Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langit malam menghitam tanpa bintang. Suara petir yang jauh di kejauhan hanya menjadi gema samar di antara reruntuhan kota yang ditinggalkan. Markas tua itu berdiri seperti makam tua—sunyi, dingin, dan membawa kutukan masa lalu yang belum terselesaikan.
Langkah Jevaro bergema sendirian di lorong sempit berdebu. Tangannya yang gemetar menggenggam pistol, peluru hanya tersisa dua, tapi bukan jumlah yang jadi masalah—karena niatnya malam ini bukan hanya membunuh.
Tapi menyudahi segalanya.
Menyudahi semua kemunafikan yang menjerat hidupnya.
Menyudahi luka dan kehilangan yang terus menumpuk.
Dan di balik semua itu—satu nama terus memantul di pikirannya.
Rama.
Ia tak akan berhenti sebelum pria itu mati.
Jevaro tidak lagi memikirkan risiko. Tidak soal apakah polisi akan mencarinya setelah ini, tidak soal tubuhnya yang penuh luka, tidak juga soal hidupnya sendiri.
Karena sebagian dari dirinya… sudah mati.
Mati sejak Ginara terbaring di ranjang rumah sakit dengan luka tusukan Rama di pinggangnya. Meski ia selamat, tapi sorot mata Ginara berubah sejak malam itu. Ia tersenyum demi menenangkannya, tapi Jevaro tahu senyum itu palsu.
Dan ketika Jevaro diam-diam melihat pesan lama di ponsel Ginara—berisi alamat lama markas Rama yang dulu mereka susun bersama—Jevaro tahu, hanya satu orang yang bisa ia tuju untuk menyelesaikan semua ini.
Membunuh Rama, bahkan jika itu berarti mengorbankan dirinya.
Namun apa yang tak ia tahu…
Adalah Ginara melihat pesan itu juga.
---
Beberapa jam sebelumnya.
Di ruang rawat rumah sakit, Ginara gelisah. Luka tusukan di pinggangnya masih terasa perih, bahkan ketika duduk. Tapi rasa sakit itu tak sebanding dengan firasatnya. Ia tahu Jevaro akan pergi. Lelaki itu mungkin tak bicara apa-apa, tapi matanya menyimpan banyak hal—kemarahan, duka, dan kehampaan.
Dan ketika Ginara membuka ponsel Jevaro yang tertinggal di meja—ia melihat pesan dari Naufal.
“Kami temukan pergerakan Rama dekat kawasan pabrik tua, kemungkinan dia masih di sana. Jangan gegabah. Kami sedang siapkan tim cadangan.”
Jevaro tidak menjawab pesan itu.
Karena dia sudah pergi.
“Jevaro…”
Tangis kecil pecah di tenggorokannya.
Ginara tahu pria itu terlalu dalam mencintainya.
Dan cinta yang terlalu dalam... bisa jadi menghancurkan jika dibalut dendam.