Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hening. Rumah sakit itu tak pernah terasa sesunyi malam ini. Padahal, suara langkah kaki perawat dan dengung mesin medis masih terdengar samar di kejauhan. Tapi bagi Jevaro, semuanya telah berhenti sejak tubuh Ginara berhenti bernapas di pelukannya.
Mata Jevaro menatap kosong pada tempat tidur kosong yang kini hanya menyisakan bekas kehangatan tubuh perempuan yang ia cintai. Selimut masih terlipat rapi, namun aroma tubuh Ginara masih menggantung di udara, menghantui kesadarannya yang belum siap menerima kenyataan.
Ia duduk diam di bangku samping ranjang, mengenakan jaket hitam yang basah oleh darah kering dan keringat dingin. Matanya merah, bukan hanya karena tangis, tapi karena malam yang tak memberinya istirahat. Ia telah menolak pulang. Ia menolak dijauhkan dari ruangan itu, seolah berharap Ginara masih di sana, mungkin sekadar tertidur, bukan...
Jevaro menggenggam erat liontin kecil yang ditemukan tergenggam di tangan Ginara saat ia meninggal. Liontin kecil berbentuk bulan sabit yang dulunya Ginara beli secara iseng di pasar malam—“katanya bisa bawa keberuntungan,” katanya waktu itu sambil tertawa. Tapi keberuntungan tidak pernah datang.
“Lo nyuruh gue hidup, Nar...” suara Jevaro pecah, tangannya mengepal. “Tapi sekarang lo ninggalin gue sendirian.”
Suara itu menggema di ruangan yang kosong. Tak ada balasan, tentu. Hanya keheningan yang semakin menguat, membungkus perasaan hancur yang bahkan tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia merasakan dinding emosinya runtuh, satu demi satu, membiarkan rasa bersalah dan kehilangan masuk tanpa ampun.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka perlahan. Naufal berdiri di sana, menunduk, tak sanggup menatap Jevaro langsung. Ia tahu, ini bukan waktunya berbicara, tapi seseorang harus membawa Jevaro keluar dari bayangan kelam itu sebelum ia menenggelamkan diri sepenuhnya.
Perlahan Jevaro berdiri, menatap Naufal dengan mata kosong. Ia mengangguk—gerakan lemah yang menyiratkan ribuan perasaan tak terucap.
Pemakaman Ginara diliputi awan mendung. Hujan rintik turun perlahan seperti ikut berkabung. Tanah merah menutupi peti cokelat gelap itu sedikit demi sedikit.
Semua hadir. Komandan Raka yang kini pulih, Naufal yang diam menatap tanah, para rekan dari kepolisian, bahkan warga sipil yang mengenal jasa Ginara.
Namun hanya satu yang berdiri paling dekat ke liang lahat.
Jevaro.
Pakaian hitamnya basah kuyup, tapi ia tak peduli. Tangannya menggenggam bunga lili putih—bunga favorit Ginara.
“Dia selalu ingin akhir yang damai untuk semua,” bisiknya.