UNSPOKEN PAIN

55 16 0
                                        

Malamnya, mereka kembali ke rumah persembunyian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Malamnya, mereka kembali ke rumah persembunyian. Luka kecil di lengan Ginara belum diobati. Jevaro mengambil kotak P3K dan duduk di sampingnya, dalam diam. Tangan Jevaro pelan-pelan membersihkan luka itu, tapi jemarinya gemetar sedikit.

"Lo takut?" tanya Ginara.

"Takut kehilangan lo," jawab Jevaro tanpa ragu.

Ginara tertegun, lalu tersenyum lirih. "Gue di sini, Var. Masih di sini."

Jeparo menunduk, membungkus luka itu dengan perban. Setelah selesai, dia tidak langsung melepas tangannya dari lengannya Ginara.

"Kalau suatu hari kita bisa bebas... lo mau tinggal di mana?" tanya Jevaro pelan.

Ginara tertawa pelan. "Lo pikir kita bakal hidup kayak film romantis? Pindah ke desa, buka toko bunga, punya anjing golden retriever?"

"Kenapa nggak?"

Ginara menatap mata Jevaro. "Gue akan tinggal di mana pun... asal ada lo juga di sana."

Keduanya saling memandang, dan tanpa kata, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lambat-bukan karena ragu, tapi karena terlalu banyak rasa yang tak bisa diucap. Dunia di luar mungkin masih gelap, tapi di antara mereka... ada sedikit cahaya yang tetap bertahan.

Namun jauh di tempat lain, Rama sudah menyusun rencana baru.

Dan sinyal-sinyal pengkhianatan mulai menghilang satu per satu.

Langit malam mulai menghitam sempurna ketika suara langkah-langkah tergesa menggema di lorong rumah sakit. Bau alkohol dan antiseptik menyambut Ginara saat dia keluar dari ruang rawat inap untuk mencari udara segar. Luka di lengannya masih terasa berdenyut, namun jauh lebih ringan dibanding perasaan yang menggulung dalam dada.

Jevaro menyusul dari belakang, mengenakan hoodie hitam dan celana jeans, menyembunyikan wajahnya dari kamera-kamera pengintai rumah sakit yang bisa jadi masih terpasang meski sudah dia sabotase sebagian. Tatapan matanya terpaku pada Ginara.

"Lo nggak seharusnya keluar malam-malam begini," ucapnya pelan, mendekat.

Ginara berhenti di bawah lampu taman rumah sakit yang redup. Matanya sayu, tapi tetap menyala dengan semangat yang tak padam.

"Gue cuma... butuh waktu sendiri," katanya.

Jevaro ikut duduk di bangku taman itu, beberapa langkah darinya. Hening melingkupi mereka sejenak, sebelum Ginara membuka suara lagi.

"Gue nggak bisa berhenti mikirin semua ini, Var. Luka-luka, pelarian, kematian. Semua... makin dalam."

Jevaro menghela napas, menunduk. "Lo nggak sendiri."

Ginara menoleh padanya. "Tapi kadang rasanya kayak gitu."

Jevaro menggenggam sesuatu di sakunya. Sebuah liontin kecil-benda lama yang dulu milik ibunya. Ia memutar-mutar benda itu di antara jari-jari, bingung ingin menghibur atau justru menahan dirinya sendiri.

CriminalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang