Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam-malam setelah kejadian itu, Ginara tak bisa tidur dengan tenang. Wajah Arzhel selalu hadir dalam ingatannya—bukan sebagai kriminal, tapi sebagai seseorang yang pernah duduk di sampingnya sambil merapikan selimut, yang mengajarinya cara bermain catur sambil ngedumel, yang diam-diam memasukkan catatan kecil penuh pujian ke dalam tasnya.
Ia tahu itu semua tak bisa membenarkan kejahatan yang Arzhel lakukan. Tapi perasaan bersalah itu tetap membekas. Ia pernah pura-pura mencintai seseorang... lalu lupa memisahkan mana pura-pura, mana yang sungguhan.
Semenjak misi itu, Ginara belajar untuk menjaga jarak lebih tajam, lebih kaku. Ia tak pernah lagi membiarkan misi menyeretnya ke dalam konflik hati. Tapi kini, saat Jevaro muncul dengan misteri dan tatapan penuh teka-teki… instingnya kembali diuji.
“Gin, lo yakin kuat untuk tugas yang sekarang?” tanya Jegar waktu itu, setelah Ginara ditunjuk jadi mata-mata untuk mengamati Jevaro.
Ginara hanya tersenyum tipis. “Gue nggak perlu kuat. Gue cuma perlu sadar diri. Kalau sampai perasaan lagi yang main, habis sudah.”
Namun kini, setiap kali Jevaro memanggilnya dengan suara rendah dan datar, menyodorkan secangkir kopi hangat, atau menahan pintu saat ia lewat, Ginara merasa pertahanannya bergeser satu demi satu. Perlahan, tapi nyata.
Dan itu menakutkan.
Lebih dari peluru, lebih dari ancaman terbuka—rasa bersalah yang dulu bisa kembali hadir. Membuatnya bertanya: Apakah kali ini, ia cukup kuat untuk tidak mengulang kesalahan yang sama? Atau... takdir sengaja mempertemukannya lagi dengan ujian yang belum benar-benar selesai?
Hukuman akhirnya dijatuhkan setahun setelah penangkapan itu.
Ginara menyaksikan sidang terakhir Arzhel dari bangku pengunjung, menyamar sebagai salah satu jurnalis lokal. Rambutnya disanggul, wajahnya tertutup masker, tapi matanya tak bisa bohong—bergetar saat mendengar vonis yang dibacakan hakim.
“Hukuman mati.”
Arzhel, yang duduk di kursi terdakwa dengan borgol dan seragam tahanan, tak menunjukkan reaksi berarti. Ia hanya mengangkat kepalanya pelan, menatap lurus ke arah pengunjung sidang. Dan entah bagaimana, matanya langsung menemukan Ginara di antara kerumunan.
Tatapan itu tak menyimpan marah, juga tak menyimpan tanya. Hanya sunyi—seperti seseorang yang akhirnya menerima bahwa kepercayaannya telah dipermainkan oleh tangan lembut yang ia kira tulus.
Setelah itu, Arzhel hanya menunduk, diam. Seolah dunia tak lagi penting untuk dilihat.
Ginara keluar lebih dulu. Di toilet pengadilan, ia membuka masker dan menangis untuk pertama kalinya sejak masuk dalam misi itu. Bukan karena penyesalan yang jelas, tapi karena luka samar yang tumbuh diam-diam: ia telah mematahkan hati seseorang… dan kali ini, hatinya sendiri ikut retak.
Malamnya, di kamar apartemennya yang dingin dan sepi, ia menulis catatan:
_"Aku bukan korban, bukan pahlawan, bukan juga penjahat. Tapi aku tahu pasti—aku tidak ingin jatuh cinta lagi pada pria yang seharusnya kutangkap."_