Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jevaro duduk di dalam mobilnya yang terparkir jauh dari jalan utama. Lampu kabin dimatikan, hanya cahaya dari dashboard yang samar menerangi wajahnya. Satu tangan memegang rokok yang hampir habis, sementara tangan lainnya menggenggam erat foto usang yang sudah lusuh di ujung-ujungnya.
Foto itu... foto Ginara tersenyum saat mereka diam-diam bertemu di taman belakang safe house dua bulan lalu. Waktu itu, langit sedang mendung, tapi senyum Ginara seperti menyelamatkan hari-hari gelapnya. Hari ini, senyum itu terasa begitu jauh.
“Kenapa lo gak angkat teleponnya, Gin?” bisiknya lirih, hampir seperti sebuah doa yang tak pernah berharap jawaban.
Sudah lima hari sejak Ginara pergi tanpa kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada jejak. Hanya keheningan dan kekhawatiran yang perlahan-lahan membusuk di dalam dadanya.
---
Di tempat lain, Ginara berdiri di depan cermin kamar mandi di markas polisi bawah tanah. Rambutnya diikat tinggi, mata sembab karena kurang tidur. Di bawah matanya ada lingkaran gelap, hasil dari malam-malam panjang yang dihabiskan memantau pergerakan kelompok Rama lewat kamera tersembunyi yang berhasil mereka tanam di gudang tua itu.
Jegar masuk, membawa dua cangkir kopi.
“Kopi hitam. Dua sendok gula. Lo butuh tenaga,” katanya sambil menyodorkan satu cangkir.
Ginara menerimanya tanpa banyak bicara. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia menutupinya dengan cepat. Kepalanya masih penuh. Bukan hanya soal misi ini. Tapi soal Jevaro. Tentang tatapan terakhir lelaki itu saat mereka bertengkar—tatapan kecewa yang menusuk seperti pisau tumpul.
Ginara diam. Menyesap kopinya. “Dia nggak seharusnya tahu semua ini. Nggak seharusnya ikut campur.”
“Lo yakin masih bisa menjauh?” Jegar menatapnya tajam. “Karena dari yang gue lihat, lo gak pernah beneran bisa ninggalin dia.”
Kalimat itu menancap dalam. Membuat Ginara terdiam lama.
Sementara itu, Jevaro tidak tinggal diam. Ia tahu Jegar berbohong padanya di pesan terakhir. Ia tahu ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar "penangkapan target".
Ia menurunkan kaca jendela, membiarkan angin malam menyapu wajahnya. Dalam genggaman kirinya ada flashdisk yang berhasil ia curi dari tangan kanan Rama—tanpa sepengetahuan siapapun.
Isinya adalah rekaman. Data transaksi. Bukti kekejaman Rama. Tapi ada satu hal lain yang membuat jantung Jevaro berhenti sesaat: nama Ginara muncul di salah satu file. Tidak jelas apa perannya, tapi cukup untuk menyalakan kembali bara dalam dirinya.
Dia tak akan diam.
Markas bawah tanah itu sunyi ketika Ginara menyelinap keluar. Ia butuh udara. Butuh ruang untuk berpikir. Dan tanpa sadar, langkah kakinya membawanya ke sebuah taman kota yang dulunya sering ia kunjungi diam-diam bersama Jevaro.