Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keesokan harinya, sebuah dokumen tiba di meja Ginara. Berisi laporan penyelidikan lama yang baru dibuka ulang. Nama Rama muncul dalam catatan penyelundupan manusia, senjata, dan organ—semua terhubung dengan jaringan internasional. Laporan itu juga menyebutkan tempat baru: sebuah rumah sakit ilegal yang digunakan sebagai tempat perdagangan organ.
Ginara langsung menghubungi Jegar.
“Gue butuh lo selidiki rumah sakit di perbatasan barat kota. Ada kemungkinan itu jadi markas operasi Rama.”
Suara Jegar terdengar berat. “Lo yakin? Tempat itu di luar yurisdiksi kita.”
“Gak peduli. Kita gak bisa nunggu legalitas sementara orang-orang dibantai,” jawab Ginara cepat.
“Gue akan cari akses ke sana,” Jegar mengalah.
Setelah telepon ditutup, Ginara berdiri dan menatap papan dinding tempat ia menempelkan seluruh bukti yang mereka kumpulkan.
Foto-foto korban. Sketsa wajah Rama. Jalur distribusi senjata. Lokasi markas. Dan... foto Jevaro.
Seketika dadanya sesak. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Tapi pikirannya dipenuhi suara.
"Lo harus milih, Gin. Misi atau hati lo."
---
Di sisi lain kota, Rama berdiri di depan jendela markas barunya. Ia memandangi layar yang menampilkan pergerakan Jevaro dan Ginara dari drone kecil yang disusupkan ke dekat tempat persembunyian mereka.
Seorang pria mendekat. “Rencana selanjutnya, Tuan?”
Rama tersenyum. “Hancurkan kepercayaan mereka. Tanpa kepercayaan, bahkan cinta bisa jadi senjata.”
---
Malam itu, Ginara kembali ke tempat Jevaro. Tapi sesuatu berbeda. Jevaro terlihat gugup, bahkan sedikit menjauh.
“Var? Lo kenapa?”
Jevaro menatapnya, ragu. Lalu menyerahkan sebuah amplop.
“Ada orang ninggalin ini di luar,” katanya. “Buat lo.”
Ginara membuka amplop itu. Di dalamnya, ada foto dirinya dan Jevaro—dari jauh, saat mereka mencuri waktu berdua. Tapi yang membuatnya tercengang adalah pesan di baliknya.
"Berapa lama lo pikir dia bakal setia, Gin? Tanyakan siapa yang bocorin operasi Pelabuhan."