FLEETING WHISPER

17 6 0
                                        

Suasana kamar rumah sakit sore itu dipenuhi cahaya lembut dari matahari yang nyaris tenggelam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana kamar rumah sakit sore itu dipenuhi cahaya lembut dari matahari yang nyaris tenggelam. Tirai jendela dibiarkan sedikit terbuka, membiarkan angin menyusup perlahan dan menebarkan aroma antiseptik yang samar. Di atas ranjang, Ginara masih terbaring lemah namun tidak lagi kritis. Pipinya mulai berwarna, dan nafasnya kini jauh lebih stabil.

Jevaro duduk di sampingnya, kedua tangannya bertaut di pangkuan, menatap wajah Ginara seolah takut kehilangan kesempatan untuk melihatnya bernapas lagi.

Tiba-tiba, Ginara mengerang pelan. Matanya yang sebelumnya tertutup mulai terbuka perlahan, menunjukkan semburat kebingungan dan lelah.

“Ginara?” Jevaro langsung mencondongkan tubuhnya ke depan.

Ginara menatapnya dengan mata setengah terbuka. Suaranya pelan, serak. “Muka lo jelek banget.”

Jevaro tercengang, lalu tertawa pendek di antara rasa haru. “Lo baru aja hampir mati, dan hal pertama yang lo bilang itu?”

Ginara tersenyum kecil. “Gue nggak hampir mati, Anggap aja cuma tidur.”

“Tidur lo dramatis banget,” balas Jevaro sambil merapikan helaian rambutnya yang menempel di dahi. “Kalo lima menit lebih lama, gue pasti bakal jantungan.”

Dia menghela napas panjang. “Ginara... lo nekat banget. Datang sendiri, tanpa bilang siapa pun. Kalo sampe gue telat dikit...”

Ginara memalingkan wajah ke jendela. “Gue nggak mau lo terluka. Rama... dia bukan musuh yang bisa lo hadapi dengan kepala panas.”

“Dan lo pikir lo bisa hadapi dia sendirian?” Jevaro mengangkat alis. “Lo pikir lo kebal tusuk?”

Ginara tersenyum lemah. “Hehehe gue pikir... gue bisa menyusup diam-diam. Gue hampir aja berhasil. Kalau aja Rama nggak—” napasnya tercekat karena rasa sakit di perutnya, bekas luka tusukan yang masih diperban.

“Jangan paksa bicara,” kata Jevaro lembut, lalu meraih gelas dan menyodorkan sedotan ke bibir Ginara. “Minum dulu, biar nggak kering.”

Ginara menatapnya dengan pandangan jahil. “Jangan sweet sweet banget Var, takut gue jatuh cinta.”

Jevaro menegang sejenak, lalu menghela napas berat. “Ginara... gue nggak butuh lo jatuh cinta karena luka. Gue pengen lo tetap hidup buat... beneran ngerasain semuanya. Bareng gue.”

Ginara diam. Jantungnya berdegup pelan. Kalimat Jevaro menggantung di udara, terlalu indah untuk diabaikan, terlalu berat untuk langsung dijawab.

“Eh tapi,” Jevaro melanjutkan, mencoba mencairkan suasana, “kalo lo jatuh cinta karena gue ganteng... ya gue nggak nolak sih.”

Ginara tertawa kecil meski wince karena perih. “Sombong amat... baru nemuin kaca kali lo ya.”

Jevaro mengangkat bahu. “Setiap kali ngaca, kaca rumah gue pecah, mungkin karena gue terlalu menyilaukan.”

CriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang