SILENT PROMISE

26 7 0
                                        

Suasana malam itu dingin dan sunyi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana malam itu dingin dan sunyi. Langit Jakarta seperti berkabung, mendung menggantung tebal di atas gedung-gedung tinggi yang menjadi saksi bisu dari segala ketegangan yang belum menemukan akhirnya.

Ginara berdiri di tepi balkon markas rahasia mereka, memandang lampu-lampu kota yang seperti berkedip tak pasti. Angin malam mengibarkan helaian rambutnya, dan tatapan matanya kosong, seakan hatinya ikut terseret dalam badai yang tak kasat mata. Dia memegang lencana kecil miliknya—satu-satunya pengingat bahwa dia masih seorang polisi. Tapi bahkan benda itu sekarang terasa berat… seperti beban.

Langkah pelan mendekatinya dari belakang.

"Kenapa lo di sini sendirian?" Suara Jevaro pelan, hampir seperti bisikan.

Ginara tak menjawab. Dia tetap menatap ke bawah, ke arah jalanan yang lengang.

Jevaro mendekat, menyandarkan tubuhnya di pagar balkon. "Gue tahu lo marah. Sama gue. Sama semuanya."

"Gue nggak tahu harus marah ke siapa lagi, Var," katanya akhirnya. "Rama masih bebas. Orang-orang yang gue percayai ternyata cuma manipulasi. Dan kita… kita masih nggak tahu siapa yang benar-benar bisa diandalkan."

Jevaro menunduk. Ia tahu itu bukan hanya tentang kasus. Ini lebih dalam. Tentang kepercayaan. Tentang luka yang mereka torehkan pada satu sama lain.

"Gue tahu aku belum pernah minta maaf dengan benar," ucap Jevaro perlahan. "Untuk malam itu. Untuk rahasia yang gue sembunyiin."

Ginara memejamkan mata. Malam itu. Malam ketika ia tahu bahwa Jevaro menyembunyikan kebenaran tentang adiknya yang dibunuh. Bukan Jevaro pelakunya. Tapi fakta bahwa ia tahu siapa yang membunuh—dan tetap diam—membuat luka itu tak bisa sembuh begitu saja.

"Gue hanya takut kehilangan lo," lanjut Jevaro. "Lo satu-satunya alasan kenapa gue masih ada di sini."

Hening.

Ginara menarik napas panjang. Lalu pelan-pelan menoleh ke arah Jevaro. Mata mereka bertemu. Kali ini tak ada dendam. Tak ada tuduhan. Hanya luka. Luka yang sama-sama mereka rasakan.

"Gue nggak tahu harus percaya siapa lagi, Var…" gumam Ginara.

Jevaro mendekat, mengambil tangan Ginara yang masih menggenggam lencananya. "Kalau Lo nggak bisa percaya siapa-siapa, percaya aja sama perasaan lo. Karena hati lo nggak bohong."

Ginara menggigit bibirnya, menahan air mata yang mulai menggenang. Lalu ia mengangguk pelan. “Tapi gue butuh waktu…”

Jevaro mengangguk. “gue tunggu. Selama apa pun.”

---

Di tempat lain, sebuah dokumen berpindah tangan dalam kegelapan.

“Ini semua laporan kegiatan Rama selama tiga bulan terakhir,” kata seorang pria dengan nada tegas. “Dia memanfaatkan jalur logistik pemerintah buat kirim senjata ke luar negeri. Markas utamanya ada di Surabaya. Tapi dia udah nyiapin pelarian ke Thailand.”

CriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang