DYING FIRE

26 8 0
                                        

Hening menyelimuti atap gedung tua tempat Ginara berdiri, rambutnya tergerai ditiup angin malam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hening menyelimuti atap gedung tua tempat Ginara berdiri, rambutnya tergerai ditiup angin malam. Lampu-lampu kota berpendar jauh di bawah sana, seperti bintang yang merayap naik dari bumi. Tapi tidak ada yang bisa menyinari api kecil yang nyaris padam di dalam dadanya.

Ia memejamkan mata. Di belakang kelopaknya, wajah Jevaro muncul—marah, bingung, tapi juga takut. Takut kehilangan dia.

Langkah kaki di belakang membuat Ginara membuka mata.

“Ngapain lo di sini sendirian?” suara Jevaro pelan, tapi menusuk tajam ke dalam diamnya.

Ginara tidak menoleh. “Kadang... kita butuh sunyi buat mikir, Jev.”

Jevaro mendekat, lalu berdiri di sampingnya, sama-sama menatap langit. “Tapi kadang sunyi itu justru ngebakar kita pelan-pelan.”

Ia menoleh ke Ginara. “Lo terbakar, Ra. Dan gue takut nggak bisa nyelametin lo tepat waktu.”

Ginara menatap mata lelaki itu. Ada ketulusan di sana. Tapi juga luka. Luka yang belum sembuh sejak kehilangan ayahnya... sejak darah pertamanya tercecer di jalan saat memilih hidup di dunia kriminal demi balas dendam.

“Kita sama-sama terbakar, Jev. Bedanya... lo terbakar karena masa lalu lo. Gue karena keputusan hari ini.”

Jevaro mendekat. “Kalau begitu, kita selamatin satu sama lain. Nggak usah bakar sendirian.”

Ginara menahan napas. Jarak di antara mereka terlalu dekat. Dan untuk pertama kalinya, ia tak ingin menjauh.

Namun sebelum ada yang bisa berkata lebih, suara notifikasi dari alat komunikasi di pinggang Ginara berbunyi keras.

Dia menjauhkan diri, meraih alat itu. Suara Jegar terdengar—terputus-putus, cemas.

“Ginara... Jevaro... kita dapet laporan... Rama lagi gerakin transaksi besar. Tapi... ini bukan barang biasa. Ada dokumen rahasia ikut dibawa. Nama kalian ada di daftar incaran mereka.”

Ginara membeku. Jevaro mengepalkan tangannya.

“Kalau benar, ini bukan soal senjata lagi. Tapi soal penghancuran sistem... dan kalian bisa jadi target utama.”

Jevaro mengambil alat itu dari tangan Ginara. “Kirim koordinatnya. Kita berangkat.”

Setelah sinyal dimatikan, Ginara memandang Jevaro. “Kita?”

Jevaro mengangguk. “Gue nggak bakal ninggalin lo. Lagi.”

---

Gudang itu gelap. Terlalu sunyi untuk tempat sebesar itu. Tapi bau bensin dan logam memenuhi udara, menandakan adanya aktivitas berat beberapa jam terakhir.

Ginara menyusup masuk lebih dulu. Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara. Di belakangnya, Jevaro mengawasi punggungnya—senjatanya terangkat, siap menembak kapan saja.

CriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang