Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keesokan harinya, Ginara datang lebih pagi dari biasanya. Udara masih basah oleh embun, dan kafe belum sepenuhnya hidup. Ia merapikan meja, memastikan setiap sudut tampak bersih dan rapi. Hari itu ada kedatangan supplier baru-alasan sempurna untuk datang lebih awal. Setidaknya itu yang dia katakan pada dirinya sendiri.
Jevaro datang tak lama kemudian. Dengan kemeja digulung di lengan, dan clipboard di tangan, ia langsung mengecek stok dan menyapa satu per satu staf yang sudah hadir.
Pandangan mereka sempat bertemu. Jevaro hanya mengangguk singkat.
Pagi berlalu cepat, aktivitas berjalan lancar. Ginara sibuk di area bar, membuat kopi untuk tester supplier, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Jevaro yang berbicara dengan kru logistik.
Menjelang siang, Jevaro datang ke bar, mengambil segelas air. "Tadi latte-nya kamu yang buat?"
Ginara mengangguk.
"Pas rasanya," ujarnya singkat, lalu pergi lagi.
--
Hari itu kafe mulai ramai menjelang sore. Ginara tengah meracik latte pesanan pelanggan di balik meja barista, gerakannya cekatan seperti biasa. Hanya sedikit keringat dingin yang menetes di pelipisnya, bukan karena lelah-tapi karena pekerjaan ini bukan sekadar cari nafkah. Ini misi.
Pintu kafe terbuka. Angin sore masuk bersama suara bel kecil yang menggantung di atas kusen.
"Wilona?" gumam Ginara nyaris tak percaya saat melihat siapa yang masuk.
Wilona, adik sepupunya yang baru pulang dari Bandung, berdiri mematung sambil memelototi Ginara. Matanya langsung membesar. Dengan langkah cepat, ia menghampiri meja barista, menunjuk Ginara setengah bingung setengah panik.
"Kak Gigi?! Kakak ngapain di sini sih? Bukannya kakak itu po-"
Hap!
Ginara langsung membekap mulut Wilona dari balik meja bar, setengah menyeringai, setengah panik.
"Ssst! Diam, Lo! Jangan teriak-teriak!" bisik Ginara cepat sambil senyum paksa ke pelanggan yang mulai melirik ke arah mereka.
Wilona bergulat kecil, berusaha melepaskan diri, tapi Ginara mendorongnya ke sudut bar kecil di belakang mesin kopi.
"Wilona, tolong banget. Lo bisa bikin gue dipecat sekarang juga," ucapnya pelan tapi tajam.
"Tapi... kakak kan polisi?" bisik Wilona setengah kaget.
"Justru karena itu gue di sini," sahut Ginara, matanya melirik ke arah Jevaro yang sedang duduk tak jauh dari sana, menatap mereka dengan tatapan penasaran.
Wilona akhirnya diam, mulai menangkap bahwa ini bukan urusan biasa.
"Main ke rumah nanti malam. gue jelasin semuanya. Tapi sekarang, pura-pura jadi pelanggan, oke?" bisik Ginara cepat, lalu langsung mengganti ekspresinya menjadi ceria.