Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cahaya matahari pagi menembus sela-sela tirai rumah sakit, menari lembut di dinding kamar rawat Ginara. Aroma antiseptik masih menyengat, tapi tidak bisa menandingi aroma kopi hangat yang dibawa Jevaro pagi ini. Tangannya yang kekar menjinjing gelas kertas, sementara yang satunya membawa sekotak kecil kue bolu cokelat favorit Ginara.
"Morning, sersan patah hati," godanya saat masuk ke ruangan.
Ginara yang tengah duduk bersandar dengan infus di tangan, mendongak dengan senyum lemah. "Sersan? Kenapa bukan jenderal cantik yang tangguh?"
Jevaro mendengus pelan, meletakkan kue di meja kecil dan duduk di sisi ranjang. "Karena jenderal nggak mungkin nangis waktu aku tinggal beli kopi lima menit."
Pipi Ginara memerah. "Itu hormon luka. Bikin sensitif."
"Ah ya ya ya, hormon luka. Mungkin nanti aku tulis di jurnal medis: 'Efek luka tusuk terhadap tingkat baper pasien'," balas Jevaro dengan senyum jahil.
Ginara tertawa pelan, menahan perutnya yang masih terasa nyeri. "Kamu itu... kenapa sih nggak pernah serius?"
Jevaro diam sejenak. Matanya menatap wajah Ginara, penuh dengan sesuatu yang selama ini hanya ia simpan di balik sarkasme dan lelucon: ketakutan. Ketakutan kehilangan. Ketakutan cinta yang datang terlambat.
"Aku serius banget sekarang," bisiknya akhirnya. "Kalau aku telat lima menit... kamu mungkin-"
"Shhh." Ginara menyentuh bibirnya sendiri lalu menunjuk Jevaro. "Kamu nggak telat. Kamu tepat waktu. Selalu."
Jevaro menunduk, menggenggam tangan Ginara dengan erat. Jemarinya hangat, dan Ginara merasa sedikit lebih hidup dari sebelumnya.
"Tau nggak," lanjut Ginara, "waktu aku berhadapan sama Rama, aku sempat mikir, 'Kalau aku nggak balik, siapa yang bakal nyuruh Jevaro tidur tepat waktu?'"
"Ya ampun... kamu tusuk dulu hatiku, baru Rama tusuk pinggangmu," desah Jevaro sambil mencium punggung tangan Ginara.
Mereka terdiam sebentar. Hanya bunyi monitor dan detak jantung Ginara yang menjadi saksi kebisuan itu. Lalu, Ginara berkata pelan, "Kamu capek nggak nemenin aku terus?"
"Nggak. Rumah sakit ini sekarang lebih nyaman dari rumahku," jawabnya cepat.
"Masa sih?"
"Ya iya. Di sini ada kamu. Di rumah cuma ada kulkas kosong dan tumpukan cucian yang kuabaikan selama tiga hari."
Ginara tertawa pelan. "Jadi aku pasien dan hiburan kamu juga?"
"Kamu segalanya, Ginara."
Ginara terdiam. Hati kecilnya menjerit, menyuruhnya untuk jangan percaya. Tapi bagaimana bisa? Tatapan Jevaro terlalu jujur, genggamannya terlalu tulus. Dia selalu datang ketika semua orang pergi. Dan kini, dia tetap di sini-tidak peduli seberapa berdarah masa lalu mereka.