SCARED

148 7 0
                                        

Sementara itu, di kantor polisi, Juan sedang mengetik laporan harian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sementara itu, di kantor polisi, Juan sedang mengetik laporan harian. Ia membuka folder rahasia berisi data Jevaro, lalu mendesah. “Nih orang nggak bisa diremehkan. Gigi harus hati-hati.”

Di layar monitor ada satu catatan merah: 
“Target diduga mengetahui penyamaran. Kemungkinan menguji agen.”

Juan segera mengirim pesan ke Ginara:

[22.17] Juan
“Gigi, hati-hati. Ada kemungkinan dia udah sadar. Jangan gerak sendiri.”

Ginara membaca pesan itu di balik dapur. Ia menarik napas panjang, menyimpan ponselnya kembali, lalu melangkah keluar seperti biasa.

Langkahnya tenang.

Tapi sekarang, permainannya bukan lagi sekadar penyamaran.

Kini dia sedang berada di medan yang lebih rumit dari misi mana pun: kepercayaan… dan mungkin, perasaan.

Malam mulai turun sepenuhnya saat Ginara keluar dari pintu samping kafe. Suara kota mulai meredup, menyisakan deru kendaraan yang sesekali lewat dan lampu jalanan yang menerangi trotoar kosong. Bahunya agak pegal, langkahnya pelan… dan pikirannya penuh.

Tapi langkahnya langsung terhenti saat melihat sosok berdiri memeluk tas kecil di depan pagar kafe.

“Wilona?” desis Ginara, terkejut.

Wilona menoleh cepat, wajahnya campuran antara kesal, bingung, dan sangat penasaran. “Kak Gigi!” serunya pelan tapi penuh tekanan. “Aku udah nunggu dari tadi! Kamu kenapa sih bisa kerja di sini? Aku kira kamu lagi… ya, tugas-tugas gitu… di kantor!”

Ginara buru-buru menarik tangan Wilona dan menggiringnya ke gang kecil di samping kafe sebelum ada yang mendengar. “Jangan ngomong keras-keras. Lo mau misi gue gagal?” bisiknya, tajam tapi tetap lembut.

Wilona manyun, tapi menurut. “Tapi aku bingung, Kak. Kamu tuh polisi… kok jadi barista?”

Ginara menatap sepupunya dalam-dalam, lalu menghela napas. “Karena gue lagi nyamar, Wil. Ada orang yang harus gue deketin… dan dia bukan orang biasa. Ini serius.”

Wilona mengangguk pelan, matanya melembut. “Terus… kamu nggak takut ketahuan?”

“Selalu. Tapi gue udah dilatih buat ini,” jawab Ginara, sedikit tersenyum walau letih mulai terasa.

Wilona diam sejenak, lalu bertanya hati-hati, “Itu cowok yang tadi, yang duduk di pojok... dia targetnya?”

Ginara tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap ke arah kafe yang lampunya baru saja dipadamkan dari dalam. Suasana hening sejenak.

“Gue nggak bisa jawab sekarang,” ucapnya akhirnya. “Tapi yang jelas… gue harus tetap fokus.”

Wilona mengangguk, lalu menggenggam tangan Ginara. “Ya udah, Kak. Aku nggak akan cerita ke siapa-siapa. Tapi hati-hati, ya. Soalnya… aku lihat tadi dia juga suka liat kamu.”

CriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang