Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi hari. Lokasi: Gudang Pelabuhan Lama.
Ginara menatap jam tangannya. Sudah lewat lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Ia berdiri di antara kotak-kotak kontainer yang mengelilingi tempat pertemuan. Suara air menetes dari atap besi di atasnya, menciptakan irama berulang yang membuat suasana semakin tegang.
"Jevaro, posisimu?" tanyanya melalui earpiece.
"Satu gedung dari posisimu. Aku lihat tiga orang bersenjata. Bukan orang Rama. Ini seperti tim bayangan."
Ginara menarik napas dalam. Dia tahu risiko rencana ini tinggi. Mereka tidak hanya menantang Rama, tapi juga orang-orang di belakangnya—mereka yang mungkin jauh lebih berbahaya.
Langkah kaki mendekat. Ginara refleks mengarahkan pistolnya. Tapi sosok yang muncul adalah seorang pria bertudung, wajahnya sebagian tertutup masker.
"Informasi?" tanya Ginara dingin.
Pria itu menyerahkan flashdisk kecil. "Semua transaksi terakhir Rama. Termasuk nama-nama penyokong dana dari internal kepolisian."
Ginara menatap benda kecil itu seolah menyimpan dunia. Tapi sebelum ia sempat berkata apa-apa—sebuah suara meledak di kejauhan.
“BOOM!”
Jevaro segera berseru melalui earpiece. "Itu jebakan! Mereka tahu kita di sini!"
Ginara berbalik, siap melarikan diri, tapi pria bertudung itu sudah lenyap. Dari arah belakang, tembakan dilepaskan. Peluru menghantam kontainer hanya beberapa inci dari kepala Ginara.
“Jevaro! Kita harus keluar sekarang!”
Suara tembakan bersahut-sahutan. Dari atas gudang, beberapa pria bersenjata mulai turun. Mereka tak bertanda. Bukan pasukan Rama. Ini lebih buruk. Ini pasukan bayangan—mungkin dari dalam kepolisian sendiri.
Jevaro muncul dari sisi kanan, menembak dua orang yang mencoba mendekat ke Ginara.
“Ambil flashdisk itu!” teriak Jevaro.
Ginara memasukkannya ke dalam jaket dan berlari ke arah mobil. Tiga kendaraan lain muncul dari arah yang berlawanan. Mereka terkepung.
“Rencana B!” Jevaro mengangkat bahunya pada Ginara.
Dia mengerti maksudnya. Jevaro menyalakan bom asap kecil, melemparkannya ke tengah. Dalam kekacauan yang terjadi, keduanya menyelinap ke gang sempit di sisi pelabuhan, lalu memanjat ke atas salah satu kontainer dan melompat ke sisi lain pagar pembatas.
Mereka nyaris tak bernapas saat berhasil sampai ke mobil cadangan.
"Apa itu barusan?" tanya Ginara sambil terengah.
"Tim dalam. Mungkin mereka juga mengincar bukti yang kita dapat. Bisa jadi... Jegar ada hubungannya."