Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keesokan harinya, Ginara melangkah masuk ke café Jevaro dengan seragam barista barunya. Senyum ramah dipasang, tapi dalam dadanya, napasnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Bukan karena grogi kerja—tapi karena ini adalah langkah pertamanya menyusup lebih dalam ke hidup seorang tersangka pembunuhan.
Jevaro sedang duduk di meja ujung sambil membuka berkas—entah laporan keuangan atau... sesuatu yang lebih gelap. Tatapannya tajam seperti biasa, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ginara bisa merasakan aura dingin itu dari jauh.
“Pagi, Bos,” sapa Ginara sok santai sambil menyeka meja di dekat Jevaro.
Jevaro menatapnya sekilas. “Tepat waktu. Bagus.”
“Namanya juga orang niat cari kerja,” Ginara nyengir kecil.
Jevaro hanya mengangguk, lalu kembali menatap berkas. Tapi saat Ginara berbalik, Jevaro sempat menatap punggungnya lama, seolah mencurigai sesuatu.
Di ruangan pengawasan jarak jauh, Juan memantau melalui kamera tersembunyi di pin celemek Ginara.
“Gi, ingetin. Jevaro itu bukan penipu biasa. Dia pernah lolos dari dua TKP pembunuhan tanpa bukti. Lo deketin, tapi jangan lengah.”
Ginara mengangguk pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri. “Gue bakal bikin dia jatuh hati… sebelum dia tahu gue yang bakal ngejatuhin dia.”
Namun yang belum ia sadari, Jevaro pun menyimpan rahasia: dia juga sedang memperhatikan Ginara—bukan sebagai pegawai biasa.
Ginara berusaha menjaga ritme kerjanya tetap alami. Ia melayani pelanggan, meracik kopi, dan sesekali melirik ke arah Jevaro yang duduk dengan wajah dingin di meja pojok. Setiap langkahnya ia jaga—setiap senyumnya terukur. Misinya jelas: masuk ke dalam kepercayaan Jevaro, bikin dia jatuh, lalu jebak balik dengan bukti.
Menjelang siang, café mulai sepi. Jevaro tiba-tiba berdiri, berjalan ke belakang bar, dan menatap Ginara dari jarak dekat.
“Kamu pernah kerja sebelumnya?” tanyanya pelan.
Ginara menoleh, pura-pura santai. “Pernah Pak, tapi bukan di café kayak gini. Beda suasana, tapi kerjaannya mirip.”
Jevaro menatapnya agak lama. “Kamu beda.”
Ginara sempat terdiam. “Maksudnya gimana ya pak?”
“Entah. Tapi dari awal ngelamar, tatapan kamu bukan tatapan orang yang cuma mau kerja.” Nadanya datar, tapi menyiratkan kecurigaan.