DON'T BE A COP

168 15 2
                                        

Beberapa tahun lalu, dalam sebuah rumah mewah di kawasan elit ibu kota, Ginara melangkah anggun dengan dress hitam beludru yang mengalun mengikuti gerak tubuhnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Beberapa tahun lalu, dalam sebuah rumah mewah di kawasan elit ibu kota, Ginara melangkah anggun dengan dress hitam beludru yang mengalun mengikuti gerak tubuhnya. Di tangannya segelas wine, di bibirnya senyum tipis-mewah, memabukkan, dan penuh tipu daya.

Di balik identitas barunya sebagai "Citra", wanita muda yang dikabarkan jadi simpanan pejabat ternama, Ginara menyimpan rekaman suara, pena kamera, dan segudang bukti tentang aliran dana gelap yang melibatkan sang pejabat dengan proyek fiktif miliaran rupiah.

Ia tak hanya harus menahan rasa jijik saat pria itu memuji-puji paras dan "kesetiaannya", tapi juga harus bermain peran dengan sempurna-memalsukan tangis, cemburu, bahkan rayuan lembut yang membuat bulu kuduknya sendiri berdiri.

Satu malam, pria itu hampir mencium lehernya-hanya terhenti karena panggilan penting dari sekretarisnya. Ginara sempat panik. Kalau saat itu pria itu terus memaksa, semua bisa berantakan. Tapi ia tetap tenang. Tetap tersenyum. Tetap menjadi "Citra" yang lemah dan tergila-gila.

Dua minggu penyamaran itu berakhir di malam penangkapan. Polisi menggerebek rumah itu saat pria itu tengah memamerkan cek fiktif kepada Ginara. Dan saat semua kamera mengarah, hanya satu kalimat yang meluncur dari bibir Ginara:

"Permainan selesai, Pak."

Tugasnya selesai malam itu. Tapi bekasnya, tak pernah benar-benar hilang.

Beberapa tahun sebelum misi "Citra", Ginara pernah menjalankan penyamaran yang jauh lebih berat-dan lebih membekas secara batin. Kala itu, ia berperan sebagai seorang asisten rumah tangga bernama "Neni", bekerja di rumah mewah milik seorang pengusaha gelap bernama Bustomi. Pria berpengaruh yang dikenal licin, punya banyak koneksi, dan menyimpan banyak rahasia kotor di balik bisnis logistiknya.

Ginara tinggal di sana hampir tiga bulan. Tak ada make-up mewah, tak ada heels mahal-hanya daster lusuh, rambut diikat sembarangan, dan tangan yang tak pernah luput dari sabun cuci piring atau kain pel.

Bustomi dan istrinya hampir tak pernah memperhatikan para pembantu. Dan itu justru memberi celah besar. Setiap malam, Ginara menyelinap ke ruang kerja, memotret dokumen, menyalin nomor rekening, dan mengakses komputer bosnya lewat flashdisk khusus.

Namun, bukan itu yang paling berat. Yang paling menguras mental adalah perlakuan kasar yang harus ia telan setiap hari. Teriakan, bentakan, bahkan sesekali piring pecah karena kesalahan sepele. Pernah suatu malam, istri Bustomi menuduhnya mencuri perhiasan. Ia nyaris dipukul, sebelum akhirnya satpam rumah turun tangan.

Tapi Ginara bertahan. Bukan karena tidak sakit-tapi karena tahu, setiap malam ia berhasil membawa pulang satu potongan bukti baru. Dan ketika akhirnya rumah itu digerebek dan Bustomi dijemput KPK, Ginara berdiri paling belakang-diam, kotor, tapi menang.

Penyamaran itu membuatnya trauma makan dengan tangan gemetar selama berbulan-bulan. Tapi dari situ juga, ia belajar: kadang, untuk membongkar sesuatu yang besar, seseorang harus rela jadi kecil... bahkan tak terlihat.

CriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang