Berdamai dengan Diri
Acara amal Komunitas Korea–Kanada berlangsung di sebuah hotel mewah di pusat kota.
Tanpa membawa undangan, Seungwan melangkah masuk begitu saja ke dalam ruangan tempat acara digelar.
Di panggung, Joohyun hampir menyelesaikan sambutannya. Suaranya terdengar lembut tapi tegas, membuat seluruh ruangan hening mendengarkan.
Saat ia menunduk memberi salam penutup, pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok yang sangat dikenalnya berdiri di antara kerumunan tamu.
Sosok itu tersenyum kecil.
Shon Seungwan.
Setelah menutup acara, Joohyun sempat tertegun melihat banyak orang menyapa Seungwan dengan ramah. Seungwan membalas mereka seperlunya, lalu berjalan mendekati Joohyun.
“Kamu datang?” tanya Joohyun, masih setengah tak percaya.
“Hmm… aku sedikit kesal. Kenapa aku nggak diundang? Bukankah aku juga orang Korea?” Joohyun tersenyum geli mendengar itu.
“Setiap tahun keluarga Son selalu menerima undangan, tapi mereka tak pernah datang. Biasanya cuma mengutus orang lain. Aku nggak nyangka tahun ini kamu sendiri yang datang”
“Kamu terdengar seperti sedang mengejekku.”
“Tidak juga, aku ingat kamu tidak suka di tempat seperti ini.” Joohyun tersenyum samar.
Mata mereka bertemu beberapa detik, cukup lama untuk menyadari rindu yang belum sempat padam sebelum Joohyun memutus kontak mata itu.
“Kamu datang sendiri?” tanyanya lagi. “Di mana… cowok yang bersamamu malam itu?”
“Cowok?” Wendy sempat bingung, lalu tersadar. “Maksudmu Mark?”
Ia tertawa kecil. “Kenapa aku harus membawa Mark ke sini?”
Joohyun berdeham pelan dan mengalihkan pandangan.
“Aku cuma bertanya,” ujarnya singkat.
“Jadi, Nona Bae,” Wendy mulai memancing dengan nada lembut tapi tajam, “aku penasaran. Kenapa kamu bisa ada di Toronto?
Ah—” ia menatap Joohyun, “aku lupa. Apa sekarang sudah harus memanggilmu Nyonya Kim?”
Tatapan Joohyun mengeras.
“Kenapa? Salah kalau teman lama ingin tahu kabar?” lanjut Wendy pelan.
Kata teman lama terdengar ringan dari bibirnya, tapi menancap tajam di dada Joohyun.
Dua tahun berlalu, dan sepertinya Wendy benar-benar sudah melupakannya.
“Aku tidak punya alasan khusus,” jawab Joohyun akhirnya, menahan emosi. “Aku hanya ingin tinggal di sini. Kenapa? Nona Son tidak suka aku ada di Toronto?”
Wendy tersenyum samar, tapi belum sempat menjawab, seseorang memanggil dari arah belakang.
"Nona Bae!
Joohyun mengangguk kecil, lalu menatap Seungwan sebentar.
"Kamu mau meninggalkanku?"
“Aku harus menyapa tamu lain, Nona Son,” jawab Joohyun datar, lalu beranjak meninggalkan Wendy.
Wendy hanya bisa mendesah, lalu meraih segelas sampanye dari meja pelayan yang lewat dan meneguknya habis dalam sekali teguk.
Cairan dingin itu tidak cukup untuk menurunkan panas di dadanya.
Satu jam berlalu.
Joohyun belum kembali. Dari tempat duduknya di sudut ruangan, Wendy hanya bisa memperhatikan punggung Joohyun yang terus berpindah dari satu tamu ke tamu lain — tersenyum, membungkuk, berbasa-basi, seolah dunia mereka tidak pernah bersinggungan sebelumnya.
Akhirnya, Wendy menyerah. Ia meninggalkan aula tanpa berpamitan.
Joohyun, yang baru saja selesai menyapa tamu terakhir, sempat menangkap sekilas bayangan Wendy di antara kerumunan yang menipis berjalan menjauh, tanpa menoleh.
