kilometer di belakang.
