SHADOW PLAN

36 6 0
                                        

Sementara itu, Naufal sedang berdiri sendirian di ruang pelatihan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sementara itu, Naufal sedang berdiri sendirian di ruang pelatihan. Keringat membasahi kausnya, napasnya berat. Ia telah mengulang simulasi identifikasi wajah belasan kali, tapi pikirannya terus berkelana. Matanya tertuju pada layar—dan wajah Ginara muncul sebagai bagian dari rekaman evaluasi misi semalam.

Tatapan mata Ginara ketika menolak mundur dari lokasi, ketika ia memilih mengejar koper meski sudah diberi aba-aba mundur. Ia bukan polisi biasa. Ia adalah seseorang yang selalu memilih berkorban, bahkan ketika tak diminta.

Naufal menggenggam erat sarung tinju di tangannya.

“Kalau dia jatuh karena aku lambat bergerak… aku gak akan pernah maafin diriku.”

Pintu terbuka. Jegar masuk, memegang map laporan.

“Kamu gak salah. Itu bukan tanggung jawab kamu,” katanya, seolah membaca pikiran Naufal.

“Kalau kamu masih ngerasa perlu tebus kesalahan masa lalu, jangan buang waktu buat nyalahin diri sendiri. Bantu kami benerin masa depan.”

Naufal menatap Jegar sebentar sebelum akhirnya mengangguk.

“Lalu, apa yang bisa aku lakukan sekarang?”

---

Di ruang perencanaan utama, Jevaro mulai menyusun rencana taktis bersama Ginara dan tim.

“Kita gak bisa menyerang Rama langsung. Tapi kita bisa ganggu semua jalur pergerakannya,” kata Jevaro sambil menunjuk peta digital yang terpampang di layar.

“Target pertama: jaringan pengiriman logistik di Semarang. Dari sana, kita lanjut ke Batam, lalu ke Jakarta. Tiga titik itu adalah tulang punggung distribusi senjatanya.”

Ginara mengangguk. “Dan kita serang semuanya dalam waktu bersamaan. Buat dia panik. Buat dia bingung. Kita potong nafasnya sebelum dia bisa menarik pelatuk.”

Tiba-tiba, alarm sistem berbunyi.

“Pergerakan tak dikenal. Lokasi: titik pantauan tim dua, di daerah gudang lama pelabuhan utara,” lapor salah satu agen.

Jevaro dan Ginara saling pandang. “Rama mulai bergerak lagi.”

---

Saat malam tiba, Jevaro dan Ginara menyusup ke gudang tua yang dilaporkan tim dua. Hujan turun pelan, menambah kesan kelam di tempat itu. Mereka bergerak tanpa suara, menyusuri lorong-lorong berdebu yang penuh jaring laba-laba dan bau karat besi.

Di sudut gudang, terdengar suara samar. Dua pria sedang bicara dalam nada tegang. Jevaro memberi kode ke Ginara. Mereka bersembunyi di balik tumpukan peti dan mulai merekam percakapan.

“Rama gak akan suka kalau tahu barangnya gak nyampe,” kata salah satu pria.

“Kita gak punya pilihan. Pelabuhan Semarang udah dicegat. Kalau kita terus paksa masuk, kita bakal ditangkap.”

CriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang