26

164 26 7
                                        

Malam itu, Seungwan menelepon adiknya. Mereka berbincang panjang, membahas banyak hal termasuk Joohyun.

"Tidak, aku hanya bertanya," kata Seungwan pelan.

"Aku pernah bertemu Direktur Bae di rumah sakit, saat Unnie sudah mulai belajar berjalan lagi."

"Chaeyoung-a, apa aku pernah bercerita soal Bae Joohyun sebelum aku masuk rumah sakit?"

"Tidak pernah. Hais, ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba kamu bertanya soal dia?"

"Tidak ada apa-apa. Yasudahlah, lanjutkan saja kegiatanmu. Kapan aku bisa dengar lagu barumu?"

"Tunggu saja," jawabnya dengan yakin. "Unnie, jaga kesehatanmu. Aku benar-benar tidak ingin kembali ke sana untuk mengurusmu."

"Aku tahu."

💙

Seungwan merasa ada sesuatu yang ganjil. Bahkan Eye's—mesin pencari canggih miliknya tak mampu membantunya mengurai misteri itu.

"Unnie, sebenarnya kamu siapa?" Batinnya.

💙💗

Pagi hari, Seungwan sudah berdiri di depan gedung Bae Group. Entah kenapa, hari ini Joohyun turun dari mobil papanya, hal yang jarang terjadi.

Sebelum Joohyun melangkah masuk, Seungwan memanggilnya lebih dulu.

Papa Bae hanya menatap dingin gadis itu, lalu masuk ke dalam gedung tanpa berkata apa-apa.

"Kamu kenapa pagi-pagi ada di sini?" tanya Joohyun.

"Aku merindukanmu." Jawabnya. Joohyun tersenyum kecil mendengarnya.

"Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu. Ayo, bicara di ruanganku."

Keduanya berjalan berdampingan. Aura dominasi dari keduanya membuat semua orang menatap takjub, hingga mereka menghilang dari pandangan.

.
.
.

Joohyun membuka blazer-nya lalu menggantungnya di belakang meja kerja. Seungwan duduk di sofa, memperhatikannya.

"Kamu sudah sarapan?" tanya Joohyun sambil melangkah ke sofa.

Seungwan mengangguk pelan.

"Unnie, aku minta maaf kalau harus menanyakan ini lagi... tapi aku benar-benar ingin tahu."

Joohyun menoleh pelan, menunggu.

"Kapan tepatnya kita pernah bersama? Aku mikirin ini semalaman... tapi nggak ada satupun kenangan yang bisa aku tarik keluar."

Joohyun menarik napas panjang, bersandar ke sandaran kursi.

"Seungwan, kalau kamu ragu seperti ini, mungkin kamu memang belum siap."

"Bukan ragu, Unnie," Seungwan buru-buru membantah. "Aku cuma... mencoba masuk akal. Selama hampir setahun aku koma. Gimana mungkin kita 'bersama'? Kamu tahu maksudku, kan?"

"Dan kamu pikir, aku ngarang semua ini?" Joohyun mengerutkan kening, nadanya mulai dingin. Terlalu lelah dengan semuanya.

"Maafkan aku Unnie, aku memikirkan banyak hal. Dan ini sedikit masuk akan bagiku. Kamu bertunangan dengan Suho, Chanyeol Oppa juga mengenal Suho, apa mungkin Unnie juga bagian dari mereka?" Tanya Seungwan pelan dan ragu.

Joohyun membeku. Ekspresinya berubah seketika.

"Apa?" suaranya lirih, tapi mengandung petir.

"Aku... bukan maksud menuduh, Unnie. Tapi sejak aku bangun, semua orang asing terasa berbahaya."

Who are youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang