FINAL ENCOUNTER

80 10 1
                                        

Udara malam terasa berat, seperti menyimpan rahasia kelam yang sebentar lagi akan meledak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Udara malam terasa berat, seperti menyimpan rahasia kelam yang sebentar lagi akan meledak. Langit mendung menggantung rendah, seolah ikut menahan napas menunggu tragedi yang tak terhindarkan.

Ginara berdiri di seberang bangunan tua yang tampak sepi. Ia mengenakan jaket hitam panjang, menyamarkan siluet tubuhnya dalam kegelapan. Hujan tipis mulai turun, membasahi wajahnya, namun tidak memadamkan nyala tekad di matanya. Nafasnya pelan, teratur, meski dadanya dihantam gelombang cemas yang sulit ditekan.

Dia tahu Jevaro berencana menyergap Rama malam ini. Tapi yang tak diketahui siapa pun—termasuk Jevaro—adalah bahwa Ginara telah lebih dulu menyusup ke lokasi. Bukan karena dia tak percaya Jevaro, tetapi karena ia tahu Jevaro sedang diliputi amarah yang bisa membutakannya kapan saja. Dan jika itu terjadi… Jevaro bisa mati.

"Gue nggak akan ngebiarin dia kehilangan arah," gumam Ginara pelan.

Langkahnya pelan namun pasti saat ia menyelinap masuk ke dalam gedung tua yang sepi itu. Ruangan demi ruangan dia telusuri, hingga suara langkah berat di ujung lorong membuatnya berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dia mengenal suara itu—berat, dingin, dan penuh kebencian.

Rama.

Dia muncul dari balik pintu logam tua, mengenakan mantel gelap dengan tangan menyelip ke balik sabuk celananya. Wajahnya tetap sama seperti terakhir Ginara melihatnya—tak ada penyesalan, tak ada perubahan.

“Ginara...” suara Rama terdengar hampir sinis. “Gue kira lo sudah mati waktu itu.”

Ginara berdiri tegak. “Sayangnya belum. Tapi malam ini, mungkin lo yang bakal.”

Rama menyeringai, lalu perlahan melangkah mendekat. “Datang sendirian? Berani juga lo.”

"Gue nggak datang untuk bernegosiasi. Gue datang untuk mengakhiri semuanya."

Rama tertawa kecil. “Lo selalu terlalu mulia. Itu kelemahan lo.”

Tanpa aba-aba, Rama tiba-tiba bergerak cepat. Tangan kanannya menyambar ke balik sabuknya, menghunus pisau pendek berlapis baja. Ginara langsung mundur selangkah, menghindar, tapi Rama lebih gesit dari yang ia perkirakan. Dalam satu gerakan cepat, pisau itu meluncur dan menggores bagian pinggang kanan Ginara.

"Akh!" seru Ginara tertahan, tubuhnya terhuyung.

Darah langsung mengalir, membasahi sisi jaketnya. Tapi ia masih bertahan. Rasa sakitnya menusuk, tapi dia tidak bisa jatuh. Bukan sekarang.

Rama mencoba menyerang lagi. Kali ini Ginara berhasil menangkap pergelangan tangan Rama dan memutarnya ke belakang. Mereka saling dorong, bertarung dalam jarak dekat yang brutal. Tapi Rama lebih kuat, lebih kejam, dan lebih nekat.

Dalam perebutan kekuatan, tubuh Ginara terdorong ke belakang dan... BRAKKK!

Kepalanya menghantam dinding beton yang keras.

CriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang